"Ya, karena pada akhirnya lo bakalan kalah sama menantu idaman mamanya Agnes, kan, Ka. Dia aja setiap ada hp keluaran terbaru langsung beli. Lah, lo, hp dari jaman 5 tahun yang lalu juga nggak diganti-ganti. Mamanya Agnes tepat, sih, emang milih dia. Gue takutnya kalo Agnes jadi sama lo malah cuma dikasih sarapan gombalan mulu tiap pagi," ujar Aksa.
"Emang bener kata orang, curhat sama lo percuma. Bukannya dikasih solusi, malah dibully gue. Sa, Sa, udahlah cepet cari pacar sana! Biar lo merasakan apa yang gue rasakan," timpal Saka.
"Nggak guna pacaran-pacaran, Ka. Ngabisin duit doang. Gue, mah, kalo ketemu yang cocok langsung gue nikahin," jawab Aksa.
"Sok-sokan nggak ada kata pacaran segala. Dulu lo 6 tahun berusaha move on dari Sabina. Tiap malem nangis di balkon sambil meratapi nasib 'gue salah apa, gue salah apa' . Lupa lo sama itu, Sa?" Goda Saka.
"Nih, ceritanya kok melenceng, ya. Kenapa jadi bahas Sabina? Males gue kalo mulai ngungkit-ungkit masa lalu," ujar Aksa sembari meninggalkan Saka.
Aksa dan Saka, Si kembar yang tak pernah akur. Mereka tak pernah melewatkan sehari tanpa adu mulut. Kata Saka, sodara kalo nggak ada berantemnya, tuh, hambar. Anggep aja berantem itu bumbu. Meskipun kini mereka telah dewasa dan sama-sama sudah mempunyai bisnis sendiri, tetapi bertengkar masih menjadi rutinitas wajib tiap hari.
"Stigma masyarakat masih sama, ya, dari dulu. Yang punya mobil mewah selalu jadi nomor satu. Padahal mobil klasik gue harganya juga nggak kaleng-kaleng. Eh, dipikirnya malah cuma mobil butut doang," gerutu Saka yang tiba-tiba datang menemui Aksa di teras belakang sambil membawa secangkir kopi.
"Kebangetan emang kembaran gue, masa lo cuma bawa kopi segelas doang. Buat gue mana?" Tanya Aksa tanpa menanggapi omongan Saka.
"Aksa! Gue lagi curhat malah bahas kopi, sih! Bikin sendiri sana!" Seru Saka dengan nada cukup tinggi.
"Eits... Eits... Kenapa pada berantem? Mas Arya lagi nulis thesis, loh. Sehari tanpa berantem bisa nggak, sih?" Kata Mbak Andin, kakak ipar mereka.
"Saka yang mulai, Mbak. Masa aku nggak dibikinin kopi," gerutu Aksa.
"Punya tangan, kan? Punya kaki, kan? Bikin sendiri, lah. Manja amat jadi cowok! Udah nggak ngerespon curhatan gue lagi," timpal Saka kesal.
"Ya, kan, lo sebagai adik yang berbakti pada kakaknya harusnya bikinin sekalian, lah. Tadi pake bahas-bahas Sabina lagi," ujar Aksa mencoba membela diri.
"Belajar mandiri, kek. Nggak usah apa-apa minta tolong sama orang lain. Lo, tuh, bakalan jadi kepala keluarga. Sadar, Sa. Dari hal kecil aja lo masih manja, terlalu bergantung sama orang lain. Dan ini jadi salah satu alasan kenapa mama nyuruh Mas Arya sama Mbak Andin pindah kesini. Buat ngurusin bocah bau kencur kaya lo," ucap Saka dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"Saka, stop! Kamu nggak tahu apa-apa soal kepindahan Mas Arya sama Mbak. Itu cuma teori kamu. Ya, walaupun apa yang kamu bilang ada benernya. Aksa emang harus dengerin kamu soal kedewasaan yang kamu omongin barusan. Dan Saka, jangan sok jagoan dan ngerasa paling bener. Jangan ngerasa kamu paling tahu segalanya. Oke?" Tutur Mbak Andin menasihati.
"Dan yang kaya bocah, tuh, kalian dua-duanya. Stop berantem! Kakak harus cepet-cepet nyelesaiin thesis kakak. Aksa, belajar dewasa! Saka, jangan selalu merasa paling bener dan sok tahu segalanya! Nggak perlu panjang lebar gue nasihatin kalian, kalian seharusnya udah ngerti sendiri," ucap Mas Arya yang sepertinya juga sudah agak naik pitam mendengar keributan ini.
Begitulah kehidupan mereka. Aksa yang terkadang masih manja, Saka yang sering merasa jagoan dan paling benar, serta Mas Arya yang sesekali menengahi keributan mereka. Tiga bersaudara ini memang berbeda sifat. Mereka juga tak pernah cocok dalam hal apapun. Namun, rasa solidaritas sebagai saudara sangat bisa terlihat diantara mereka. Ketika ada salah satu yang sakit, yang lainnya juga ikut merasakan. Ketika ada salah satu yang dikecewakan, yang lainnya juga ikut naik pitam. Meskipun semuanya memang dibalut dengan candaan lantaran rasa gengsi mereka yang besar. Untung saja ada Mbak Andin yang selalu jadi elemen air yang menenangkan dan rupanya Aksa dan Saka juga harus cepat-cepat mencari elemen airnya sendiri.
***
Waduh, waduh, baru awal Aksa dan Saka udah geger aja, nih. Begitulah gambaran awal seorang Aksa. Semoga suka.Keep smile and keep spirit!
Salam sayang,
Andaru

KAMU SEDANG MEMBACA
Aksara Cendekia
General Fiction"Kamu, tuh, kaya pangeran dari negeri antah-berantah. Aku nggak tahu kamu siapa, tapi tiba-tiba kamu hadir saat aku terluka. Tuhan itu emang baik, ya." -Cendekia- . . . "Jodoh itu emang nggak perlu dicari. Udah jauh-jauh keliling dunia, eh ujung-uju...