BAB 5

52 9 1
                                    

"kesempatan datang bukan karena ada kesempitan"

Allura masih mencak-mencak tak jelas, sedari perjalanan pulang Sagara terus saja menggodanya.

"sama-samaa" Sagara tersenyum lebar, memberi kode agar Allura berterima kasih atas tumpangannya.

"ogahhh"

"gak disuruh mampir dulu nih? kasih minum atau makan juga--"

"jangan ngelunjak, sana pulang" Allura menunjuk dengan dagunya, berharap Sagara segera enyah dari hadapannya.

"gue mau mampir, gimana dongg?" Alis tebal tersebut sengaja dinaik turunkan untuk menggoda Allura.

Namun, Sagara sadar sebelum semuanya terungkap. Cowok tersebut nampak begitu tergesa entah apa yang menjadi faktornya.

"lah? gak jadi mampir?"

"Lain kali aja ya Al, gue lupa kalo ada urusan" Sagara mengusap puncak rambut Allura, kemudian menghidupkan mesin motornya dan berlalu dengan cepat.

"bagus lah kalo pulang"

🐣🐣🐣🐣

Allura membuka pintu kamarnya, tapi tatapannya tertuju pada sampah yang berserah sampai didepan kamarnya. Cowok itu lagi.

Allura mendengus pelan, kemudian beralih tepat didepan kamar kost nomor 11, mengetuknya dan menunggu pemilik kamar membuka.

Dengan balutan kaos berwarna hitam, yang dipadukan dengan celana panjang berwarna senada. Jangan lupakan helm yang ada di tangan kirinya lengkap dengan kunci motor.

"kenapa?"

"ha-- em... itu"

Entah kenapa, Allura tiba-tiba gugup ditanya seperti itu. Apalagi tatapannya.

Teduh.

"ngomong yang jelas" Cowok tersebut tengah sibuk mengunci pintu kamarnya, yang terlihat akan keluar.

"sampah lo, beresin dulu" tegur Allura yang melihat beberapa kaleng minuman soda, lengkap dengan bungkus camilan yang teronggok begitu saja.

"gue sibuk"

Cowok tersebut berlalu begitu saja, membuat Allura semakin kesal.

Belum habis kesalnya terhadap Sagara, ini sudah ada lagi yang membuatnya donggol.

Tapi, btw Allura masih belum tau nama cowok itu. Jadi penasarankan.

"lah terus ini siapa yang beresin woi!!!"

Allura berteriak memandang lantai dasar, menemukan cowok tersebut masih baru mengenakan helm.

Langkah kakinya berjalan menyusuri tangga dengan cepat, nafasnya sedikit tersenggal, tapi untung saja Allura masih sempat mencegah cowok itu. Yang entah siapa namanya, Allura juga masih belum tau.

"heh!! beresin bentar noh sampah lo" Allura refleks menarik kaos yang dikenakan cowok tersebut, yang justru langsung ditepis kasar.

"beresin sekalian, entar gue bayar"

Allura seketika merasa dilecehkan, emosi yang sedari tadi ia pendam bahkan sudah siap untuk menguar.

ALLURATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang