Sinar matahari sore menembus dinding kaca simposium medis internasional yang diselenggarakan di ballroom lantai tiga Fairmont Jakarta. Ruangan yang didominasi warna keemasan dan cokelat hangat itu dipenuhi oleh ratusan tenaga medis profesional, jajaran direksi rumah sakit swasta, hingga investor bidang kesehatan. Alunan musik instrumental yang dimainkan dari sudut ruangan melebur dengan denting halus gelas jus serta perbincangan kasual seputar teknologi bedah terbaru.
Shaqueilla berdiri di dekat meja prapresensi, memegang segelas sparkling water dingin di tangan kirinya. Ia membalut tubuhnya dengan terusan midi berwarna koral pastel berpotongan lurus yang membingkai siluet tubuhnya dengan sangat manis, dipadukan dengan blazer putih tanpa kancing yang tersampir rapi di bahu. Rambut hitam tebalnya disanggul rendah yang agak longgar, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya.
Di hadapannya, berdiri Dokter Aris—seorang dokter spesialis bedah anak lulusan Universitas Harvard yang baru dua bulan bergabung dengan tim spesialis Kencana Medical Center. Aris memiliki postur tubuh yang cukup tinggi, atletis, dengan rahang bersih dan senyuman ramah yang mudah disukai siapa saja.
"Jadi, skema tindakan rekonstruksi pediatrik yang kemarin kamu usulkan di rapat komite medis itu benar-benar menarik, Shaqui," ujar Aris seraya menyunggingkan senyum hangat, memajukan tubuhnya sedikit agar suaranya tidak tertutup riuk perbincangan tamu lain. "Aku sempat baca jurnal pendukung yang kamu lampirkan. Pendekatan minim invasifnya sangat memangkas durasi pemulihan pasien."
Shaqueilla tertawa kecil, mengangguk setuju. "Iya, Ris. Dari beberapa kasus anak di rumah sakit luar, risikonya memang jauh lebih kecil. Makanya aku pengin banget tim kita bisa terapkan itu untuk jadwal bulan depan."
"Kalau kamu ada waktu malam ini atau besok, mungkin kita bisa diskusi lebih detail sambil makan malam?" tawar Aris halus, menyatukan kedua tangannya di depan dada dengan tatapan penuh ketertarikan yang tidak lagi sepenuhnya profesional. "Sekalian merayakan keberhasilan jurnal kamu yang baru terbit minggu lalu."
Shaqueilla terkekeh pelan, hendak menjawab ajakan rekannya tersebut dengan penolakan halus yang biasa digunakannya. Namun, tepat sebelum bibirnya membuahkan kata, sebuah hawa dingin yang tak kasat mata mendadak merayap di tengkuknya.
Instingnya memaksa Shaqueilla untuk mengalihkan pandangannya melintasi kerumunan tamu di seberang ruangan.
Di dekat pintu masuk utama VIP ballroom, berdiri sebuah rombongan delegasi investor utama simposium. Dan di tengah-tengah jajaran pimpinan tersebut, berdiri Issa Ghazafar Djojohadikusumo.
Lelaki itu mengenakan setelan jas dua potong berwarna charcoal gelap buatan kustom yang sangat kaku, dipadukan dengan kemeja hitam tanpa dasi. Penampilannya memancarkan dominasi mutlak yang membekukan. Namun yang membuat napas Shaqueilla tertahan di tenggorokan adalah sepasang mata elang Issa.
Pria itu sedang berdiri mendengarkan seorang direktur rumah sakit berbicara, tetapi sepasang mata gelapnya tidak tertuju pada lawan bicaranya. Mata Issa terkunci sepenuhnya pada Shaqueilla—lebih tepatnya, pada sosok Aris yang berdiri begitu dekat di samping Shaqueilla.
Tidak ada raut amarah yang mencolok di wajah tampan aristokrat itu. Wajah Issa datar, begitu dingin dan tak tersentuh. Namun, aura gelap yang menguar dari postur tubuhnya yang tegap memancarkan kecemburuan dewasa yang sangat berbahaya. Jemari tangan kanan Issa yang memegang gelas kristal memutih di bagian buku-buku jarinya, memeras gelas itu dengan tekanan yang sangat kuat seolah-olah kaca tebal itu bisa retak sewaktu-waktu.
Mata Issa bergerak lambat, menyapu tawa Shaqueilla, lalu menatap Aris dari atas ke bawah dengan penilaian yang teramat merendahkan.
"Shaqui?" panggil Aris, mengibaskan tangannya pelan di depan wajah Shaqueilla saat menyadari perhatian sang dokter spesialis anak mendadak teralih. "Kamu mendengarkan aku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumor Has It
FanfictionBagi lingkar sosial kelas atas Jakarta, perpisahan Shaqueilla Latisha Prameswari dan Issa Ghazafar Djojohadikusumo di hari kelulusan SMA lima belas tahun lalu adalah tragedi romansa terbesar dekade itu. Mereka adalah golden couple-sempurna, dipuja...
