Mission 13. Danger.

226 35 2
                                        

Parent’s Room, Unknown Mansion. 07:43pm.

Sementara itu, di sebuah mansion mewah, seorang pria paruh baya nampak sedang menelepon seseorang dengan wajah luar biasa resah.

“Kau masih belum menemukan dia, Leon? Ray sudah mulai curiga, kuharap kalian berhasil menemukannya sebelum ingatan Ray kembali.”

‘Masih belum, Jae. Aku juga berharap seperti itu, tapi meskipun aku sudah mencarinya ke seluruh Korea, dia tetap tidak ditemukan. Istriku bahkan selalu menangis setiap malam, aku tidak tau harus bagaimana, aku benar-benar tidak tega melihatnya seperti itu.’

“Kau yakin dia ada di Korea, Leon? Mungkin saja mafia itu membuangnya ketempat lain.”

‘Aku yakin sekali. Kau ingat jika kelompok mafia itu hancur 2 hari setelah menculiknya? Mereka ditangkap oleh CIA di Korea, informanku tidak mungkin salah, Jae.’

“Ah ya, kau benar. Bersabarlah, yakinkan istrimu, dia pasti kembali.”

‘Terimakasih. Tolong jaga putraku, aku percaya padamu.’

“Tentu, aku akan menjaga Ray dengan baik. Jangan khawatirkan itu.”

‘Tutt....tutt...’

Mengetahui panggilan itu sudah terputus, sang istri berjalan mendekat. Menempatkan diri di hadapan suaminya sembari mendongak dan mengalungkan tangannya di leher sang suami. “Bagaimana, Jaehwan? Apa Leon sudah berhasil menemukannya?”

Jaehwan menunduk, menatap manik cerah istrinya sebelum memcium ranum manis sang istri. “Tidak ada kemajuan sama sekali, Sungji-ah. Aku merasa bersalah, padahal Leon sudah banyak membantu kita.”

“Apa maksudmu? Kau sudah melakukan yang terbaik. Kau sudah berusaha, sayangku. Jangan merasa bersalah karena berpikir kau tidak dapat membantunya.” Sungji menatap suaminya penuh cinta. Ia mengelus rahang tegas sang suami, berharap yang dilakukannya cukup untuk menenangkan prianya.

“Tapi aku memang bersalah. Leon sudah banyak membantu kita, bahkan berbaik hati membayarkan biaya melahirkan bayi kita meskipun berakhir gagal. Tapi aku? Bahkan ketika Leon kehilangan dia, aku tidak bisa apa-apa. Sedangkan dia malah mempercayakan Ray pada kita. Aku benar-benar merasa bersalah, Sungji-ah. Aku merasa tidak berguna menjadi sahabatnya.”

Sungji terdiam. Jaehwan benar, Leon sudah banyak membantu mereka, sangat banyak malah. Tapi mereka harus bagaimana? Tugas mereka hanyalah melindungi Ray dari incaran para mafia itu. “Kalau begitu, mari kita berikan lebih banyak kasih sayang untuk Ray. Setidaknya, meskipun kita bukanlah orang tua kandungnya, kita harus memastikan bahwa dia bahagia, memberikan kasih sayang kita, seluruh kebutuhan fisiknya, kebebasan dalam memilih. Bagaimana? Mari buat dia bahagia, sayangku.”

Seolah tersadar, Jaehwan yang awalnya menunduk murung pun mendongak. Ia memeluk istrinya, menciumi seluruh wajah istrinya dengan cinta. “Terimakasih untuk selalu menyemangatiku, menemaniku dan menyadarkanku di saat aku membutuhkanmu. I love you, istri tercintaku.”

I love you more, priaku.”

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Sebuah castle, Ely, Inggris. 09:23pm.

Dia sudah ketemu?”

Suara lemah lembut terdengar dari ujung sana, pria paruh baya itu nampak murung saat mendengarnya. Sesekali, ia menghembuskan napas berat. Pria itu mengusak rambutnya sarat akan frustasi, merasa marah akan takdir yang senang mempermainkannya.

“Belum, Elleanor terus menangis sejak tadi. Apa yang harus aku lakukan? aku takut Elle akan sesak napas lagi,” nada frustasi yang kentara membuat seseorang diujung sana sedikit banyak merasa sedih.

“Tenangkan dirimu, Pangeran Leon. Jangan panik, teruslah mencarinya dan tenangkan istrimu. Kau harus menenangkan dirimu sebelum memberikan kak Elle ketenangan. Hibur dia, kak.”

Pangeran Leon mendesah kasar, sedikit banyak membenarkan perkataan adiknya. Benar, ia harus tenang terlebih dahulu sebelum mencoba untuk menenangkan istrinya. Pangeran Leon mengumpat dalam batinnya ketika pikiran itu tidak mau hilang.

“Tapi-”

“Kak, dengar. Aku akan selalu berusaha membantumu, kau tetaplah kakakku bahkan meski kau sudah melepaskan tahtamu, kak. Tapi saat ini, satu-satunya usaha yang bisa kita lakukan adalah mencarinya.”

Benar, tahta. Ia melepaskan tahtanya 20 tahun yang lalu demi bisa menikahi wanita yang kini telah menjadi istrinya, dan menyerahkan tahtanya kepada adik perempuannya yang kini telah menjadi seorang ratu yang baik hati.

“Hahhh... kau benar, aku mengerti.” Menyerah, Pangeran Leon mencoba mengusir pikiran negatif yang tengiang di kepalanya dan menyemangati dirinya sendiri.

“Itu yang ingin kudengar darimu, kak! Apa orang kepercayaanku sudah datang padamu?” Yang disana kembali bertanya, suara lembutnya terdengar lebih ceria dibandingkan suaranya tadi.

“Sudah, aku menyuruhnya untuk memusatkan pencarian di Korea Selatan,” Pangeran Leon berujar mantap, ia benar-benar seperti memiliki ikatan dengan putra bungsunya. Seolah putranya itu memberitahunya jika ia berada di Korea Selatan.

“Kau yakin dia ada disana, kak?” Sang ratu bertanya memastikan, kedua kali dalam hidupnya mendengar kakaknya seyakin itu.

Dia putraku, Merlyn.”

“Baiklah, aku mengerti. Oh, tapi bukankah Korea Selatan sedang dalam pengawasan kelompok mafia?” ujar Merlyn, sang ratu, mendadak teringat tentang perkataan putra tunggalnya.

Mendengarnya, Pangeran Leon merasa ada sesuatu yang tengah memperingatkannya. Bahwa sebentar lagi ada hal besar yang akan terjadi. Dengan segala keterkejutannya, Pangeran Leon bertanya memastikan,

“Apa?”

T.B.C

Ada yang kangen?
Setelah sekian purnama aku balik lagi! Yeay!
Gak ngarep ada yang nungguin book ini sih...
Tapi ya udahlah ya.
Mulai hari ini aku bakal up seperti biasa, 2 hari sekali.
So, see u next chap!

EPOCH | VMON BrothershipCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang