Ruang rahasia, Apartemen Hannam The Hill. 10:04pm.
‘Apa mereka adalah orang yang sama?’
Itu adalah pertanyaan yang terus berputar-putar diotak Chris sejak tadi. Usai perdebatannya dengan Oscar tadi, mereka berdua beralih ke pembahasan mengenai orang misterius yang dilihatnya dan Yoongi kemarin malam.
Jelas sekali orang itu memiliki maksud tertentu, tapi sekarang itu bukanlah hal penting. Yang terpenting disini adalah, apa maksud mereka melakukannya? Siapa mereka? Dan, mengapa harus ia dan Yoongi?
Sedikit banyak, instingnya berkata bahwa orang itu sudah mengetahui identitasnya. Tapi, apa mungkin? Disaat namanya bahkan tidak tertulis dalam buku keanggotaan CIA mengingat dirinya dan Oscar hanyalah anggota bayaran?
Memikirkannya membuat otak Chris serasa seperti tengah dibakar, membuat Chris mengerang frustasi. Karena demi apapun! Otaknya benar-benar buntu! Ia sama sekali tidak memiliki jawaban atas semua pertanyaan yang terus melintas dibenaknya.
Suara pintu menarik Chris kembali ke dunia nyata, ia menoleh kearah pintu secara refleks. Oscar disana, baru saja selesai membersihkan diri jika dilihat dari rambutnya yang basah.
“Ada apa?” Oscar bertanya, sejak pagi tadi Chris memang terlihat murung. Mungkin Chris bisa menyembunyikannya dengan baik, tapi Oscar tidak cukup bodoh untuk tau, sahabatnya itu sedang gelisah karena suatu hal.
Sementara Chris sendiri mematung, otaknya tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Melihat Chris yang nampak linglung, Oscar kembali bicara, “Hey, dude. Ada masalah? Or in a bad mood?”
Chris menggeleng pelan, masih menimbang apakah ia harus memberitahu Oscar atau tidak. Sedang Oscar masih menunggu jawabannya dengan sabar, meski sorot mata datarnya sama sekali tidak berubah.
“Hahh..begini,” Chris memutuskan, “A-Yoongi melihat seseorang yang mencurigakan saat tawuran kemarin malam, dan.... umm, ada seseorang mengikutiku ketika aku menuju tempat tawuran itu.”
Oscar yang mendengarnya mengangkat satu alisnya, sorot mata datar itu hilang, berganti dengan sorot mata serius, “Ceritakan detailnya padaku. Semuanya.”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kamar tamu, Kim’s Mansion. 08:08pm.
Kini, Yoongi sedang merenung di kamarnya. Kepalanya benar-benar pusing mengingat perkataan Chris dan Oscar beberapa hari yang lalu. Awalnya ia sama sekali enggan memikirkannya karena dirasa terlalu berlebihan.
Namun mengingat kejadian kemarin membuatnya mau tak mau memikirkan perkataan Oscar saat itu. ‘Kami merasa kalian memiliki sesuatu yang mereka inginkan, tapi kami tidak tahu apa itu,’ kepalanya kembali memutar perkataan Oscar saat itu.
‘Apapun itu, pastilah sesuatu yang besar dan menjanjikan mengingat mereka memilih kalian dibanding anak konglomerat lain yang jauh diatas kalian.’ Lagi. Hah.. seluruh teori itu membuat kepalanya ingin meledak saja.
Yoongi mendesah kasar, ia menengok kearah jendela yang menyajikan pemandangan daun yang berguguran. Saat ini memang musim gugur. Namun entah kenapa, Yoongi merasa ini akan menjadi musim gugur terburuk baginya.
Knock...knock...
“Hyeong? Boleh aku masuk?”
Suara ketukan pintu yang terdengar tiba-tiba membuat Yoongi mendengus kesal, hendak memaki sebelum suara yang sangat ia kenali terdengar. “Masuk saja,” meskipun Yoongi berusaha untuk menyembunyikan kekesalannya, tetap saja nada ketus terdengan dari jawabannya.
Ceklek
“Hyeong, apa aku mengganggu?” Namjoon, si pelaku pengetukan pintu langsung bertanya, meminta konfirmasi kalau Yoongi tidak terganggu dengan kehadirannya. Maklum, Yoongi selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk menulis lagu. Kapanpun itu, jika ada kesempatan ia akan memanfaatkannya. Jadi jangan heran jika ia selalu membawa buku lirik dan bolpoin di tasnya.
“Tidak, ada apa?” suara Yoongi kembali terdengar. Tangannya melambai, mengkode Namjoon untuk mendekat.
“Eumm... aku, sebenarnya... inginmemintamaafkarenakelakuankutadi.” Mendengar perkataan Namjoon yang luar biasa cepat membuatnya mengangkat satu alisnya, memandang Namjoon penuh tanya.
“.......Kau bilang apa?”
“Eumm.... itu.... aku i-ingin m-mint-ta m-maaf k-karen-na k-kelak-kuank-ku eum.... t-tadi.” Namjoon kembali mengulang kalimatnya takut-takut. Hilang sudah wibawa dan keangkuhannya sebagai leader geng mereka, bagaimanapun Yoongi tetaplah lebih tua darinya, tak sepantasnya ia membentak Yoongi seperti tadi.
Tidak tahu saja di depannya Yoongi tengah mendengus kesal. Ayolah, sebenarnya apa yang ingin Namjoon katakan padanya? Tadi Namjoon mengatakannya dengan cepat hingga Yoongi tak bisa menangkap maksud ucapannya. Sekarang Namjoon malah seperti bayi yang baru saja belajar bicara, terlalu lambat dan terbata. Namjoon ingin mengerjainya atau apa?
“Apa yang sebenarnya kau katakan, Kim Namjoon?! Jika kau hanya ingin membuatku kesal, maka pergilah! Aku punya hal yang lebih penting dari ini dan kau membuang waktuku!” Seru Yoongi sembari memijit pelan pangkal hidungnya. Batinnya sibuk mengabsen seluruh penghuni kebun binatang. Yoongi benar-benar merasa umurnya mengganda.
T.B.C
Hello~
I'm back!
Aku gatau lusa bisa up kaya biasa atau nggak, belakangan ini mood-ku buruk banget ㅠㅠ
Kalo gak kena writers block ya sibuk nugas. Jadinya mood-ku terjun bebas.
Ada saran biar gak kena writers block? :" aku stuck banget.
Jadi mungkin aku bakal libur up dulu lusa, dan bakal double up lusa setelahnya.
Gimana?
KAMU SEDANG MEMBACA
EPOCH | VMON Brothership
FanfictionKim Taehyung hanyalah seorang nerd yatim piatu yang tidak jelas asal usulnya. Main cast: Kim Taehyung as Oscar Armstrong a.k.a V Park Jimin as Christian Park a.k.a Je Min Yoongi a.k.a Suga Kim Namjoon ✔Brothership
