Bab 3: The Ballroom Encounter

3.9K 172 2
                                        

Kemegahan The Grand Ballroom di The Grand Hyatt Jakarta malam itu berada di level yang sulit ditandingi. Ribuan kelopak mawar putih segar dirangkai membentuk instalasi megah yang menggantung di langit-langit, bersanding dengan lampu-lampu kristal baccarat yang memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan mahal. Denting gelas sampanye kristal bersahutan dengan alunan musik dari orkestra simfoni yang membawakan lagu-lagu klasik dengan aransemen modern yang subtil. Setiap jengkal ruangan dipadati oleh parfum premium, perhiasan berlian bernilai miliaran rupiah, dan deretan gaun haute couture yang dikenakan oleh para wanita dari lingkaran paling atas kelas sosial Jakarta.

Sebuah Porsche Panamera berwarna hitam metalik berhenti tepat di depan lobi VIP. Petugas valet dengan sigap membukakan pintu penumpang. Sepasang sepatu hak tinggi pump shoes berwarna perak berkilau menyentuh lantai marmer yang mengilap, diikuti dengan helai kain sutra satin berwarna emerald green yang melambai anggun ditiup angin malam.

Shaqueilla Latisha Prameswari melangkah keluar dari mobil. Gaun hijau zamrudnya melekat sempurna di tubuh, memperlihatkan siluetnya yang tinggi dan proporsional. Selendang organza panjang semitransparan yang tersampir di bahu kanannya menjuntai hingga ke lantai, bergerak megah di setiap langkahnya. Rambut hitam tebalnya disanggul modern yang bersih, mengekspos leher jenjangnya yang dihiasi kalung berlian minimalis berdesain geometris yang elegan. Di sampingnya, Labibah keluar dari pintu sebelah, mengenakan gaun beludru berwarna biru dongker yang memberikan kesan anggun dan tegas.

"Sumpah, Shaqui," Labibah berbisik pelan, membenarkan letak clutch bag miliknya sambil menyamakan langkah dengan Shaqueilla. "Begitu lo turun dari mobil tadi, gue ngerasa aura Dokter Prameswari langsung hilang, ganti jadi aura Ratu Jakarta Selatan. Cantik banget lo malam ini. Hijau zamrud ini bener-bener... killer."

Shaqueilla tersenyum tipis, menjaga dagunya tetap terangkat dengan proporsional. "Makasih, Bih. Lo juga kelihatan luar biasa banget malam ini. Biru dongker cocok banget di kulit lo."

Begitu mereka melewati pintu kaca besar menuju area pra-fungsi (foyer) yang luas, atmosfer di sekeliling mereka mendadak berubah. Langkah kaki Shaqueilla yang anggun menarik perhatian beberapa pasang mata yang berdiri di dekat meja registrasi VIP. Riak kecil itu perlahan menyebar seperti lingkaran air yang dijatuhi batu. Bisikan-bisikan halus yang tertahan mulai terdengar di sela alunan musik orkestra.

"Eh, lihat deh. Itu Shaqueilla Prameswari, kan?"

"Aduh, anggun banget ya. Gaun hijaunya dari desainer siapa sih? Bagus banget jatuhnya di badan."

"Dia datang sendiri? Nggak bawa gandengan?"

"Kamu kayak nggak tahu aja. Sejak... well, kejadian lima belas tahun lalu, dia kan hampir nggak pernah kelihatan bawa pasangan ke acara-acara besar kayak begini. Selalu fokus sama karier dokternya."

Shaqueilla mendengar beberapa potongan kalimat itu, namun matanya tetap menatap lurus ke depan dengan senyum ramah yang terkendali. Ini adalah zirah perangnya. Dia sudah memprediksi bahwa kehadirannya akan memicu respons seperti ini. Di hadapan publik, dia adalah manifestasi dari ketenangan.

"Lo dengar kan?" Labibah berbisik lagi, bibirnya hampir tidak bergerak sementara matanya menyapu ruangan. "Baru masuk area foyer aja nama lo udah langsung jadi menu utama gosip malam ini. Orang-orang ini beneran butuh hobi baru selain ngurusin hidup orang lain."

"Biarin aja, Bih," jawab Shaqueilla santai, mengambil dua gelas minuman segar berwarna merah muda dari nampan perak yang dibawa oleh pelayan yang melintas. "Yang penting kita di sini buat Radhika sama Kirana. Bukan buat ngasih mereka bahan klarifikasi."

Mereka berdua berjalan menuju area dalam ballroom yang jauh lebih luas dan megah. Panggung utama di ujung ruangan dipenuhi dekorasi bergaya kastil modern dengan hamparan bunga yang sangat tebal. Radhika dan Kirana tampak seperti pangeran dan putri dari dinasti modern, tersenyum bahagia menyambut para tamu kehormatan yang mengantre untuk memberikan selamat.

Rumor Has ItCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang