bahagia atau duka?

102 40 31
                                        

🌼 HAI SEMUANYA, INI ADALAH CERITA PERTAMA AKU. JADI VOTE AND COMENT YA BIAR AKU SEMANGAT NULISNYA 🌼


Niatnya author mau up kemarin tapi ternyata di rumah nenek nggak ada sinyal sama sekali
Jadi baru bisa up hari ini..
Maaf yupss

SELAMAT MEMBACA😊

________________________________________

Yaya telah selesai membersihkan diri, dia memutuskan untuk turun menemui Rafqi. Yaya mengenakan pakaian santainya, kaos putih polos yang di padukan dengan celana pendek di atas lutut. Dan membiarkan rambut nya terurai.

"Qi laper nggak?" tanya Yaya begitu sampai di hadapan Rafqi.

"Kenapa emang?" Bukan menjawab Rafqi malah balik bertanya.

"Gua mau buat seblak, lo mau gak?" tanya Yaya

"Boleh deh."

Yaya pun bergegas ke dapur dan mulai membuat seblak untuknya dan Rafqi.

Rafqi membuntuti Yaya ke dapur kemudian duduk di salah satu kursi di meja makan. Rafqi memperhatikan setiap gerakan Yaya dengan posisi kepala diatas meja.

15 menit berlalu, akhirnya seblak buatan Yaya siap untuk disajikan. Dia meletakkan seblak di dalam mangkok kemudian membawanya ke meja makan.

Ternyata Rafqi telah tertidur. Yaya ingin membangunkannya namun ketika melihat wajah lelah milik Rafqi, Yaya pun mengurungkan niatnya.

Yaya duduk di kursi seberang kemudian mengamati wajah Rafqi.

"Ganteng!" Satu kata lolos dari bibir Yaya.

"Uda dari lahir Ya, uda puas belum lihatin nya?" goda Rafqi dengan mata yang masih tertutup.

"Hah?" Yaya melongo.

"Uda belum? Kalau belum gua mau balik merem nih," ujar Rafqi yang telah membuka matanya.

"Apa sih! siapa juga yang lihatin situ, orang gua lihatin oppa Jungkook, nih!" protes Yaya sambil memperlihatkan ponselnya.

Yaya menggeser mangkok seblak ke hadapan Rafqi, "uda nih makan."

Rafqi pun langsung menyantap hidangan tersebut sampai tandas, karena jujur saja dia memang sedang merasa lapar.

"Gimana, enak nggak?" tanya Yaya.

"Enak, Kalau garamnya di kurangin dikit jadi enak banget," tutur Rafqi.

"Jadi ini ga enak dong? Padahal tadi garamnya aku kasih dikit doang," keluh Yaya dengan wajah kecewa.

"Enak Ya, kalau sering dilatih pasti jadi sempurna." Rafqi menenangkan.

Selesai menghabiskan seblaknya, Yaya dan Rafqi kembali ke ruang tamu untuk sekedar mengistirahatkan tubuh dan menonton TV.

"Assalamualaikum," ucap Khay saat memasuki rumah dengan seseorang di belakangnya.

"Wa'alaikumussalam," jawab Yaya dan Rafqi bersamaan.

"Abang! Loh katanya sam... Bundaaa!" Ucapan Yaya terpotong karena menyadari perempuan di belakang Khay. Yaya langsung berlari kepelukan Hauri.

Rafqi pun langsung beranjak membuntuti Yaya.

Ya benar, perempuan yang bersama Khay adalah Hauri, Bundanya Yaya yang telah lama pergi keluar kota untuk bekerja.

"Kenapa Bunda pulang gak bilang-bilang... kan Yaya bisa ikut Abang ke Bandara," rengek Yaya dalam pelukan Hauri.

"Maaf sayang, yang penting kan bunda uda sampai rumah," ucap Hauri.

"Iya deh gapapa," kata Yaya sambil melepas pelukannya. Sedetik kemudian Yaya menatap tajam pria yang telah membohongi nya.

"Ish Abang boong, Yaya benci!" kesal Yaya sambil memukuli lengan Khay.

"A-ahh shh, sakit dik... Kebiasaan banget."

Hauri hanya tersenyum menyaksikan interaksi kedua anaknya tersebut. Kemudian menyadari bahwa ada pria asing di rumahnya.

"Hai ganteng! kamu pacarnya Yaya ya?" tanya Hauri.

"A-ahh bukan Bun... kenalin ini Rafqi temen Yaya!" ujar Yaya.

"Hallo Tante!" sapa Rafqi menyalami tangan Hauri.

"Hai ganteng! saya Hauri bundanya Yaya," ucap Hauri.

"Kalau gitu saya pamit pulang Tante, uda sore, saya belum mandi juga." Rafqi berpamitan karena merasa tidak enak.

"Ndak mau ngobrol dulu sama Tante?"

"Maaf Tan... Lain waktu saya sempatkan main lagi buat ngobrol sama Tante."

"Okay Tante tunggu loh ya!"

"Iya Tante, pasti! " ujar Rafqi meyakinkan.

"Yuk, gua anter!" ajak Yaya.

"Permisi Tante, bang Khay... Assalamualaikum," pamit Rafqi kemudian keluar rumah di temani Yaya.

"Makasih ya Qi," kata Yaya.

"Ok... gua pulang!" pamit Rafqi. "Kapan-kapan buatin seblak lagi ya!" lanjutnya sambil terkekeh.

"Hati-hati Qi," ucap Yaya sambil tersenyum kemudian di balas anggukan oleh Rafqi.

Setelah motor Rafqi sudah tidak terlihat, Yaya pun masuk menemui Hauri, ternyata Hauri tidak ada.

"Mungkin Bunda istirahat, gua kekamar aja deh," ucap Yaya bermonolog, kemudian pergi kekamarnya.

Tiba dikamar Yaya langsung merebahkan tubuhnya di kasur, lalu mengambil ponselnya untuk sekedar melihat aplikasi WhatsApp.

"Astaghfirullah! Apa-apaan ini?" Yaya kaget melihat banyaknya pesan yang masuk. Sebenarnya bukan banyak yang chat, hanya saja grup kelasnya yang begitu rame.

Kaparat

1810 pesan belum dibaca

@yaya_Ri : Grup apaan nih?

@bagas : Eh siapa ya?

@kamusiapa : 2in

@pandu : 3in

@zahra : 4in

@laila.el : 5in

@bima : 20in

@pras_tyo : Anjir! kok udah 20 sih

@Rissa : welcome Yaya 😁

@Raf_Q : 999999999in

@Ken : grup kelas, Ya.

@yaya_Ri : oh, tquu Ken, tquu Rissa.

Setelah mendapat jawaban yang tepat Yaya pun langsung keluar dari kolom chat grup tersebut. Yaya tidak berniat untuk nimbrung hari ini. Akhirnya Yaya memutuskan untuk keluar kamar.

Setibanya di ruang keluarga Yaya langsung duduk di samping Hauri kemudian memeluknya sambil berkata, "Bunda... Yaya kangen pakai banget!" Hauri langsung mencupit pipi Yaya yang terlihat sangat menggemaskan.

"A-ahh, sakit Bun!" Yaya memanyunkan bibirnya yang membuat dia tampak semakin menggemaskan.

"Sayang ...." Ucapan Hauri terhenti membuat Yaya menatapnya dengan wajah penasaran.

"Ada sesuatu yang mau Bunda katakan."

"Iya Bunda, mau ngomong apa emang?" tanya Yaya semakin penasaran.

Hauri membenarkan duduknya sebelum berkata "jadi bagaimana ..."

***

Gimana guys suka ndak sama part ini?

Jangan lupa tinggalkan jejak ya

Jangan lupa jaga kesehatan

Good luck buat aku, kamu, dan kita semua

Ayunindya (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang