Hawa dingin udara malam Jakarta yang berembus di lounge terbuka lantai atas The Grand Hyatt seolah sirna dalam sekejap. Di antara kepungan dinding pilar marmer yang terlindung dari pandangan publik, jarak antara Shaqueilla dan Issa telah menyusut hingga nol. Napas Shaqueilla memburu, naik turun tidak beraturan seiring dengan degup jantungnya yang berdebar liar. Tatapan mata elang Issa yang begitu dominan dan penuh dengan kepemilikan seolah mengunci seluruh pergerakannya.
"Sa..." bisik Shaqueilla, berusaha mempertahankan sisa-sisa rasionalitasnya yang makin terkikis. "Kita nggak bisa kayak gini."
Issa tidak menjawab dengan kata-kata. Tanpa memberi ruang sedikit pun bagi Shaqueilla untuk berpikir atau menolak, jemari kokoh pria itu merapat di sekeliling pergelangan tangan Shaqueilla. Genggamannya hangat, mantap, dan tidak membiarkan adanya ruang untuk membantah. Issa menarik Shaqueilla dengan langkah-langkah lebar meninggalkan pilar marmer tersebut, menuntunnya menuju akses tangga darurat privat yang langsung terhubung ke pintu samping lobi VIP hotel.
"Issa, lepasin. Tas gue, gaun gue—" Shaqueilla setengah berbisik, berusaha menyeimbangkan langkah kaki berhak tingginya agar tidak tersandung di atas lantai mengilap.
"Gue yang pegang semuanya, Shaqui," potong Issa dengan suara bariton rendah yang datar namun mutlak. Tangan kirinya dengan santai membawa tas Hermes Kelly 20 milik Shaqueilla, sementara tangan kanannya menggenggam jemari gadis itu tanpa mengendur sedikit pun.
Di lorong VIP yang sepi, seorang pengawal pribadi dan sopir pribadi Issa sudah bersiap di samping Rolls-Royce Phantom hitam dengan mesin yang telah menyala halus. Begitu melihat sang bos berjalan cepat membawa seorang wanita bergaun hijau zamrud, sopir tersebut dengan sigap membukakan pintu belakang tanpa berani menatap mata kedua orang itu.
Issa mendesak Shaqueilla masuk ke dalam kabin penumpang yang luas dan beraroma kulit mahal, sebelum dia sendiri ikut masuk dan menutup pintu dengan dentuman berat yang kedap suara.
"Ke The Langham. Penthouse," perintah Issa singkat pada sopirnya lewat kaca pembatas yang langsung terangkat dan memburam.
Di dalam kegelapan kabin yang hanya diterangi oleh temaram lampu langit-langit berdesain starlight, Shaqueilla mencoba merapikan selendang organza-nya yang agak berantakan. Dadanya masih kencang berhembus. "Lo bener-bener gila, Sa. Kalau ada kamera media atau orang kenalan yang ngeliat lo narik gue dari Hyatt—"
"Biarin," pangkas Issa cepat. Dia memutar tubuhnya menghadap Shaqueilla, memangkas jarak di antara mereka di atas kursi kulit empuk itu. Matanya menyala dalam kegelapan. "Gue udah cukup tahan diri selama empat jam di dalam ballroom itu, Shaqui. Gue capek pura-pura bersikap kayak orang asing di depan semua orang cuma demi formalitas konyol keluarga kita."
"Ini bukan cuma soal formalitas konyol!" suara Shaqueilla meninggi pelan, luapan emosi yang ditahannya seharian akhirnya meluap. "Ini soal lima belas tahun yang lo lewati di London tanpa kabar! Ini soal bagaimana kita harus berjuang membendung gosip orang-orang! Lo pikir gampang buat gue berdiri di sana, pakai jubah Dokter Prameswari gue, sementara semua orang nungguin gue jatuh atau kelihatan menyedihkan di depan lo?"
Issa menatap Shaqueilla dalam-dalam. Kemarahan, kelelahan, dan gairah yang tertahan selama belasan tahun tampak berkilat di mata wanita di depannya. Pria itu mengulurkan tangannya, merengkuh rahang Shaqueilla dengan lembut namun penuh penekanan.
"Gue nggak pernah ngebuka hati buat siapa pun di London, Shaqui. Nggak satu cewek pun," bisik Issa, suaranya sarat dengan kejujuran yang menghujam langsung ke dada Shaqueilla. "Setiap malam gue kerja sampai subuh cuma buat mempercepat waktu agar gue bisa balik ke Jakarta dengan posisi yang nggak bisa diganggu gugat sama siapa pun. Termasuk sama Papa atau Mas Raden. Gue balik buat lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumor Has It
FanfictionBagi lingkar sosial kelas atas Jakarta, perpisahan Shaqueilla Latisha Prameswari dan Issa Ghazafar Djojohadikusumo di hari kelulusan SMA lima belas tahun lalu adalah tragedi romansa terbesar dekade itu. Mereka adalah golden couple-sempurna, dipuja...
