Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 28 Januari 2025
Entah ini sudah bulan keberapa aku berada ditingkat akhir sekolah, selama 2 tahun belakangan ini seperti biasa aku selalu tertutup kabut tebal untuk mereka yang selalu terlihat bersinar. Hanya duduk sendiri di pojokan perpustakaan dengan buku-buku tebal tanpa gambar ketika jam istirahat berbunyi sepertinya adalah salah satu peredaranku di sekolah ini. Berbeda dengan kebanyakan anak yang akan datang ke kantin untuk makan siang atau sekedar bercengkerama dengan temannya, namun sangat berbeda juga dengan aku yang terlihat dengan mata telanjang namun tidak memiliki nama di mata mereka.
Hari ini ceritaku untuk dia, aku tidak tahu darimana datangnya bintang terang itu, namun tiba-tiba saja dia datang ke hadapanku dengan kata "Hai" yang membuat duniaku jungkir balik setelahnya.
"Apakah kamu baik-baik saja?" dia berbisik pelan di sampingku, karena kami sedang berada di perpustakaan.
Semenjak hari itu aku dan matahari kini tidak selalu jauh sejauh 4,4 -7,3 miliar km jauhnya, namun kini terasa seperti sedekat nadi dengannya.
Senyuman yang aku lihat saat pertama kali kami bertemu tetap terekam jelas diingatanku dan saat dia melambaikan tanganya dengan riang meski dia mengaku jika kami tidak saling mengenal namun dia menginginkan jika suatu saat nanti aku dan dia akan menjadi seperti hujan dan pelangi yang saling melengkapi tapi aku tahu jika itu tidak semudah yang kelihatannya.
Dengan begitu banyak benang merah yang merajut kisah tanpa nama ini, tidak mudah untuk menyelesaikan sebuah cerita dengan akhir bahagia, tapi sebisa mungkin aku dan dia ingin saling menunjukkan sisi dunia lain yang lebih indah dan tidak pernah di anggap ada oleh bintang yang lain.
Karena hari ini aku masih menjadi bagian dari dunia matahari.
"Kamu tidak bosan setiap hari selalu berada di tempat yang sama?" dia mulai kembali berucap atau lebih tepatnya untuk kesekian kalinya dia bertanya tentang peredaranku yang selalu aku jawab dengan jawaban "Tidak".
Selalu ada perbedaan saat dia berbicara denganku dan saat dia berbicara dengan orang lain. Aku merasa seperti seseorang yang spesial jika kami sedang bersama, tutur kata dengan penggunaan bahasa yang cukup baku dengan pemilihan kata aku dan kamu yang cukup membuatku merasa diperlakukan berbeda dalam artian spesial untuknya.
Renjun, laki-laki yang akan mengisi peredaranku dalam satu tahun ini. Dia tidak akan menjadi Charon satelitku tapi dia akan menjadi matahari dalam peredaranku. Renjun, jika harus ku deskripsikan bagaimana rupanya aku bisa bilang bahwa dia mungkin salah satu keturunan Aphrodite yang tidak menjadi dewa atau aku salah, dia memang keturunan dewi kecantikan yang sedang menyamar ke bumi.
Sifat dan sikap yang selama ini aku dapat saat bersamanya, aku bisa menyimpulkan jika dia adalah laki-laki yang baik untuk dijadikan seorang teman, dia sering kali bersikap lembut dan tidak suka membentak, fikiran dewasa dengan kehidupan yang amat mandiri, aku bisa pastikan jika dia bintang yang sempurna di mata para bintang lainnya dan betapa beruntungnya aku jika dia kini berada di sampingku.