Deru mesin turboprop pesawat jet pribadi Dassault Falcon 8X itu mendarat mulus di landasan pacu privat pulau Pamalican. Suara deburan ombak Laut Sulu yang jernih langsung menyambut begitu pintu kabin terbuka. Udara tropis yang hangat, kaya akan aroma garam laut dan pasir putih yang bersih, seolah menyapu seluruh sisa-sisa polusi serta hiruk-pikuk Jakarta yang menyesakkan.
Amanpulo bukan sekadar destinasi liburan eksklusif. Terisolasi sepenuhnya di kepulauan Filipina, pulau pribadi ini adalah perlindungan mutlak bagi kaum elit dunia-sebuah tempat di mana privasi dijaga seperti dokumen rahasia negara. Tidak ada paparazzi, tidak ada jurnalis bursa saham, dan tidak ada pengawas dari grup arisan keluarga yang akan berbisik-bisik di balik tirai.
Shaqueilla melangkah turun dari tangga pesawat, mengenakan terusan pantai berbahan linen tipis berwarna putih yang memeluk melambai tertiup angin laut. Topi floppy bertepi lebar dan kacamata hitam Oliver Peoples melindungi matanya dari kilatan sinar matahari siang yang cerah. Di sampingnya, Issa melangkah santai hanya dengan kemeja linen biru muda yang dibiarkan terbuka dua kancing atasnya, dipadukan dengan celana pendek santai berwarna krem dan kacamata hitam berbingkai penyu.
Dua orang pelayan privat yang bertugas khusus untuk reservasi mereka membungkuk hormat, menyambut mereka tanpa meminta dokumen atau menyebutkan nama besar keluarga mereka di depan umum.
"Selamat datang di Amanpulo, Bapak, Ibu," sapa sang head butler dengan nada halus terlatih. "Mobil buggy pribadi Anda sudah bersiap di samping landasan untuk mengantar langsung ke Private Beach Casita di sisi selatan pulau."
Issa merangkulkan tangan kanannya di pinggang Shaqueilla, menarik tubuh wanita itu mendekat tanpa ragu-sebuah gestur bebas yang tidak pernah bisa mereka lakukan di Jakarta.
"Terima kasih," sahut Issa singkat. "Pastikan seluruh area vila kami steril dari pengunjung lain selama akhir pekan ini."
"Tentu saja, Bapak. Keamanan dan privasi Anda adalah komitmen utama kami."
Mereka berdua naik ke atas buggy terbuka yang perlahan melaju menyusuri jalan setapak membelah pepohonan kelapa yang rimbun. Shaqueilla menyandarkan kepalanya di bahu tegap Issa, menghirup aroma campuran antara angin laut dan wangi sandalwood yang menguar dari tubuh pria itu.
"Sumpah, Sa," bisik Shaqueilla pelan di dekat telinga Issa, sebuah senyuman murni terukir di bibirnya. "Gue rasanya lupa kapan terakhir kali bisa menghirup udara tanpa perlu mikirin jadwal visite atau instruksi Papa."
Issa menoleh, mengecup pelipis Shaqueilla dengan kelembutan yang sangat manis. "Itu alasan gue membawa lo ke sini, Shaqui. Dua hari ke depan, nggak ada Dokter Prameswari, nggak ada COO Djojohadikusumo. Cuma ada kita berdua."
Private Beach Casita nomor 12 terletak di sudut paling terisolasi di pulau tersebut. Bangunan berarsitektur kayu jati klasik dengan atap jerami khas Filipina itu berdiri langsung di atas hamparan pasir putih halus bagaikan tepung, menghadap ke laut lepas berwarna biru pirus yang berkilau di bawah sinar matahari. Dek kayu luar dilengkapi dengan kolam renang privat (infinity pool), sepasang sunbed empuk, serta akses jalan setapak pribadi yang langsung menuju ke bibir pantai.
Begitu pintu jati vila bergeser menutup dan para pelayan selesai menata barang bawaan lalu pamit keluar, keheningan yang amat tenang menyelimuti mereka.
Shaqueilla melepas topi dan kacamata hitamnya, melemparkannya ke atas sofa kain linen di ruang tengah, lalu berjalan menuju pintu kaca besar yang terbuka penuh menghadap ke laut. Angin laut bertiup lembut, memainkan helai-helai rambut hitam tebalnya.
Dari arah belakang, sepasang lengan kokoh melingkar di pinggangnya. Issa merapatkan dada bidangnya ke punggung Shaqueilla, menyandarkan dagunya di bahu mulus wanita itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumor Has It
Fiksi PenggemarBagi lingkar sosial kelas atas Jakarta, perpisahan Shaqueilla Latisha Prameswari dan Issa Ghazafar Djojohadikusumo di hari kelulusan SMA lima belas tahun lalu adalah tragedi romansa terbesar dekade itu. Mereka adalah golden couple-sempurna, dipuja...
