#7 AC

9 0 0
                                    

Matanya masih mengerjap-ngerjap terkena cahaya matahari sore. Meskipun jam sudah menunjukkan pukul 16.30, nyatanya badannya masih ingin memeluk kasur lebih lama.

"SAKA, CUCI MOBIL!" teriak seseorang yang sangat Saka kenali suaranya. Ia beranjak dari tempat tidur dan menuju balkon. Kepalanya meneliti sekitar, tapi tak ada seorangpun di sana. Ia pun bergegas turun dan memastikan suara tersebut.

"SAKA, UDAH SORE WOII! MATAHARI DAH HAMPIR TENGGELAM, NOH!" teriak pemilik suara yang sama.

"IYAA!" jawab Saka yang juga mulai kesal dengan suara itu. "Sabar elah, nyawa belum kumpul juga," gerutunya.

"Kamu nggak salat Asar?" tanya Pak Indra-ayah Saka-yang muncul dari dapur.

"Eh, Papa. Udah pulang, Pa?" jawab Saka mengalihkan pembicaraan.

"Tanya apa dijawab apa."

"Udah, kok, udah salat. Cuma tadi ngantuk banget terus tidur lagi, deh," tutur Saka mengungkapkan alasan.

"Jangan diulangi! Cukup kali ini aja!" kata Pak Indra tegas.

"Siap, Komandan!" Saka memasang sikap hormat, lalu membungkukkan badan dan pergi.

Ia melanjutkan niatnya untuk mencari pemilik suara tadi. Saka sudah mengitari seluruh sudut rumah. Ia juga mengecek halaman belakang. Namun, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Bahkan Saka hanya menemukan ayahnya yang tengah membuat kopi.

Matanya tiba-tiba menangkap seseorang di taman. Ia terlihat melamun dengan tangan mengepal. "Ya ampun. Badan segede itu bisa luput dari penglihatan gue? Kayaknya gue harus periksa mata, deh."

"Nyari gue, Ka?" tanya Aksa tiba-tiba.

"Iyalah! Gue kirain suara tanpa wujud," jawab Saka sambil menyalakan kran air. Matanya penuh selidik mengamati Aksa yang terlihat lesu.

"Kenapa?"

"Gue?"

"Siapa lagi?"

"Capek gue."

"Capek ngapain? Kayanya seharian main, deh."

"Gue emang capek. Capek nyimpen dendam."

"Ya makanya nggak usah dendam. Udah gue bilangin juga berkali-kali. Pelan-pelan aja lepasinnya. Lagian lo juga nggak mau selidiki lebih lanjut tentang kasus ini."

"Emang ada hal yang belum gue tahu, Ka?"

"Banyak. Tapi lo menutup mata untuk itu. Makanya jangan terlalu polos jadi orang. Lo dibodohi sama dendam lo sendiri tahu, nggak?"

Aksa tiba-tiba melemparkan kanebo yang sudah basah ke muka Saka. Tentu saja, hal itu membuat Saka makin keheranan.

"Apa, sih, Sa? Kaya bocah lo!" Saka berseru sembari melemparkan kanebo itu kembali ke muka Aksa. Sayangnya, Aksa tak menggubrisnya. Saka menyadari, Aksa bukan sedang bercanda.

"Lo orang kedua yang bilang gue bodoh hari ini."

"Orang pertamanya?"

"Dewa."

Mendengar nama yang disebutkan Aksa, Saka mematung. Nama itu sudah lama tak terlintas di telinganya. Mengapa sekarang muncul tiba-tiba? Dan mengapa selalu Aksa yang pertama kali menemuinya? Saka tahu, Bang Dewa adalah korban di sini. Namun, Saka juga tahu bahwa Aksa tak menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

"Gue pengin lepas dari dendam ini. Gue pengin berteman baik sama Bang Dewa lagi. Tapi entah kenapa kejadian itu selalu menghantui gue, Ka. Gue masih nggak terima itu terjadi sama kakak ipar gue sendiri." Mata Aksa menatap kosong halaman rumah. Setetes bulir air mata berhasil menggulir di pipinya. Kecewa, rindu, dan dendam mungkin tengah bergulat di dalam batinnya.

"Gue telanjur sakit hati dengan apa yang gue lihat. Mau bagaimanapun, Bang Dewa tetep salah. Andaikan ada kemungkinan bukan dia yang ngelakuin itu, tapi ada kejadian lain sebelum itu yang bikin gue semakin sadar kalau dia emang pantas dibenci, Ka." Aksa menyambung kata-katanya dengan nada serak. Ia jelas menahan tangis. Bukan hanya karena orang yang dicintainya direnggut kehormatannya, tetapi juga karena dia tidak menyangka atas apa yang pernah dia lihat.

"Gue pengin, deh, kita saling cerita. Apa yang gue tahu bakalan gue ceritain ke lo dan apa yang lo tahu juga harus lo ceritain ke gue."

"Hati gue selalu sakit kalau bahas soal Bang Dewa, Ka. Gue nggak rela. Lo nggak akan pernah tahu rasanya jadi gue. Gue menyaksikan tangisan ketakutan Mbak Andin. Gue menyaksikan dia yang pingsan tanpa ada satupun yang mau nolongin. Gue menyaksikan gimana frustasinya Mas Arya yang gagal untuk menjaga Mbak Andin. Gue menyaksikan itu semua, Ka. Dan ketika gue tahu kalau orang terakhir yang ada di samping Mbak Andin adalah Bang Dewa, gue makin takut. Gue takut akan semua yang udah gue lihat. Gue takut kalau gue akan mengambil keputusan yang salah setelah itu. Makanya gue balik ke Kanada dan berusaha ngelupain semuanya. Tapi nyatanya gue nggak bisa lupa. Bayang-bayang itu kaya yang bakalan selamanya ada di kepala gue."

"Kali ini gue nggak setuju sama lo, Sa. Lo emang terlalu menutup diri untuk kasus ini. Waktu itu seinget gue ada saksi yang bilang kalau dia lagi bareng Bang Dewa di jam tersebut, tapi lo keburu berangkat ke Kanada atas dasar rasa takut lo. Gue juga nggak tahu gimana ceritanya sampai Mas Arya mencabut tuntutannya ke Bang Dewa. Satu hal yang gue tahu, Mas Arya nggak pernah salah langkah."

"Lo balik lagi, kan, ke sini saat itu?"

"Iya. Dan gue berhasil menemukan satu fakta mengejutkan atas kasus ini."

"Kenapa?"

"Maksud lo?"

"Iya, kenapa lo mau cari tahu tentang sebuah kasus yang berhasil bikin Mas Arya merasa terpuruk?"

"Karena gue penasaran dan gue nggak mau dibodohi sama kepolosan. So, ya, gue cari tahu. Mas Arya emang nggak mau cerita, tapi gue ngobrol sama Bang Dewa. Lo tahu, Bang Dewa waktu itu stress karena dia menyadari sebuah fakta bahwa lo membenci dia. Dan lo juga harus sadar, bahwa bukti yang selama ini lo ketahui adalah bukti palsu. Ada orang lain yang dengan sengaja membuat bukti itu. Gue nggak tahu apa motifnya, tapi kemungkinan dia nggak mau namanya kotor karena kasus ini."

"Salah? Salahkah apa yang udah gue lakuin? Rasa benci gue adalah implementasi dari sakit hati karena perlakuan dia, Ka. Rasa benci gue adalah bentuk sayang gue sama kakak gue." Tak bisa menahan lagi, air mata berhasil menetes. Aksa memang selalu bergulat dengan batinnya sendiri atas kasus ini. Rasa sayangnya pada kakaknya yang membuat benci itu selalu mengalahkan akal sehatnya. Mungkin, kali ini akal sehatnya mulai berperan. Akal sehatnya mulai berani mengikis benci yang sudah lama bersarang.

"Lo mulai waras, Sa. Gue tahu kalau air mata lo itu menunjukkan bahwa akal sehat  lo mulai menentang kasus ini, kan? Dugaan lo soal kemungkinan bukan Bang Dewa yang ngelakuin ini adalah bentuk akal sehat lo yang mulai bekerja. Ikuti arusnya, Sa. Gue selalu siap jadi tempat curhat lo soal kasus ini. Trust me, lo nggak salah ngobrol sama gue." Saka mengemasi ember serta kanebo dan beranjak pergi. Seharusnya, mobil yang sudah kinclong menjadi pemandangan indah bagi Aksa. Biasanya ia selalu memuji pekerjaan Saka. Namun, kali ini batinnya masih mengajaknya bertarung dan entah sampai kapan pertarungan itu berakhir.

"Apa dugaan gue bener? Apa mungkin, rasa benci gue udah membelenggu fakta sebenarnya?" gumam Aksa.

***
Selama ini fakta itu memang tertutup. Kini, ketika fakta itu mulai terbuka, apa mungkin akan ada masalah baru yang timbul?

Keep smile and keep spirit!

Salam sayang,
Andaru

Aksara CendekiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang