Lampu-lampu ballroom yang berkilau keemasan memantulkan riak-riak kemewahan di setiap sudut ruangan, tetapi bagi Shaqueilla, atmosfer di sekitarnya mendadak terasa lebih tipis. Sesi foto bersama alumni tim basket dan teman-teman angkatan baru saja selesai di panggung utama. Riuh rendah tawa dan candaan masa remaja sempat mencairkan kekakuan, namun begitu mereka turun kembali ke lantai ballroom, realitas sosial kembali mengetuk pintu.
Shaqueilla berjalan perlahan menuruni anak tangga panggung yang dilapisi karpet beludru merah tebal. Gaun emerald green miliknya yang berbahan sutra satin bergeser lembut, menciptakan siluet megah yang memikat. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah piring kecil berisi canapé premium dan segelas mocktail, sementara tangan kirinya berusaha menjepit tas Hermes Kelly 20 bertekstur sellier Epsom berwarna hitam yang sangat disayanginya. Selendang organza panjang semitransparan yang tersampir di bahu kanannya mendadak agak melorot akibat gerakannya saat berfoto tadi, mengancam akan tersangkut di undakan tangga.
Tepat sebelum selendang mahal itu menyentuh lantai, sebuah tangan besar dengan jemari kokoh menangkap ujung kain tersebut dengan gerakan refleks yang luar biasa cepat.
Shaqueilla tersentak kecil, menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. Ia menoleh dan langsung berhadapan dengan dada bidang yang terbalut tuksedo Tom Ford hitam sempurna. Aroma sandalwood dan leather yang pekat langsung merangsek masuk ke indra penciumannya, memicu getaran akrab yang sangat ia kenal.
Issa Ghazafar sudah berdiri di sana, sangat dekat. Tanpa meminta izin, dengan gerakan yang begitu natural dan santai seolah-olah mereka masih sepasang kekasih yang baru berkencan kemarin malam, Issa menarik ujung selendang organza itu. Jemarinya yang hangat menyentuh kulit bahu Shaqueilla yang terbuka selama beberapa detik saat ia menyampirkan kembali kain tersebut ke posisi semula, merapikannya dengan tepukan-tepukan ringan yang teratur.
"Baju lo selalu ribet dari dulu, Shaqui," gumam Issa rendah, suaranya bariton yang berat hampir tenggelam di antara denting gelas tamu-tamu lain, namun terdengar sangat jelas di telinga Shaqueilla.
Belum sempat Shaqueilla membalas, Issa mengalihkan pandangannya pada tangan kiri Shaqueilla yang tampak kesulitan memegang tas kecilnya di antara piring dan gelas minuman. Dengan gerakan yang sama sekali tidak canggung, Issa mengulurkan tangannya dan langsung mengambil alih tas Hermes Kelly 20 hitam itu dari jepatan jemari Shaqueilla. Lelaki itu memegang tas mini super mahal tersebut dengan santai, menjepit talinya di antara jari-jarinya yang besar, seolah benda itu tidak lebih dari sekadar dompet biasa.
Shaqueilla melebarkan matanya, menatap tasnya yang kini berada di genggaman Issa, lalu menatap wajah lelaki itu dengan dahi berkerut. "Sa, balikin. Apa-apaan sih? Banyak yang ngeliat."
"Tangan lo penuh, Dokter Prameswari," sahut Issa tenang, matanya menatap Shaqueilla lurus-lurus dengan binar jenaka yang tersembunyi di balik ketegasannya. "Kalau piring itu jatuh dan ngotorin gaun hijau lo yang cantik ini, lo bakal butuh waktu tiga puluh menit di kamar mandi. Dan gue nggak mau buang waktu nungguin lo."
Di sekitar mereka, beberapa sosialita muda dan alumni SMA yang sedang berdiri berkelompok mendadak menghentikan obrolan mereka. Mata mereka melebar, menatap pemandangan di depan mereka dengan rasa tidak percaya yang absolut. Valerie Abyasa, yang berada beberapa meter di dekat bar, hampir menjatuhkan gelas sampanyenya.
Bagaimana mungkin sepasang mantan kekasih yang sudah berpisah selama lima belas tahun, yang dikabarkan saling menghindar dan memendam luka mendalam, bisa berinteraksi seintim dan senatural itu? Seorang COO Djojohadikusumo Group, yang terkenal berdarah dingin di ruang rapat, dengan santai membawakan tas Hermes mikro seorang wanita dan merapikan selendang gaunnya di depan ratusan pasang mata VIP?
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumor Has It
Fiksi PenggemarBagi lingkar sosial kelas atas Jakarta, perpisahan Shaqueilla Latisha Prameswari dan Issa Ghazafar Djojohadikusumo di hari kelulusan SMA lima belas tahun lalu adalah tragedi romansa terbesar dekade itu. Mereka adalah golden couple-sempurna, dipuja...
