Malam itu, Grand Ballroom Hotel Mulia Senayan bertransformasi menjadi arena pameran kemewahan yang tak terselubung. Deretan pilar marmer putih yang dibalut susunan bunga lily kasuba murni berpadu indah dengan pendar cahaya dari puluhan kandelir kristal bertingkat. Suara denting gelas sampanye, tawa halus yang tertahan, serta alunan harp yang mengalunkan komposisi musik klasik membungkus ruangan yang dihuni oleh orang-orang paling berkuasa dan terkaya di negeri ini.
Acara gala dinner tahunan Yayasan Lentera Kasih—organisasi nirlaba yang berfokus pada dana bantuan medis anak-anak tidak mampu—bukan sekadar agenda amal tahunan. Bagi lingkar high society Jakarta, ini adalah ajang pamer pengaruh, ajang negosiasi bisnis kasual, dan tempat di mana status sosial divalidasi lewat nilai lelang lukisan atau perhiasan langka.
Shaqueilla Latisha Prameswari melangkah melintasi selasar utama foyer bersama kedua orang tuanya. Malam ini, ia membalut tubuhnya dengan gaun cocktail panjang berwarna midnight navy berpotongan A-line dari desainer lokal terkemuka. Bahan sutra tebal yang jatuh sempurna itu membingkai pinggang rampingnya tanpa terkesan berlebihan. Rambut hitamnya dibiarkan terurai bergelombang rapi di bahu, menyorot leher jenjangnya yang dihiasi kalung berlian solitaire milik ibunya.
"Inget ya, Shaqui," Rosalind Prameswari berbisik halus di sampingnya, membenarkan letak selendang tenun yang tersampir di lengannya sendiri sambil tersenyum ke arah sepasang anggota DPR yang melintas. "Nanti pas lelang karya seni diawali, Papa mau ambil satu lukisan karya Maestro Afandi buat disumbangkan atas nama yayasan rumah sakit kita. Kamu harus tetap berdiri di dekat Papa."
"Iya, Ma. Aku mengerti kok," jawab Shaqueilla lembut.
Di sebelah kanannya, Baskara Prameswari tampak sibuk menyapa beberapa rekan jajaran direksi perbankan swasta. Sebagai bagian dari keluarga pendiri Prameswari Corp, Shaqueilla paham betul perannya malam ini. Ia adalah representasi generasi penerus yang harus selalu tampil tanpa cela—anggun, terpelajar, dan sangat teratur.
Namun, di balik senyum profesional dan sikap tenang yang ditunjukkannya kepada setiap tamu VIP yang menyapa, pikiran Shaqueilla melayang pada kejadian beberapa hari lalu. Sejak pengiriman makan siang privat yang menghebohkan koridor rumah sakit itu, hubungan rahasianya dengan Issa telah melangkah ke tahap yang jauh lebih rumit. Mereka beberapa kali menghabiskan malam bersama di penthouse The Langham—jauh dari jangkauan publik, bersembunyi di balik dinding kaca yang menatap kerlap-kerlip Jakarta. Di sana, mereka bertindak seperti pasangan yang dilindungi gairah dan kerinduan belasan tahun.
Tetapi malam ini, panggungnya berbeda. Malam ini adalah ujian nyata pertama atas kesepakatan rahasia mereka di hadapan publik.
"Selamat malam, Pak Baskara, Bu Rosalind."
Sebuah suara bariton yang sudah sangat dihafal oleh setiap sel tubuh Shaqueilla terdengar dari arah belakang.
Shaqueilla menahan napas sejenak sebelum memutarkan tubuhnya secara perlahan, menyamakan ritme dengan gerakan kedua orang tuanya.
Issa Ghazafar Djojohadikusumo berdiri tegak berjarak dua meter dari mereka. Lelaki itu tampil sangat menawan dalam balutan setelan tuksedo tiga potong berwarna hitam pekat buatan rumah mode ternama Italia, dipadukan dengan dasi kupu-kupu yang terpasang simetris. Di sampingnya, berdiri Mas Raden—kakak kandungnya yang menjabat sebagai Group CEO—serta Ibu Amalia Djojohadikusumo yang tampil megah dengan kebaya modern berwarna marun.
"Ah, Amalia! Raden, Issa!" Rosalind menyambut kedatangan keluarga Djojohadikusumo dengan binar mata hangat yang terlatih. "Selamat malam. Wah, lengkap sekali ya keluarga Djojohadikusumo malam ini."
"Iya, Jeng Rosalind. Ini Issa baru sempat ikut acara formal lagi setelah resmi pegang posisi COO," sahut Amalia Djojohadikusumo seraya bertukar kecupan pipi kanan dan kiri dengan ibunya Shaqueilla.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumor Has It
Fiksi PenggemarBagi lingkar sosial kelas atas Jakarta, perpisahan Shaqueilla Latisha Prameswari dan Issa Ghazafar Djojohadikusumo di hari kelulusan SMA lima belas tahun lalu adalah tragedi romansa terbesar dekade itu. Mereka adalah golden couple-sempurna, dipuja...
