Bab 1: The Society's Golden Exes

6.6K 312 4
                                        

Aroma antiseptik yang khas bercampur samar dengan keharuman lilin terapi beraroma white tea memenuhi ruangan bernuansa pastel lembut itu. Di dinding sebelah kanan, jejeran lukisan jerapah bertopi jenaka dan kelinci yang menunggangi awan sengaja dipasang untuk mengalihkan perhatian para pasien kecil. Kencana Medical Center bukan sekadar rumah sakit swasta biasa. Terletak di jantung kawasan Jakarta Selatan, institusi medis ini mematok tarif yang setara dengan harga tiket penerbangan kelas bisnis ke Eropa hanya untuk satu kali sesi konsultasi. Maka tidak mengherankan jika ruang tunggu di lantai spesialis anak lebih menyerupai ruang tunggu maskapai bintang lima, lengkap dengan sofa beludru dan pelayan yang siap mengantarkan babyccino hangat untuk anak-anak yang sedang menunggu giliran.

Di balik meja kayu ek besar yang rapi, Shaqueilla Latisha Prameswari, Sp.A, sedang meneliti rekam medis digital di layar iPad Pro miliknya. Mantel putih dokternya tersemat sempurna di atas blus sutra berwarna champagne keluaran Max Mara, dipadukan dengan celana panjang potongan sigaret yang memperlihatkan sepasang pump shoes berhak rendah dari Manolo Blahnik. Rambut hitam tebalnya dicepol modern dengan menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah ovalnya secara proporsional.

"Jadwal berikutnya siapa, Sus?" tanya Shaqueilla tanpa mengalihkan pandangan dari layar, suaranya terdengar lembut namun memiliki ketegasan yang alami.

Suster Citra, perawat senior yang setia mendampinginya selama tiga tahun terakhir, memeriksa catatan di dekat pintu. "Pasien terakhir untuk sesi siang ini adalah Gavin Abyasa, Dok. Putra dari Ibu Valerie. Keluhannya demam naik-turun sejak dua hari lalu setelah pulang dari liburan keluarga di Aspen."

Shaqueilla mengangguk paham. Nama belakang Abyasa langsung mengaitkan ingatannya pada jajaran keluarga konglomerat properti generasi ketiga di Jakarta. Di dunia medis yang digelutinya sekarang, Shaqueilla tidak hanya dituntut untuk memiliki diagnosis yang akurat, tetapi juga kemampuan navigasi sosial yang lihai menghadapi para ibu dari kalangan high society yang kerap kali lebih cemas pada penampilan luar anak mereka daripada gejala klinis yang sebenarnya.

Pintu ruangan bergeser terbuka setelah ketukan pelan. Valerie Abyasa melangkah masuk dengan anggun, menenteng tas Hermes Birkin berukuran mikro di satu tangan, sementara tangan lainnya menggandeng seorang anak laki-laki berusia empat tahun yang tampak lesu.

"Halo, Dokter Shaqui," sapa Valerie dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, khas sosialita Jakarta saat menyapa rekan setingkatnya. "Aduh, maaf ya agak terlambat. Macet di daerah Gunawarman benar-benar luar biasa siang ini."

Shaqueilla tersenyum profesional, bangkit dari kursinya untuk menyambut mereka. "Halo, Mbak Valerie. Nggak apa-apa, silakan duduk. Halo juga, Gavin ganteng. Kenapa lemas sekali hari ini, hm?"

Gavin hanya menggumam kecil, menyembunyikan wajahnya di balik lengan mantel beludru ibunya. Shaqueilla dengan cekatan berlutut di depan bocah itu, mengambil stetoskop yang bagian ujungnya sengaja diberi hiasan berbentuk kepala beruang kecil berwarna cokelat. Proses pemeriksaan berlangsung dengan tenang. Shaqueilla memiliki bakat alami yang jarang dimiliki dokter lain; sentuhannya hangat, suaranya menenangkan, dan dia tidak pernah terburu-buru.

"Hanya gejala flu akibat adaptasi cuaca yang ekstrem, Mbak," jelas Shaqueilla beberapa menit kemudian setelah Gavin kembali duduk di pangkuan ibunya. "Perubahan suhu dari Aspen ke Jakarta yang lembap membuat daya tahan tubuhnya agak kaget. Saya akan resepkan vitamin penguat imun dan obat penurun demam kalau suhunya di atas tiga puluh delapan derajat. Tidak perlu antibiotik dulu untuk sekarang."

Valerie mengembuskan napas lega, meletakkan tas mewahnya di atas meja. "Syukurlah kalau begitu. Kalau Dokter Shaqui yang bilang, aku langsung tenang. Oh ya, Shaqui, ngomong-ngomong soal acara akhir pekan ini..." Valerie mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berbinar oleh ketertarikan yang berbeda. "Kamu datang kan ke pernikahannya Radhika dan Kirana di Grand Hyatt nanti Sabtu?"

Rumor Has ItCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang