Sinar matahari pagi yang menembus tirai kaca ruang dokter Kencana Medical Center menyebarkan pendar lembut di atas permukaan meja kayu ek. Bau wangi kelopak mawar putih yang baru saja diganti oleh petugas kebersihan terhirup segar, bercampur samar dengan aroma kopi hangat dari cangkir porselen milik Shaqueilla.
Shaqueilla duduk dengan postur tegak yang anggun. Dokter spesialis anak itu mengenakan blouse sutra berwarna off-white berkerah tinggi yang dipadukan dengan jas putih medis yang disetrika licin tanpa cela. Jemari tangannya yang lentik lincah menggeser berkas-berkas evaluasi medis pasien anak di layar iPad, sementara lengan bajunya yang sedikit terangkat memperlihatkan sebuah jam tangan koleksi langka yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Jam tangan itu adalah Patek Philippe vintage Ref. 2499 berbahan rose gold dengan tali kulit buaya berwarna cokelat gelap. Sebuah karya seni horologi klasik yang sangat subtil, bukan jenis jam berlian berkilau yang menyengat mata, melainkan penanda kemewahan tenang yang hanya dimengerti oleh segelintir kolektor kelas atas di dunia.
Pintu ruang praktik bergeser terbuka setelah ketukan dua kali. Labibah melangkah masuk membawa tablet di tangan kirinya dan segelas es kopi di tangan kanan. Raut wajah sahabatnya itu tampak tidak biasa—campuran antara takjub, panik, dan rasa penasaran yang meledak-ledak.
"Shaqui," panggil Labibah tanpa salam pembuka, langsung menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya dari dalam. "Lo harus lihat ini sekarang."
Shaqueilla mendongak, merapikan letak stetoskop berhiaskan hiasan beruang kecil yang tergantung di lehernya. "Kenapa, Bih? Ada hasil lab pasien yang abnormal?"
"Bukan hasil lab pasien, Shaqui! Ini soal lo!" Labibah berjalan cepat mengitari meja, lalu menyodorkan layar tabletnya tepat di depan wajah Shaqueilla. "Soal lo... dan Issa."
Jantung Shaqueilla berdesir pelan, namun riak di wajahnya langsung terkunci rapat dalam mode tenang khas Dokter Prameswari. "Issa? Ada apa lagi sama dia?"
"Lihat ini," Labibah menunjuk sebuah unggahan di platform media sosial dari akun pengamat mode dan kolektor jam tangan mewah terkemuka yang memiliki ratusan ribu pengikut dari kalangan high society dan pencinta horologi internasional. Akun itu bernama @Horology_Watchdog.
Unggahan tersebut menampilkan kolase dua foto beresolusi tinggi yang disandingkan secara presisi.
Di sisi kiri, terdapat foto tangkapan layar dari liputan majalah Forbes Indonesia saat Issa diwawancarai di kantornya dua hari lalu. Tangan kanan Issa yang sedang menopang dagunya memperlihatkan dengan sangat jelas sebuah jam tangan Patek Philippe Ref. 2499 vintage rose gold di pergelangan tangannya.
Di sisi kanan, terdapat foto dokumentasi resmi dari situs Kencana Medical Center yang diambil minggu lalu saat Shaqueilla memberikan sambutan di simposium medis anak. Di pergelangan tangan kiri Shaqueilla, terlingkar jam tangan yang persis sama.
Namun, bukan kembarannya bentuk jam itu yang membuat kolom komentar meledak.
Takarir di bawah unggahan tersebut tertulis dengan sangat detail dan tajam:
"A Match Made in Geneva?
Pengamat horologi kami menemukan detail mengejutkan dari dua figur paling berpengaruh di Jakarta saat ini: Issa Ghazafar Djojohadikusumo (COO Djojohadikusumo Group) dan Dr. Shaqueilla Latisha Prameswari, Sp.A.
Keduanya tertangkap kamera mengenakan Patek Philippe Perpetual Calendar Chronograph Ref. 2499 edisi sangat langka buatan tahun 1982. Hanya ada lima pasang di dunia yang diproduksi secara khusus sebagai 'Pair Set' dengan nomor seri mekanis berurutan.
Berdasarkan arsip lelang Christie's Geneva tahun 2018, pasangan jam tangan dengan nomor seri 868.104 (milik Issa) dan 868.105 (milik Shaqueilla) dilelang bersamaan kepada seorang pembeli anonim dari Eropa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumor Has It
Fiksi PenggemarBagi lingkar sosial kelas atas Jakarta, perpisahan Shaqueilla Latisha Prameswari dan Issa Ghazafar Djojohadikusumo di hari kelulusan SMA lima belas tahun lalu adalah tragedi romansa terbesar dekade itu. Mereka adalah golden couple-sempurna, dipuja...
