Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 28 Februari 2025
Ini adalah hari Jum'at pada tanggal dan waktuku, hari pertama di bulan Ramadhan yang berarti libur sekolah akan dimulai, aku akan merindukan perjalanan pulang di bawah senja dengan Renjun, padahal jarak rumahnya dan rumahku hanya berjarak beberapa meter dan tidak harus menggunakan kendaraan untuk menjangkaunya tapi kenapa aku merasa tidak menyukai hari libur barang satu atau dua hari.
Menjalani hari tanpa Renjun itu terasa hampa, padahal jika ku ingat lagi kami memiliki janji untuk bertemu di rumahnya. Renjun bilang, dia ingin mengajarkanku sesuatu yang berkaitan dengan negara kelahirannya, aku tidak akan diberikan pelajaran untuk menari tradisional China kan? Jika iya mungkin aku harus segera membatalkannya, meski harus mengorbankan hariku bersama pemuda itu tapi jujur saja aku tidak akan memiliki kemampuan yang bagus dalam menari ataupun sebagainya.
Aku teringat saat dia memintaku untuk datang ke rumahnya pada siang hari.
"Rhea, mau datang ke rumahku besok siang?"
Dia mengucapkan itu tanpa memandang ke arahku, aku menatapnya yang sedang menatap senja di atas sana dan aku mengerti bahwa dia tidak akan melewatkan waktu untuk melihat senja yang sering kami lihat bersama.
"Untuk apa? Tumben kamu memintaku untuk datang" aku tidak menjawabnya langsung karena tidak biasanya dia memintaku untuk datang kerumahnya, meski aku sering datang ke sana namun itu hanya untuk memenuhi undangan yang mama berikan padaku, hanya sekedar makan siang atau makan malam dan mungkin pada hari-hari perayaan China lainnya.
"Aku ingin kamu mengetahui sesuatu tentang tanah kelahiranku, dan kamu tidak boleh menolak karena ini perintah bukan permintaan"
Untuk kali ini dia menoleh kepadaku dengan senyumanya seperti biasa, tapi aku sedikit terkaget saat tanganya mulai terulur untuk menyelipkan anak rambutku yang mulai berantakan di terpa angin sore.
"Kalau begitu seharusnya kamu tidak usah bertanya lagi"
Dia terkekeh dengan jawabanku, aku sedikit terpesona saat melihat wajahnya yang diterpa cahaya jingga dengan rambut berponinya yang sedikit berantakan karena angin yang hilir mudik menabrak kami, dia terlihat seperti laki-laki yang sempurna di mataku meski aku tahu jika dia tidak sesempurna itu.
Dan siang ini aku datang kerumahnya, aku tahu kenapa dia memintaku datang pada siang hari, karena bisa dipastikan jika dia tidak akan memiliki waktu senggang pada pagi hari, entah kenapa aku sedikit hafal dengan kebiasaanya saat kami memiliki waktu libur. Pagi hari di hari libur sudah dipastikan jika ia akan bangun terlambat karena begadang bermain PlayStation dengan Jaemin pemuda berdarah Indonesia-Korea yang juga tinggal di samping rumahnya, lalu setelah itu dia akan bersiap membantu mama dan babanya mengurus toko sembako sampai siang dan itu alasan kenapa Renjun selalu memintaku datang pada siang hari.