Bab 7 : The COO's Territory

1.9K 146 5
                                        

Lantai empat puluh dua Gedung Djojohadikusumo Tower memancarkan dominasi yang dingin. Dinding kaca besar setinggi empat meter membingkai panorama pusat bisnis Jakarta yang sibuk, menyajikan pemandangan lanskap SCBD yang tampak kerdil dari ketinggian. Di dalam ruangan kerja seluas ratusan meter persegi itu, tidak ada ornamen yang berlebihan. Hanya ada meja kayu jati hitam pekat berukuran besar, sofa kulit asli berwarna cokelat tua, serta jajaran penghargaan dan miniatur kapal kargo komoditas yang tertata simetris di lemari pajangan.

Issa Ghazafar Djojohadikusumo berdiri di tepi jendela kaca, menyesap kopi hitam tanpa gula dari cangkir porselen putih. Jas setelan tiga potong berwarna biru gelap yang dijahit khusus di Savile Row melekat sempurna di tubuh tegapnya. Kerah kemeja putihnya terancing rapi, dipadukan dengan dasi sutra bernuansa perak netral. Dilihat dari sudut mana pun, Issa adalah representasi murni dari kekuasaan korporasi kelas atas—dingin, terkendali, dan tak tersentuh.

Namun, di balik penampilannya yang tanpa cela, pikiran Issa melayang pada kejadian kemarin pagi di penthouse The Langham. Senyum tipis yang sangat samar terukir di sudut bibirnya saat mengingat bagaimana Shaqueilla berdiri tegak membebat bathrobe hitam miliknya, mengajukan syarat rahasia dengan ketegasan seorang wanita yang tidak bisa diintimidasi. Backstreet. Sebuah ide yang terkesan hampir seperti lelucon bagi pria dengan posisi seperti Issa, namun di saat yang sama terasa wajar mengingat betapa kompleksnya ekosistem sosial dan bisnis yang mengelilingi mereka.

Ketukan tegas di pintu kayu ek ganda memecah lamunannya.

"Masuk," kata Issa pendek, berbalik tanpa terburu-buru.

Sekretaris utamanya, Hendra, melangkah masuk dengan cepat membawa sebuah iPad dan map kulit tebal. Pria paruh baya berpengalaman belasan tahun itu membungkuk sopan sebelum memberikan laporan singkat.

"Selamat pagi, Pak Issa. Dewan komisaris sudah berkumpul di ruang rapat utama untuk sesi peninjauan kuartal kedua," ujar Hendra dengan nada sigap. "Mas Raden juga sudah tiba dari Singapura lima belas menit yang lalu dan saat ini sedang menunggu Anda di ruang rapat."

Issa meletakkan cangkir kopinya di atas meja kerja dengan ketukan halus. "Bagaimana dengan berkas analisis efisiensi biaya proyek energi terbarukan di Kalimantan?"

"Sudah saya cetak dan bagikan di meja masing-masing anggota komisaris, Pak. Sesuai instruksi Anda, angka restrukturisasi anggaran sengaja ditandai dengan warna merah untuk menarik perhatian Pak Hendrawan dan para senior," jawab Hendra presisi.

Issa mengangguk puas. "Bagus. Mari kita mulai."

Ruang rapat utama lantai empat puluh dua dirancang bak teater keputusan bernilai triliunan rupiah. Meja oval kayu mahoni membentang di tengah ruangan, dikelilingi oleh belasan kursi kulit berpenopang tinggi. Di kepala meja, duduk Raden Djojohadikusumo—kakak kandung Issa sekaligus Group CEO yang memegang kendali atas ekspansi internasional keluarga mereka. Raden tampil elegan dengan kemeja putih berlengan tergulung rapi dan jam tangan Patek Philippe langka yang melingkar di pergelangan tangannya.

Ketika Issa melangkah masuk, atmosfer di dalam ruangan yang tadinya dipenuhi obrolan berbisik mendadak hening. Seluruh pasang mata—para komisaris senior yang telah mengabdi sejak era kakek Issa hingga para direktur operasional—tertuju padanya.

"Selamat pagi, Gentlemen," sapa Issa datar, mengambil tempat duduk di sebelah kanan Raden.

Raden mengamati adik kandungnya itu dengan tatapan menilai yang tajam. Ada riak kepuasan yang tertahan di balik wajah tegas sang kakak. "Pagi, Issa. Karena kamu sudah di sini, kita bisa langsung mulai peninjauan restrukturisasi operasional yang kamu usulkan minggu lalu."

Seorang komisaris senior berusia enam puluhan, Hendrawan, mengetukkan jemarinya di atas meja, menatap Issa dengan raut ragu yang transparan. "Pak Issa, saya sudah membaca draf proposal yang Anda kirimkan. Pemotongan anggaran operasional sebesar empat belas persen di anak perusahaan komoditas ini terkesan terlalu agresif untuk seseorang yang baru dua minggu menjabat sebagai COO. Kita bicara tentang mitra-mitra lama keluarga Djojohadikusumo yang sudah bekerja sama selama puluhan tahun."

Rumor Has ItCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang