05. Keyakinan

36 9 1
                                        

Jakarta, 29 Maret 2025

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jakarta, 29 Maret 2025

Hari itu aku menulis kisahku dan Renjun tentang apa yang membuatnya tertarik dengan keyakinanku, aku menulisnya tepat di bangku paling pojok sendiri di dalam kelas yang sepi karena guru tidak kunjung datang hingga beberapa siswa dikelas ini memutuskan untuk berkeliaran dihalaman sekolah.

Aku sudah biasa menjadi sosok yang selalu terlupakan atau bahkan seperti tidak terlihat di mata mereka, namun setidaknya aku hanya perlu satu teman yang benar-benar menjadi temanku saat suka maupun duka dan aku menemukanya.

Suara riuh terdengar dari arah luar kelas, aku dapat mendengar celotehan mereka tentang sekolah yang di bubarkan lebih cepat karena guru sedang mengadakan rapat sehingga tidak bisa mengajar hari ini.

"Guru lagi ada rapat, sekolah dibubarin tapi awas ya gue gak mau kalo kalian mampir kesana sini harus langsung pulang!"

Itu suara Alwi ketua kelas kami, aku melihatnya sebagai seseorang yang bertanggung jawab dan cukup baik, dia juga laki-laki yang sopan dan taat beragama namun aku sedikit tidak menyukai teman-temannya yang terlihat seperti preman pasar, begajulan tapi yang aku tahu mereka tidak pernah meninggalkan sholatnya.

Setelah seruan Alwi meredah, mereka langsung berbondong-bondong untuk keluar dari kelas, menyisakan aku yang sendirian di pojok sini, tapi bukan masalah karena aku memang berniat menunggu Renjun di dalam kelas dan bisa aku pastikan jika aku menunggunya di koridor depan akan ada banyak tatapan sinis yang tidak suka padaku setidaknya aku ingin menggindari itu.

Ternyata tak sampai harus nenunggu lama aku dapat melihat pemuda itu yang menengokan kepalanya masuk kedalam kelasku, dia tersenyum saat mendapatiku disini, Renjun melangkah masuk sambil terus memandangku.

"Mau pulang sekarang?" tanyanya saat sudah berada di hadapanku

"Udah dzuhur aku mau sholat dulu, gak papa kan?" tanyaku sambil membereskan barang-barangku lalu menatapnya meminta persetujuannya dan dia mengangguk.

"Kita memang teman atau bahkan sahabat, namun aku tidak akan melarang kewajibanmu sebagai hambaNya. Kamu harus taat pada agamamu begitupun dengan aku, meski Tuhan kita beda namun bukan berarti aku bisa melarangmu untuk taat pada Tuhanmu"

Aku tersenyum mendengar ucapannya, sekali lagi dia membuatku semakin jatuh dalam pesonanya namun itu juga menyadarkanku bahwa jarak kita tidak pernah berubah dari dulu ataupun sekarang, setidaknya dia dapat menghormati apa yang aku percayai dan begitupun sebaliknya.

Aku sudah bilang jika Renjun itu dewasa, kedewasaanya yang ku kagumi semua tentang dirinya terasa nyata adanya jika dia terlihat seperti malaikat, begitu banyak kalimat di otakku untuk tidak mencintai seorang hamba dengan berlebihan apalagi dia berbeda keyakinan denganku tapi entah kenapa aku merasa semakin hari rasanya semakin dalam aku terjerat dalam pesonanya.

Diary Rhea 134340 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang