Sinar matahari pagi menerobos tipis di antara tirai linen tebal yang tergantung megah di kamar utama penthouse The Langham. Cahaya keemasan itu memantul di atas lantai kayu jati gelap, membiaskan temaram lembut yang menyapu sprei sutra abu-abu. Udara di dalam ruangan terasa sejuk, membawa aroma amber yang menyatu hangat dengan wangi tubuh Shaqueilla yang tertinggal dari semalam.
Shaqueilla bergerak pelan, bulu matanya bergoyang sebelum matanya terbuka perlahan. Rasa pegal yang halus merambat di sepanjang pinggang dan paha bahagian dalamnya—sebuah pengingat instan atas semua keintiman yang membakar selama beberapa jam lalu. Ia mengerjap, menyandarkan kesadarannya pada realitas di sekelilingnya.
Di sampingnya, Issa masih terlelap. Sisi wajah pria itu yang biasanya dingin dan kaku kini terlihat lebih rileks dalam guratan tidur. Lengannya yang kokoh masih melingkar protektif di sekeliling pinggang Shaqueilla, mengikat tubuh wanita itu dalam dekapan yang seolah tak membiarkan selisih udara sedikit pun di antara mereka.
Shaqueilla mengembuskan napas perlahan, berusaha tidak memicu gerakan berlebih saat ia menggeser lengan berat Issa dari tubuhnya. Ia duduk di tepi ranjang, merapatkan selimut sutra untuk menutupi dadanya yang polos. Pandangannya jatuh pada gaun hijau zamrud yang tergeletak berantakan di lantai dekat pintu kamar, bersanding dengan kemeja putih Issa yang terlepas kancingnya.
Kepanikan kecil yang rasional mendadak merayap di dada sang dokter spesialis anak. Semalam adalah sebuah ketidaksengajaan yang dipicu oleh emosi tertahan selama belasan tahun. Sebuah pelepasan impulsif. Namun pagi ini, logika dan peran profesionalnya kembali mengambil alih.
Ia berdiri, menyambar bathrobe sutra hitam milik Issa yang tergeletak di kursi santai, lalu membebatnya erat di tubuhnya sebelum melangkah menuju dinding kaca raksasa yang menampilkan lanskap Jakarta di pagi hari.
"Lo udah bangun semurah itu dari tempat tidur gue, Shaqui?"
Suara bariton yang serak khas bangun tidur itu memecah keheningan. Shaqueilla berbalik perlahan. Issa sudah duduk bertelanjang dada di atas tempat tidur, menyandarkan punggungnya pada headboard berbalut beludru. Rambut hitamnya sedikit acak-acakan, namun mata elangnya sudah sepenuhnya siaga, menatap Shaqueilla dengan intensitas yang tidak berkurang sedikit pun dari semalam.
"Gue harus bersiap-siap, Sa," ujar Shaqueilla, mengikat tali bathrobe-nya lebih kencang. "Gue ada jadwal tindakan dan visitas di Kencana jam delapan. Ini udah jam enam lewat."
Issa menyibak selimut, berdiri tanpa ragu dengan hanya mengenakan celana piyama hitam. Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap mendominasi ruangan saat ia berjalan mendekati Shaqueilla. "Soal semalam... kita perlu bicara sebelum lo melangkah keluar dari pintu itu."
Shaqueilla menarik napas panjang, merapikan helai rambutnya ke belakang telinga. "Nggak ada yang perlu dibicarakan secara khusus, Sa. Semalam itu... kita berdua sama-sama terbawa emosi. Reuni di pernikahan Radhika, dinamika alumni, stres kerjaan. Kita berdua dewasa, Sa. Kita bisa anggap semalam sebagai penutup dari cerita lama kita yang belum selesai."
Langkah Issa terhenti tepat satu jengkal di depan Shaqueilla. Rahangnya mengeras, dan raut wajahnya berubah menjadi sangat dingin—tipikal ekspresi yang biasa ia tunjukkan di hadapan papan direksi Djojohadikusumo Group.
"Penutup?" tanya Issa dengan suara yang rendah, hampir berbahaya. "Lo pikir setelah apa yang terjadi semalam, setelah lima belas tahun gue nunggu buat balik ke Jakarta, gue bakal biarin lo mengategorikan semalam sebagai sekadar 'penutup'?"
"Terus lo mau apa, Issa?" Shaqueilla menatap balik mata pria itu, menolak untuk terintimidasi. "Lo mau kita bertingkah seolah kita masih sepasang anak SMA yang bisa bergandengan tangan di depan umum? Lo baru balik dari London sebagai COO baru. Posisi lo lagi disorot habis-habisan sama dewan komisaris dan media bisnis. Kalau sampai ada rumor kita jalan bareng lagi, pergerakan saham Djojohadikusumo Group bakal terganggu oleh spekulasi aliansi Prameswari Corp. Lo tahu betul betapa sensitifnya pasar!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumor Has It
FanfictionBagi lingkar sosial kelas atas Jakarta, perpisahan Shaqueilla Latisha Prameswari dan Issa Ghazafar Djojohadikusumo di hari kelulusan SMA lima belas tahun lalu adalah tragedi romansa terbesar dekade itu. Mereka adalah golden couple-sempurna, dipuja...
