Denting jarum jam dinding berbingkai kayu jati di koridor lantai tiga Kencana Medical Center berbunyi pelan, menandakan pukul dua pagi lewat lima belas menit. Hawa dingin dari pendingin udara sentral merayap menembus bahan jas putih yang membalut tubuh Shaqueilla. Lorong lantai perawatan anak yang biasanya ramai oleh suara tangis bayi dan langkah tergesa para perawat kini tampak lengang dan temaram. Hanya beberapa lampu sorot lembut yang menyala di atas meja jaga.
Shaqueilla menyandarkan punggungnya pada dinding marmer di luar ruang perawatan intensif anak (PICU). Wajahnya mencerminkan kelelahan yang nyata setelah maraton sif malam yang menguras energi dan emosinya. Seorang pasien balita rujukan darurat dari daerah dengan kondisi kejang demam berulang dan dehidrasi berat baru saja berhasil distabilkan setelah pertarungan intens selama lebih dari empat jam.
Jemarinya yang lentik memijat pangkal hidungnya pelan. High heels lima sentimeter yang dipakainya sejak kemarin sore sudah dilepas dan digantikan dengan flat shoes empuk khusus area medis, namun rasa pegal di persendian kakinya tetap tidak bisa dibohongi.
"Dokter Shaqui," panggil Suster Citra lembut, berjalan mendekat sambil membawa sebuah papan jepit berisi lembar pemantauan. "Grafik tanda vital dek Albie sudah benar-benar stabil. Dokter Bedah Anak juga sudah mengonfirmasi kalau tidak perlu tindakan invasif malam ini. Dokter bisa istirahat di ruang dokter sekarang."
Shaqueilla membuka matanya, memberikan senyum tipis yang tulus. "Lega banget dengarnya, Sus. Tolong pastikan ceceran cairan infus dan dosis intubasi pemeliharaan diperiksa ulang per tiga puluh menit ya. Kalau suhunya melonjak di atas tiga puluh delapan derajat lagi, langsung panggil saya."
"Siap, Dok. Dokter pulang aja, mukanya sudah pucat banget begitu. Nanti biar Dokter Jaga malam yang pantau gilirannya."
"Iya, sebentar lagi saya beres-beres," jawab Shaqueilla seraya mengangguk.
Ia melangkah pelan menuju ruang kerja pribadinya, melepas jas putih medisnya dan menggantungnya rapi di belakang pintu. Terusan kemeja berbahan katun sutra berwarna abu-abu yang dikenakannya terlihat sedikit kusut di bagian lengan. Shaqueilla duduk di kursi kerjanya, meraih ponsel pribadi di dalam tas tangan Chanel miliknya.
Begitu layar menyala, sebuah pesan singkat dari nomor tanpa nama—nomor pribadi Issa—langsung muncul di kolom notifikasi. Pesan itu dikirimkan sepuluh menit yang lalu.
"Gue udah di akses parkir darurat basement dua. Posisi dekat tiang B-12. Nggak usah buru-buru, jalan pelan-pelan aja."
Shaqueilla menatap layar ponselnya selama beberapa detik. Sudut bibirnya terangkat tipis secara refleks. Pria itu benar-benar menunggu. padahal Shaqueilla sempat mengirimkan pesan pukul satu malam tadi bahwa ia mungkin akan tertahan di rumah sakit hingga subuh karena ada kasus darurat.
Dengan gerakan pelan, Shaqueilla mengemas barang-barangnya, mengganti flat shoes-nya kembali dengan sepatu kerja, lalu mengenakan trench coat tipis berwarna krem untuk melapisi bajunya dari terpaan angin malam. Ia berjalan melintasi koridor sepi menuju lift privat khusus staf, menggeser kartu aksesnya, dan meluncur turun menuju lantai basement dua.
Suasana area parkir bawah tanah Kencana Medical Center begitu sunyi dan dingin. Suara mesin pendingin ruangan raksasa berdengung halus dari sudut langit-langit beton. Lampu neon memancarkan cahaya putih yang agak redup, memantul di atas deretan mobil-mobil mewah milik para dokter spesialis dan direksi rumah sakit.
Begitu pintu lift terbuka, Shaqueilla melangkah keluar. Suara ketukan hak sepatunya bergema pelan di dalam ketenangan basement. Ia mengedarkan pandangannya mencari tiang bertuliskan B-12.
Di sana, terparkir sebuah mobil yang sangat tidak biasa untuk ukuran seorang suksesor dinasti Djojohadikusumo.
Bukan Rolls-Royce Phantom berpelat nomor cantik dengan sopir pribadi berjas rapi, bukan pula SUV mewah lapis baja yang biasa mengawalnya di jalanan Jakarta. Di bawah tiang B-12, berdiri sebuah coupe klasik buatan Jerman—Porsche 911 Targa keluaran tahun 1980-an berwarna abu-abu metalik (slate grey) yang terawat sempurna hingga ke kilap catnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumor Has It
Fiksi PenggemarBagi lingkar sosial kelas atas Jakarta, perpisahan Shaqueilla Latisha Prameswari dan Issa Ghazafar Djojohadikusumo di hari kelulusan SMA lima belas tahun lalu adalah tragedi romansa terbesar dekade itu. Mereka adalah golden couple-sempurna, dipuja...
