Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
18 Februari 2025
Hari ini kelasku memiliki pelajaran olahraga yang sama dengan kelas Renjun, aku dapat melihat pemuda itu di kerumunan anak laki-laki kelas Xll IPA 1 sedang bercengkerama dengan beberapa teman kelasnya. Renjun tidak seperti aku yang sering menghilang atau dengan sengaja dihilangan peredaranya bahasa kasarnya diabaikan, aku sudah bilang jika dia adalah bintang yang bersinar dan aku tidak keberatan jika dia memiliki lebih banyak teman bukan hanya dengan diriku saja.
Dan aku juga sudah bilang jika tutur bahasnya akan berbeda saat dia bersamaku dan bersama orang lain, aku dapat melihatnya dari belakang kerumunan anak perempuan kelasku yang dengan malas memasuki lapangan yang mulai panas, dia tersenyum dan sesekali tertawa terpingkal-pingkal karena tingkah laku ajaib yang ditunjukan beberapa temannya, sedangkan aku hanya sebagai penikmat tersembunyi disini.
20 menit menunggu, tapi sepertinya guru olahraga kami tidak akan datang mungkin saja dia memiliki urusan yang lebih penting dan tidak bisa ditinggalkan hanya untuk mengajar kami saat ini. Aku dapat mendengar teriakan salah satu teman sekelasku yang mengatakan jika kami tetap harus melakukan olahraga meski tanpa di dampingi oleh guru.
Aku sedikit bingung kali ini, sejujurnya aku sungguh tidak mahir dalam kegiatan lapangan ini, mungkin aku hanya bisa olahraga biasa seperti berlari atau semacamnya, tidak dengan permainan bola kecil ataupun besar.
"Aku tahu kamu sedikit tidak suka olahraga, bagaimana kalau kita main ini"
Aku cukup kaget saat melihatnya yang sekarang tepat berada di depanku sambil menyodorkan sebuah hula hoop yang dia bawa dari ruang olahraga. Aku tahu jika dia cukup mahir memainkan ini dan aku fikir tidak ada salahnya jika aku mencobanya, setidaknya aku tidak hanya berlari mengelilingi lapangan ini sebanyak 5 atau 10 kali.
"Ayo" aku menjawabnya lalu menarik hula hoop yang dia berikan padaku.
"Baiklah kalau begitu, siapa yang berhasil mewati garis tengah lapangan terlebih dahulu akan menang dan sebagai hukumanya yang kalah harus menggendong yang menang" ucapnya sambil menatapku jahil.
Dia ataupun aku sangat tahu sekali siapa yang akan menang dalam permainan yang kami buat ini, tentu saja dia bukan aku, bahkan aku sendiri tidak pernah bermain benda berbentuk lingkaran ini dan bodohnya aku menerima tawaranya.
Kami berdiri sejajar dengan hula hoop yang sudah ada di tangan masing-masing, aku harus mengingat bagaimana dulu saat ibu mengajarkanku untuk memainkan alat ini tapi percuma itu tidak akan membuatku menjadi pemenangnya.
Setelah hitungan satu sampai tiga, kami mulai berlomba-lomba untuk berjalan sebisa mungkin dengan hula hoop yang terus berputar di pinggang kami namun sepertinya aku memang tidak memiliki bakat dalam olahraga sekecil apapun kecuali lari, benda berbentuk lingkaran ini sama sekali tidak bertahan lama berputar di pinggangku sedangkan aku setengah perjalananpun belum dan aku dapat melihat Renjun yang hampir mencapai garis tengah lapangan saat ini, sudahlah aku menyerah padahal aku sudah tahu jika nantinya aku akan kalah.