untuk yang terakhir

91 11 17
                                        

Sebelumnya makasih banyak buat kalian yang masih baca story ini, terharu banget:' padahal cuma karangan semata yang aku tuangkan di wetped.

Mau tanya, kalian suka sama cerita ini? Ko bisa suka?

Apa cerita ini bisa ngebuat imajinasi kalian hidup?

Seneng banget sumpah:' makasih buka dukungan, vote juga komen nya. Dan maaf aku ga bisa bales satu satu komenan kalian.🙏

Dan yang terakhir, kalian harus play dulu video dibawah ini sebelum baca. Biar kalian tau kejadian yang sebenarnya dari part sebelumnya.

Ini video aku buat selama dua hari:' hiks-














Bangsat°~



"BANGSAT!"

BUGH!!

Tinjuan telak mendarat di rahang kiri tegas Seungcheol, tidak menghindar bahkan tau siapa yang meninjunya pun Seungcheol tidak tau dan mungkin tidak peduli karna raganya menapak bumi lain dengan jiwanya yang entah sedang berkelana kemana, benak nya terus berputar mengulangi kejadian satu jam lalu dimana ia berdebat dengan sang kekasih-ralat- mantan kekasih tepat di jalan raya ditengah penyebrangan. Sialnya, mobil sport hitam dengan kecepatan di atas rata-rata melaju menghantam tubuh nya dengan keajaiban yang membawa Seungcheol terdorong sampai sisi trotoar, posisi nya tergantikan oleh seorang malaikat dengan senyum teduh nya.

Ya, dengan kata lain Seungcheol selamat tapi tidak bagi seseorang yang menggantikan posisinya, tubuhnya terhantam oleh bagian depan mobil hingga membuat tubuhnya terlempar beberapa meter kedepan. Ironisnya, sebuah truk pembawa barang dari arah berlawanan menghantam kembali tubuh itu. Sungguh, kecelakaan yang sangat mengerikan sekaligus menyedihkan.

Jangan tanya bagaimana Seungcheol dan malaikat itu berakhir di rumah sakit sekarang, karna sungguh kejadian ini terlalu cepat. Seungcheol tidak peduli dengan tubuh nya yang penuh dengan darah dan juga wajah nya yang sudah tidak berbentuk. Dia lebih peduli dengan seseorang yang sedang melawan kematian di dalam ruangan ICU.

"CHOI SEUNGCHEOL! BRENGSEK!!"

Seungcheol menerima itu, Seungcheol berhak menerima semua umpatan dan perkataan kasar untuk dirinya dari seseorang yang menyandang sebagai seorang kakak kandung, Kim JunMyeon atau lebih sering di sapa dengan Suho.

Iya benar, malaikat yang Seungcheol maksud adalah Kim Sunhi, pemilik senyum teduh yang mampu membuat lawan jenis terpikat oleh nya.

"KENAPA!! KENAPA! Kenapa bisa-" nafasnya tercekat,kepalan tangan memukul keras dadanya yang terasa perih sangat perih, air mata yang tak terbendung terus mengalir bebas. Suho tidak peduli dengan keadaan sekitar, dia hanya ingin Sunhi keluar dari ruangan itu dan langsung memeluk nya mengatakan kalau semua ini hanyalah mimpi.

Sayangnya, sekeras apapun Suho menangis pintu ruangan itu tidak bergerak sedikitpun.

"Maaf, semua ini gara gara gue"
Suho makin keras mengeluarkan tangis nya, bukan itu yang ingin dia dengar, kalimat yang sudah diucapkan Seungcheol seolah seakan semuanya tidak ada harapan lagi. Seungcheol ikut bersimpuh di samping Suho memperlihatkan bahwa bukan hanya Suho yang terpukul tapi juga dia, dia yang menyaksikan bagaimana tubuh kecil itu terhantam duakali dengan kerasnya dan juga karna menyelamatkan dirinya.

Tangis saling menyahut di antara mereka, suasana rumah sakit saat ini sedang diliputi duka. Hanya doa yang mereka ucapkan disela tangis nya.



~°Bangsat°~




Setelah delapan jam pintu putih itu tampaknya masih enggan bergerak barang sedikit pun, apa para dokter betah di dalam sana? Sementara diluar berharap dengan hati bergetar mengharapkan kabar baik.

Keadaan dua lelaki yang sedang duduk berseberangan di depan ruangan ICU tidak begitu baik, satu lelaki dengan baju putih dan kemeja hitam sebagai luaran menatap kosong lantai rumah sakit masih dengan air yang perlahan mengalir, punggung yang rapat menempel pada kursi juga mulut yang tidak henti mengucap doa. Lain dengan kondisi lelaki dengan hoodie hitam yang sudah dipenuhi oleh darah ditambah luka dan lebam menghiasi wajah tampan nya, sembab, bau anyir dan nyeri seakan memdominasi keadaan nya.

Seungcheol dan Suho, dua lelaki tabah yang terus menunggu kabar baik dari dalam sana.

"Suho!"

Perhatian Suho pada lantai kosong teralihkan saat seseorang memanggil nya. Dia Kim Mingyu, lelaki tinggi dengan kulit tan berwajah manis berlari menghampiri nya lengkap dengan seragam sekolah. Kekhawatiran terlihat jelas di wajah nya, tapi sebisa mungkin dia menahan emosi untuk tidak mengakhiri hidup Seungcheol. Jika saja tangan lemas Suho tidak menahan nya untuk menghabisi Seungcheol, lelaki itu sudah tinggal nama di tangannya.

Ya, Mingyu masih sabar walaupun dia menahan nafsu itu mati matian.

"Ada apa?! Sunhi mana?! Sunhi baik baik aja kan?! Pacar gue dimana?! Jawab Ho!" Pertanyaan bertubi Mingyu lontarkan sembari mengguncang pundak tegap Suho yang sayang nya terkulai lemas saat ini. Suho terdiam, dia tidak ada sedikitpun tenaga untuk mengeluarkan barang satu kata.

Tidak menerima jawaban, lantas Mingyu terdiam dengan beribu pikiran negatifnya saat dia melihat hoodie berlumur darah yang dipakai Seungcheol.

"Ga! Ga mungkin! Choi Seungcheol! Lo-" sekuat apapun Mingyu menahan, emosinya lebih menguasi. Ia bergegas menarik kerah hoodie Seungcheol dan saat itu juga bau anyir tercium pekat, Seungcheol tidak bergeming seakan ia menerima semua hukuman apapun itu asal Sunhi kembali.

Bugh!!

Satu pukulan mendarat di tulang pipi kiri, Seungcheol tersungkur merasakan pening juga sesuatu yang mengalir dari hidung nya. Ia menutup matanya sejenak menghilangkan pening yang semakin terasa, tangannya terulur menyeka darah kental yang keluar dari hidung mancungnya.

Lemas, itu yang Seungcheol rasakan sampai berdiri pun beranjak untuk kembali duduk dikursi, Seungcheol tidak kuat.

Mingyu masih menggebu di atas nya, terlihat kilatan amarah di kedua matanya. Mingyu benar benar marah dan sepertinya ia tidak akan pernah menerima kata maaf dari Seungcheol.

Seungcheol cukup tau dari untuk itu semua.

Kriiet~~

Atensi mereka bertiga teralihkan, ada seseorang yang keluar dari ruangan! Seketika Seungcheol berdiri mengabaikan peningnya juga kekuatan nya yang entah datang darimana. Begitu juga dengan Suho, lelaki itu langsung menghampiri lelaki paruh baya yang mengenakan pakaian operasi, Suho gugup, ia takut semua harapan nya hanya akan menjadi angan.

"Bagaimana keadaan Sunhi dok?!" Tanya Mingyu mewakili dua lelaki disampingnya.

Helaan nafas berat terdengar, kedua tangannya mengusap gusar wajah nya, perlahan kepala dokter itu menggeleng pelan.

Semua kegugupan dan pikiran negatif dibenak ketiganya semakin besar. Apakah ini yang terakhir?

"Maaf-"



























Tbc

Nulis apaan sih:'

Gila aja, aku nulis sambil nahan buat ga ningis

Bangsat -S.CoupsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang