Mission 10. Uhgood.

230 33 2
                                        

Kamar utama, Apartemen Hannam The Hill. 06:13am.

Chris memandang lekat keenam orang yang tengah tertidur pulas, ia mendengus kasar. Semalam ia harus menerima amarah Oscar karena pulang sembari membawa Bangtan Gang dan Noah dengan keadaan yang mengenaskan.

Kini Oscar terpaksa menyewa apartemen lain yang tak jauh dari apartemen mereka, hanya untuk bersembunyi dari member Bangtan. Oscar dan Chris sepakat untuk tetap merahasiakan misi mereka sebisa mungkin, kecuali jika member Bangtan sudah mulai curiga.

Asik melamun, Chris tidak menyadari bahwa salah satu member bangtan tengah terbangun. Bahkan orang itu kini menatap Chris dengan wajah bingung, “M-maaf?” Chris hampir saja menyemburkan latté-nya ketika mendengar suara itu.

Melihat orang itu berusaha menahan tawanya, Chris buru-buru menetralkan keterkejutannya. “A-ah ya? Kau sudah sadar?” Chris sedikit berbasa-basi. Tanpa menimbulkan kecurigaan, ia meraih ponsel di samping sofa yang tengah didudukinya, kemudian menelepon Oscar secara diam-diam.

“Ah, ya. Begitulah. Ini...apartemenmu?” suara berat itu menyahut, sekaligus melemparkan pertanyaan yang ditanggapi dengan anggukan oleh Chris. Seokjin, Hoseok dan  Jungkook yang baru saja terbangun sibuk mengamati apartemen itu.

Tersenyum, “Lebih tepatnya rumahku dan salah satu temanku.” Jeda sebentar sebelum melanjutkan, “Sebaiknya kau tidak banyak bergerak, tusukan pisaunya lumayan dalam. Dan maaf karena mengganti pakaian kalian tanpa seizin kalian, pakaian kalian penuh dengan darah dan itu membuatku mual, jadi kuganti saja.”

Bohong. Mana mungkin Chris mual karena darah jika itu adalah makanan sehari-seharinya? Ia hanya mencoba mencari alasan yang tepat agar mereka percaya. “Kau yang menolong kami?” Seokjin bertanya, bersamaan dengan Noah yang baru saja terbangun.

“Ah ya, aku tak sengaja menemukan kalian terkapar penuh darah saat itu. Karena kasihan aku membawa kalian kesini untuk diobati oleh dokter pribadiku,” Chris
menjawab dengan tenang, kontras sekali dengan batinnya yang sibuk berteriak, memuji aktingnya sendiri.

Netra citrine-nya menatap kearah Yoongi yang entah kapan telah terbangun, memandang datar dirinya. Chris tersenyum, “Kalian beristirahatlah dulu, aku akan membuatkan sarapan untuk kalian. Dan Yoongi-ssi, benar? Bisa ikut aku sebentar?”

Kendati heran Namjoon dan ketiga temannya mengangguk, disusul dengan Yoongi yang mendesah kasar namun tetap beranjak mengikuti Chris yang sudah keluar dari ruangan itu.

Mereka berdua sampai di ruang rahasia, Chris menatap tajam Yoongi yang memandangnya datar. “Bagaimana bisa sampai seperti ini?” ia bertanya, mengundang kernyitan tidak suka dari sang lawan bicara.

“Apanya yang bagaimana? Bukan salahku hal ini terjadi. Tawuran adalah rutinitas Bangtan, aku tidak bisa mencegah mereka,” jelas sekali nada tidak suka keluar dari mulutnya. Enak saja! Siapa dia hingga berani menuduh Yoongi seenaknya begitu?

“Tap-”

“Dengar, Chris-ssi. Bukankah teman rekanmu juga terlibat? Kami hanya berusaha membantu mereka, dan sulit untuk tetap konsentrasi saat mereka mengeroyok sahabatku.”

Chris terdiam, sedikit ia merasa bersalah karena menyalahkan Yoongi seenaknya. Melihat reaksi Chris, Yoongi melanjutkan, “Lagipula, jika saja aku tidak melihatnya dan lengah, sahabatku pasti tidak akan terluka separah ini.”

“Melihatnya? Apa yang kau lihat?” Chris bertanya bingung, ia menatap Yoongi dengan pandangan bertanya. Sebelum ingatannya kembali ke malam itu, ketika ia mendengar jawaban Yoongi.

“Aku melihat sesorang memandang kearah kami, aku tidak bisa melihatnya karena ia berdiri cukup jauh dari tempatku saat itu.”

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

EPOCH | VMON BrothershipTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang