Bab 11: The Art of Subtlety

1.3K 102 2
                                        

Gerimis tipis mengguyur kawasan Menteng saat langit sore meredup menjadi keunguan. Di antara jajaran rumah-rumah tua bergaya art deco yang tersembunyi di balik pagar tanaman rambat yang rimbun, berdiri sebuah bangunan dua lantai tanpa papan nama mencolok. Hanya ada plat tembaga kecil berukir huruf latin minimalis di samping pintu kayu jati tebal yang hampir lapuk dimakan usia: Maison L'Ombre.

Tempat ini bukan jenis restoran yang akan muncul di daftar rekomendasi media sosial atau ulasan para influencer kuliner Jakarta. Maison L'Ombre tidak menerima reservasi publik; tempat ini beroperasi berdasarkan daftar ketersediaan tertutup yang dikelola secara privat oleh pemiliknya, seorang koki asal Prancis yang memilih pensiun dari panggung gastronomi internasional. Hanya ada lima meja yang tersebar di area taman dalam yang dinaungi pohon kamboja tua, menawarkan isolasi total bagi mereka yang membutuhkan ruang jauh dari sorotan kamera jurnalis atau bisik-bisik akun gosip kelas atas.

Sebuah sedan hitam tanpa stiker khusus atau atribut korporasi berhenti tepat di depan gerbang kayu samping restoran.

Shaqueilla melangkah keluar dari mobil, membenarkan letak selendang kasmir berwarna krem yang membungkus bahunya. Malam ini dia mengenakan terusan berbahan sutra tipis berwarna plum yang memeluk tubuhnya secara elegan. Rambutnya dibiarkan terurai bergelombang, memperlihatkan anting mutiara air tawar yang memberikan kilau lembut di bawah temaram lampu pagar.

Seorang pelayan pria paruh baya bersetelan kemeja hitam membukakan pintu kayu dengan senyum penuh pemahaman yang diskret. Tanpa bertanya, pelayan itu menuntun Shaqueilla menyusuri lorong berlantai batu alam menuju meja privat yang berada di sudut taman kaca bagian belakang.

Di sana, di bawah naungan dedaunan hijau dan pendar lilin dalam tabung kaca, Issa sudah menunggu.

Lelaki itu mengenakan kemeja katun bergaris halus berwarna abu-abu tua dengan dua kancing atas yang terbuka, membiarkan lengannya tergulung hingga pertengahan lengan bawah. Sebuah gelas kristal berisi air mineral berkarbonasi dengan irisan lemon berada di genggamannya. Ketika mendengar ketukan lembut sepatu hak tinggi Shaqueilla, Issa meletakkan gelasnya dan berdiri.

"Gue pikir lo bakal tertahan rapat evaluasi lagi di Kencana," kata Issa, suara baritonnya mengalun hangat, merobek keheningan taman kaca itu. Pria itu maju satu langkah, menarikkan kursi kayu untuk Shaqueilla.

Shaqueilla mendudukkan dirinya dengan anggun, menghirup wangi petrikor yang bercampur dengan aroma lilin aromaterapi kayu cendana. "Jadwal operasi sore ini selesai tepat waktu. Lagian, sopir lo pinter banget nyari jalur tikus di daerah Cikini buat menghindari kemacetan."

Issa kembali duduk di seberangnya, menopang siku di atas meja. Matanya menyapu wajah Shaqueilla dengan ketelitian yang selalu membuat dada wanita itu berdesir. "Lo kelihatan sedikit pucat, Shaqui. Masih kepikiran laporan medis pasien kemarin?"

Shaqueilla terdiam sejenak. Ibu jarinya mengusap permukaan taplak linen yang licin. Di dalam tasnya, dokumen rahasia mengenai aksi akuisisi saham Prameswari Corp yang dibacanya dini hari tadi masih membayangi pikirannya bagai awan hitam. Namun melihat tatapan hangat Issa—tatapan yang begitu bersih dari kalkulasi korporasi—Shaqueilla memutuskan untuk menyimpan kegelisahan itu di balik perisainya.

"Gue cuma agak lelah," jawab Shaqueilla lembut, mengulas senyum tipis. "Tapi atmosfer tempat ini bener-bener ngebantu. Kok bisa lo tahu ada tempat tersembunyi kayak gini di tengah Menteng?"

"Tempat ini milik teman lama Mas Raden waktu di Paris," Issa meraih botol anggur merah yang terendam dalam wadah pendingin, menuangkan sedikit cairan berwarna merah gelap itu ke gelas Shaqueilla. "Dia cuma terima tamu yang dia kenal secara pribadi. Nggak ada reservasi atas nama Djojohadikusumo atau Prameswari di buku tamu. Semua privasi dijamin mutlak."

Rumor Has ItCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang