Bab 12: Whispers in the Powder Room

1.6K 108 4
                                        

Aroma bunga bakung segar bercampur wangi lilin beraroma vanilla sandalwood memenuhi restoran privat bernuansa classic European di kawasan Dharmawangsa. Siang itu, lantai dua ruang perjamuan eksklusif tersebut disewa penuh oleh lingkaran arisan elit dinasti Prameswari dan jajaran sosialita sejawatnya. Denting cangkir porselen buatan Inggris, dentur halus sendok perak yang menyentuh piring bone china, serta alunan piano klasik yang diputar lembut membentuk latar belakang kemewahan yang tenang. Namun di balik keanggunan tata krama yang dipamerkan, udara di dalam ruangan dipenuhi oleh persaingan terselubung dan naluri pengamatan yang sangat tajam.

Shaqueilla Latisha Prameswari duduk di salah satu sudut meja bundar besar berbahan kayu mahoni. Ia membalut tubuhnya dengan terusan berbahan sutra crepe berwarna kurma lembut yang memeluk siluet tubuhnya secara proporsional. Rambut hitam tebalnya dibiarkan terurai rapi dengan tatanan blow alami di bagian ujungnya, memperlihatkan sepasang anting berlian potongan emerald yang berkilau lembut setiap kali ia menganggukkan kepala.

Di meja tersebut, hadir ibunya, Rosalind Prameswari, bersama jajaran bibi dan sepupu-sepupu perempuannya. Arisan keluarga besar Prameswari bukan sekadar ajang kumpul santai keluarga; ini adalah panggung evaluasi berkala bagi pencapaian anggota keluarga, mulai dari портofolio bisnis, kepemilikan properti baru, hingga status pernikahan anak-anak mereka.

"Jadi, proyek ekspansi sayap baru Kencana Medical Center di BSD itu sudah sejauh mana, Shaqui?" tanya Tante Lydia, adik bungsu ibunya, seraya menyesap teh Earl Grey-nya dengan jemari yang dihiasi cincin zamrud Colombia berukuran mencolok.

Shaqueilla tersenyum profesional, meletakkan cangkir porselennya ke atas tatakan. "Sudah masuk tahap finalisasi desain arsitektur dan perizinan kementerian, Tante. Kalau sesuai jadwal, akhir kuartal ini kita sudah mulai proses peletakan batu pertama."

"Hebat ya, Shaqui," puji Tante Lydia dengan nada manis yang sedikit ditahan. "Karier kamu sebagai Sp.A memang mulus sekali. Semua orang di grup arisan Tante selalu puji-puji kesuksesan kamu di rumah sakit."

"Terima kasih, Tante," sahut Shaqueilla tenang.

Namun, sebelum Shaqueilla sempat melanjutkan kalimatnya, Natasha—sepupunya yang berusia dua tahun lebih muda dan baru saja melangsungkan pernikahan megah di Bali beberapa bulan lalu—menyela dengan cengkeraman halus di lengan suaminya yang duduk di meja sebelah.

"Tapi ya, Tante Lydia... karier setinggi apa pun kan tetep aja beda ya rasanya kalau belum ada yang menemani di rumah," ujar Natasha dengan nada memprihatinkan yang sengaja diproduksi secara halus. Ia menatap Shaqueilla dengan kilat mata yang menyiratkan kepuasan terselubung. "Maksudku, Mbak Shaqui kan sebentar lagi masuk usia yang... well, sangat matang. Mama aja kemarin sempat kepikiran, Mbak Shaqui apa nggak kesepian ya di apartemen sendirian setiap habis sif malam?"

Rosalind Prameswari menegakkan posisi duduknya, pandangan matanya mendingin sejenak sebelum ia melayangkan senyuman elegan khas Prameswari. "Shaqueilla sangat menikmati dedikasi profesinya, Natasha. Menjadi spesialis anak yang dipercaya banyak keluarga di Jakarta itu butuh fokus dan kedewasaan penuh. Pernikahan bukan perlombaan lari cepat."

"Tentu saja bukan perlombaan, Tante Rosalind," sahut Clarissa, sepupu Shaqueilla yang lain, ikut bergabung dalam lingkar obrolan dengan nada bicara yang manis namun menusuk. "Cuma ya... kita kan semua tahu betapa sayangnya keluarga pada Mbak Shaqui. Apalagi kalau mengingat cerita masa lalu Mbak Shaqui. Kasihan aja kalau Mbak Shaqui terus-terusan ditinggal jalan duluan sama teman-teman seangkatan."

Shaqueilla mempertahankan senyum tipis di bibirnya, meski jemarinya di bawah meja meremas kain serbet linen dengan cukup kencang. Ia sudah sangat terbiasa dengan pola sindiran seperti ini. Di mata sepupu-sepupunya yang mengukur pencapaian wanita berdasarkan siapa suami mereka dan seberapa besar batu berlian di jari manis mereka, status Shaqueilla yang masih membujang di usia matang adalah satu-satunya cela yang bisa mereka gunakan untuk meruntuhkan kesempurnaan sang dokter.

Rumor Has ItCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang