Norhall Hospital, London. 30 Desember 1995.
“Oeeekkk Oeeeekk.....”
Suara tangis bayi memenuhi rungu seorang pria dewasa yang kini tengah menunggu dengan cemas. Kelegaan besar dirasanya setelah mendengar suara tangis sang anak bungsunya.
Dia sontak berdiri dengan senyum sumringah, menatap kearah pintu menunggu kemunculan sang dokter. Bertanya apakah istri dan putra bungsunya baik baik saja, sebelum kemudian berlari masuk menemui istrinya.
Kelegaan yang dirasakannya bertambah besar kala mengetahui sang istri tengah berbincang dengan salah satu suster yang menanganinya. “Sweetheart,” panggilnya lembut, melebarkan senyumnya saat sang istri menoleh.
“Kau terlihar menakutkan,” ejek sang istri yang kini terngah berusaha keras menahan tawanya. Dengan perlahan, ia menepuk pelan ranjang pesakitannya. Meminta sang suami untuk duduk.
“Ada apa, Sweetheart?”
Sang istri tersenyum, “Hanya tidak sabar melihat putra bungsu kita, Leon.” Mendengar perkataan sang istri membuatnya terkekeh ringan. Dengan perlahan membawa tubuh sang istri dalam rengkuhannya.
“Dia tampan, seperti aku dan kakaknya,” jawaban Leon membuat sang istri melepaskan pelukannya dan mulai mengomel.
“Bagaimana kau seyakin itu? kau bahkan belum sempat melihatnya,” kali ini Leon tertawa terbahak-bahak sebelum mulai menjelaskan tentang bibit unggulnya dan membuat sang istri terkekeh.
Suasana ruang persalinan itu terasa hangat dengan tawa mereka berdua. Hingga suara kepanikan di luar masuk ke rungu mereka, diiringi seorang suster yang memberitahukan sebuah berita yang mampu membuat mereka gelisah dan cemas.
“APA MAKSUDMU?!” Leon berteriak marah. Ia lantas bergegas keluar tanpa menunggu jawaban si suster. “Jaga istriku,” dan setelah itu, sosoknya langsung menjauh menuju ruangan bayi.
Leon berlari secepat mungkin, mulutnya komat-kamit sejak tadi, berdoa bahwa semoga putra bungsunya baik-baik saja. Namun, ia hanya bisa mematung kala melihat sosok berpakaian serba hitam melompat ke helikopter yang pakir di luar jendela ruangan bayi itu. Leon berlari mendekati jendela, matanya menerawang mengikuti pergerakan helikopter yang perlahan terlihat semakin mengecil. Dalam keterdiamannya, mulutnya bergumam, “Scyler.”
Leon berjalan gontai menuju ruang persalinan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi sang istri kala mengetahui putra mereka telah diculik. Leon kembali mendesah kasar, ia dan sang istri bahkan belum sempat melihat wajah sang anak. Dalam hati, ia berjanji akan menghabisi kelompok mafia yang sudah menculik putranya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebuah castle, Ely, Inggris. 09:02am.
Leon mendesah kasar, hatinya sakit setiap kali mengingat hari itu. Hari dimana ia kehilangan putra bungsunya sekaligus awal dari penderitaan sang istri hingga terbaring lemah seperti sekarang.
“Bukankah itu berarti, ada kemungkinan bahwa putra bungsumu, Vincent Werthingham, masih hidup, bukan begitu?”
Tiba-tiba ia teringat perkataan Lucca. Meski terdengar mustahil, perkataan Lucca ada benarnya. Belum menemukan jejak putranya bukan berarti putranya sudah meninggal. Tidak menutup kemungkinan jika putranya masih hidup dan tumbuh dewasa. Mengeratkan genggaman tangannya sembari melihat wajah sang istri, Leon berjanji untuk menemukan putranya hidup atau mati.
Mengambil keputusan, tangannya bergerak cepat mengetik sebuah nomor di ponselnya sebelum terdengar nada sambung di ujung sana.
“Cari tahu anggota Scyler yang berhasil melarikan diri dari kelompoknya. Temukan dan bawa dia padaku.”
“Dilaksanakan, Yang Mulia.”
Telepon itu diakhiri sepihak oleh Leon, mata abunya menerawang jauh. Berharap kali ini, ia bisa menemukan bayi kecilnya yang telah lama hilang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Apartement, 09:02am
Manik berbeda warna itu perlahan terbuka, mengerjap beberapa kali sebelum memandang bingung sosok yang tengah memandangnya. “Sudah baikan?” sosok itu berucap, sedikit menyingkirkan helai pirang yang menutupi pandangannya.
“Dia sudah sadar, Noah?”
Suara lain ikut bertanya dan ditanggapi Noah dengan anggukkan. Oscar berusaha untuk menyingkirkan rasa pusing dikepalanya sebelum kasur disebelahnya terguncang seakan seseorang baru saja menghempaskan diri ke sana. Mendengus pelan ketika mengetahui siapa pelakunya, Oscar mengibaskan tangannya, tanda agar si penyebab guncangan untuk menyingkir dari sana.
“Hei, Park! Menyingkirlah, bodoh! Kau membuatnya kesakitan!” Itu Noah, yang jengah akan ketidakpekaan Chris yang sangat keterlaluan. Bagaimana mungkin ia tidak bisa mengerti bahkan dengan kode yang mudah seperti tadi? Noah benar-benar tidak mengerti kenapa Oscar memiliki sahabat yang sebodoh itu.
Sementara Chris yang merupakan pelaku guncangan tadi hanya menyengir bodoh. “Hehehe, maaf. Otakku terlalu penuh dengan kode komputer untuk tahu kode sederhana seperti tadi,” setelah berkata seperti itu ia kembali terkekeh, “ Lagipula Oscar sama sekali tidak marah,” jeda sebentar, “DAN AKU TIDAK BODOH!”
Chris pergi begitu saja setelah berteriak dengan suaranya yang melengking, kakinya dihentakkan ringan membuat Noah tertawa mengejek, “Jangan menangis yaa, adik kecil!”
“YAKK! BRENGSEK SIALAN!”
Tawa Noah semakin kencang, membuat adu mulut itu terus berlanjut. Tanpa menyadari kilat mata Oscar yang berbeda.
T.B.C
Halo? Udah hampir 6 bulan hiatus, ada yang kangen kah?
KAMU SEDANG MEMBACA
EPOCH | VMON Brothership
FanfictionKim Taehyung hanyalah seorang nerd yatim piatu yang tidak jelas asal usulnya. Main cast: Kim Taehyung as Oscar Armstrong a.k.a V Park Jimin as Christian Park a.k.a Je Min Yoongi a.k.a Suga Kim Namjoon ✔Brothership
