Mission 16. Singularity (2).

289 28 10
                                        

Apartement Hannam The Hill, Seoul. 07:55pm.

Oscar menggoyangkan gelas wine-nya, pandangannya menerawang jauh ke luar balkon apartemennya. Sudah berjam-jam dia duduk disana dengan sebotol wine yang hampir habis, namun sama sekali tidak berniat untuk masuk dan bergelung dengan selimutnya. Bibirnya sesekali menyesap alkohol yang berada di tangannya. Sejenak, memori itu mendadak melintas di kepalanya.

“Apakah seorang mesin pembunuh sepertimu pantas berekspresi, Sean?”

Berdecih, ia kembali menegak alkoholnya, memberikan rasa nikmat begitu merasakan cairan itu melewati tenggorokkannya. Kembali merenung, menggenggam erat gelas wine-nya seiring dengan ingatan itu kembali.

“Jangan tunjukkan emosimu, Sean. Takdirmu hanyalah untuk membunuh dan tunduk padaku.”

“Kau hanyalah seonggok sampah yang ku pungut, ingat itu. Hidupmu milikku, sekali lagi kau memberontak hukuman menanti.”

“100 Cambukan dan 10 besi panas. Berekspresi sedikit saja, hukumanmu bertambah dua kali lipat.”

“Habisi seluruh polisi itu, Sean. Jangan biarkan mereka menyentuhku.”

“Bukankah penghianat sepertimu pantas mati?”

“Kau itu hanya mesin pembunuh milik organisasi, berhenti bertingkah seakan kau manusia yang memiliki hak asasi.”

PRANGGGG

Gelas wine yang semula berada digenggamannya kini hancur berkeping-keping. Napasnya memburu, tangannya terangkat dan mulai menjambak rambutnya sendiri. Oscar mengerang, sekuat tenaga mencoba mengenyahkan ingatan itu dari otaknya. Dengan tertatih ia masuk ke kamarnya, mengambil kotak hitam di laci nakas, sebelum menyuntikkan cairan berwarna biru ke tubuhnya sendiri.

Selang beberapa menit, memori itu tak lagi muncul. Ia bangkit dan menaiki ranjang disebelah tempatnya jatuh terduduk tadi. Badannya terasa begitu lemas, ingatan tadi membuatnya marah dan takut pada waktu yang sama. Perlahan, mata dengan manik berbeda warna itu tertutup. Meninggalkan sosok berambut pirang yang tengah panik di depan pintu kamarnya.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Unknown place. 09:12pm.

“Kau sudah menemukan anak itu, N?”

Suara berat itu terdengar, membawa aura dominasi yang begitu kuat, membuat sesosok pria yang tengah berlutut di depannya merasa inferior tanpa sebab. Menghela napas, ia mencoba menetralkan detak jantung sebelum berkata, “Ya, Father. Mata-mata yang kita susupkan ke Bighit Academy berhasil mengambil sehelai rambutnya. Berdasarkan hasil tes DNA yang kita lakukan, dia benar anak kandung Leon Werthingham.”

Mendengarnya, si pemilik suara berat itu terkekeh, “Jadi benar, dia adalah anak kandung si idiot itu?” Menghisap rokoknya sebelum melanjutkan, “Menarik.”

“Jadi, langkah apa yang harus kita ambil selanjutnya, Father. Target kita benar-benar mewarisi kepintaran Leon Werthingham.” Sosok pria yang tengah berlutut itu pun kembali bersuara, menanti perintah apa yang akan keluar dari mulut bosnya.

“Tetap awasi dia, jangan lakukan tindakan gegabah. Sekarang keluar dari ruanganku.”

Pria itu sontak mengakhiri acara berlutunya, ia bangkit memberi hormat sebelum berbalik menuju ke arah pintu. Namun, ia langkahnya berhenti kala mengingat sesuatu. Lantas, ia berbalik, berjalan ketempan semula dan kembali berlutut.

Mengetahui sang Father tidak menyukai tindakannya ia buru-buru membuka suara, “Maaf, Father. Satu informasi yang hampir saya lupakan. Kami telah menyelidiki penyerangan 3 tahun lalu yang dipimpin oleh Albert Shaw.”

Sang Father mendecih, “Lalu?”

“Kami telah mengtahui identitas orang yang hampir membunuh anda saat itu, Father.” Pria itu berhenti sebentar, sengaja memberi jeda sebelum melanjutkan perkataannya ketika mendengar sang Father bertanya siapa orang yang dimaksud, “Ia adalah orang yang melarikan diri dari Anda 5 tahun yang lalu dan dikabarkan telah meninggal, Sean Kim.”

Sedetik kemudian, suara tawa sang Father memenuhi ruangan itu. Amarahnya bangkit saat mengetahui fakta itu. Perlahan suara tawa itu terganti dengan kekehan sinis yang keluar dari mulutnya, “Sean? Tch, mesin pembunuh itu sudah berani melawanku, ya?”

“Cari tahu identitas apa yang mesin pembunuh itu gunakan sekarang. Aku ingin informasi tentangnya ada ditanganku besok pagi, sekarang keluar.” Dan dengan peritah itu, N membungkuk pamit sebelum keluar dari ruangan itu.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Sebuah castle, Ely, Inggris. 11:23pm.

“Pangeran Leon.”

Suara itu membuat sosok yang tengah memandang keluar jendela castle menoleh. Sosok itu kemudian tersenyum ramah setelah melihat orang yang memanggilnya barusan, “Lucca? Tak ku sangka itu kau, lama tak bertemu. Apa ada sesuatu hingga kau datang kesini?”

Sementara orang yang dipanggil Lucca hanya tersenyum, sedikit kagum pada rupa sahabatnya yang malah bertambah tampan meski umurnya sudah tua. “Hanya berniat mengunjungimu, Leon. Bagaimana kabar Elle? Dia baik-baik saja, kan?”

“Sebaliknya, Lucca,” Leon memasang senyum miris, “Keadaannya terus memburuk, terlebih anak bungsu kami yang diculik masih belum ditemukan, itu membuat keadaannya semakin memburuk.”

“Anak bungsumu? Vincent maksudmu? Bukankah para mafia itu mengatakan kalau mereka sudah membunuhnya?”

“Yeah, aku juga sudah mengatakan hal yang sama pada Elle,” Leon berhenti sejenak, sengaja menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi Lucca, “ Tapi ia tidak mempercayainya. Dia bilang Vincent belum mati dan menyuruhku mencarinya.”

Lucca terdiam, meski dalam hati ia memaklumi permintaan Elle. Bukankah ibu memiliki insting yang sangat kuat jika menyangkut anak mereka? Hanya saja dari waja sendu Leon, ia dapat menemukan bahwa sampai detik ini tidak ada satu kemajuan pun dalam pencarian putra bungsu sahabatnya.

“Bukankah itu wajar? Seorang ibu memiliki insting yang sangat kuat terhadap anaknya.” Lucca akhirnya mengatakan opininya setelah hening memenuhi ruangan itu selama beberapa menit.

Sementara Leon yang mendengarnya tersenyum miris, “Tidak ada kemajuan apa pun tentang Vincent, Lucca. Putraku, dia seperti menghilang ditelan bumi.” Yang dikatakannya memang benar, meskipun ia sudah  mencari Vincent ke seluruh dunia, sama sekali tidak ada bukti bahwa anaknya masih hidup.

“Apa kau menemukan data seorang bayi baru lahir yang mati dalam rentang waktu penculikan Vincent hingga pernyataan anggota  mafia itu? Setidaknya di negara yang pernah mereka jejaki,” Lucca kembali bertanya, bukan hal mustahil jika salah satu diantara bayi yang mati itu Vincent, kan?

Leon menggeleng, “Tidak. Hanya 6 negara yang di jejaki Scyller dalam rentang waktu itu, China, Jepang, Korea Selatan, Rusia, UK, dan Spanyol. Rata rata data orang yang telah meninggal disana adalah para orang tua dan bayi berusia 2 bulan keatas. Kau tau sendiri, bayiku masih berumur 1 bulan jika dihitung sampai pernyataan anggota mafia itu.”

“Bukankah itu berarti, ada kemungkinan bahwa putra bungsumu, Vincent Werthingham, masih hidup, bukan begitu?”

T.B.C

EPOCH | VMON BrothershipCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang