Entah hal semacam apa yang tengah menyerangnya dalam tidur. Kerap merasakan bahwa seseorang mengejarnya dalam kegelapan, menuntut si pengelana guna kembali terjaga di malam suntuk. Pria itu tahu bahwa ini bukan kali pertama baginya untuk sekadar merasakan sensasi sekarat, haus akan hidrolik yang dirasa sulit dicari sebab tujuan belum ditetapkan. Gyu Taehyung tahu bahwa ketika seseorang mengatakan bahwa dirinya memiliki bakat dalam hal bertahan hidup, maka ada hal lain yang tengah disembunyikan khalayak ramai.
Detik demi detik berlalu, kian mencekik. Kendati telah membuka mata dengan tarikan napas tersenggal, nyatanya obisidian rusanya hanya dapat bergetar menatap tepat ke arah atap—merasa bahwa sebagian tubuhnya telah hancur tak berbentuk. Adapun fakta terlepas dari semua sensasi tidak biasa dan membuat Taehyung hampir hilang akal ialah, ia masih hidup.
Masih.
Belum mati.
Peluh mengalir di sisi wajahnya. Tubuhnya tak kalah memberikan dampak tersendiri dengan menggigil tak karuan, dapat bernapas lega sebab apa pun yang saat ini tengah dialaminya sudah berakhir. Sudah berlalu entah bagaimana caranya.
"Kau masih seperti dulu. Tidak dapat lari dari apa yang sedang mengejarmu, hm?"
Taehyung memiringkan tubuhnya. Menangkap impresi soeorang gadis cantik yang tengah terbaring tepat di sisinya, mengusap profil wajah si pria dengan lembut. Tak ingin membuatnya kian tersiksa dengan berbagai persepsi perihal apa yang baru saja dialaminya. Berdiskusi agaknya bukan jalan ke luar yang dinilai efektif, sehingga keduanya tak melakukan apa pun selain saling menatap. Tak melepaskan walaupun sedetik sebab membutuhkan waktu untuk sekadar mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Bukankah aku sudah mengusirmu dari sini?" Taehyung bertanya.
Gadis itu spontan mendengkus geli. Menanggapi bahwa apa yang baru saja dikatakan oleh Taehyung tidak lebih dari sekadar omong kosong belaka. Membenarkan posisi tidurnya dan kian mendekat tepat ke arah di mana pria tersebut berada, Hemi tahu betul bahwa Taehyung merupakan pribadi yang keras hingga membutuhkan sedikit usaha untuk sekadar memahat namanya hingga terpatri di dalam sana, di dalam diri Taehyung. "Ya, aku rasa kau benar. Kau sudah mengusirku, dan aku justru menetap di sini. Tidakkah itu menyebalkan? Jelas harus diberi pelajaran."
"Lalu kenapa tidak pergi?" Ia bertanya. Begitu tegas. Tidak memberikan kesempatan bagi lawan bicaranya untuk sekadar berpikir dan membuka suara sebab tertekan.
"Karena aku membutuhkanmu. Atau, karena ini merupakan rumahku."
Benar. Taehyung tidak memiliki tempat untuk sekadar bernaung, atau lebih tepatnya terlalu lelah untuk berkendara terlampau jauh. Baik itu tubuh maupun pikirannya, keduanya sama-sama tidak berkontribusi dalam hal membantunya ke luar dari permasalahan. Seperti menemukan bom waktu, kehadiran Hemi di dalam hidupnya yang semula terasa sempurna kini dirasa merepotkan. Membuat hubungan persahabatannya dengan Choi Jimin dipertanyakan di sini, mengenai pria yang belum diketahui keberadaannya dan tidak dapat dihubungi itu—Taehyung tidak tahu menahu; entah bagaimana keadaannya atau maksud di balik semua ini.
Taehyung tidak tahu.
"Coba ingatkan aku, apa yang dapat kulakukan agar kau tidak datang mengganggu hidupku lagi?" Taehyung berusaha meluruskan. Anggap saja bahwa ada hal yang dirasa janggal terlepas dari posisinya yang tak sadarkan diri di atas ranjang, entah apa yang telah terjadi. Sebagian isi kepalanya terasa kosong.
Hemi tampak terkekeh pelan. Merasakan bahwa apa yang sedari awal dipertanyakan keberhasilannya kini telah berada di dalam genggaman, kemenangan ada di depan mata. "Lee Namjoon. Seperti apa yang kita ketahui bahwa kau adalah salah seorang pemegang saham terbesar di perusahaan produksi senjata ilegal. Namun, kau lebih memilih untuk pergi dan sama sekali tidak meninggalkan jejak. Meninggalkan semua di belakangmu, sebagaimana bayangan yang senantiasa berada di antara kedua kakimu," katanya. Berupaya mengingatkan pria yang disinyalir merupakan sosok berpengaruh di ranah ini—Hemi tersenyum tipis. "Kau merupakan apa yang kujadikan tujuan di saat tidak memiliki alasan untuk sekadar hidup. Perlu kau ketahui bahwa saat ini aku sedang sekarat, Gyu. Kau tahu mitosnya, bahwa sebaik-baiknya mereka yang akan mati, tidak akan tenang apabila masih dililit hutang."
KAMU SEDANG MEMBACA
EPIGONE
FanfictionFatamorgana yang Min Hemi ciptakan mengenai sosok Gyu Taehyung justru membuatnya tersesat. Menelusuri setiap puing ingatan yang hilang pasca mengalami kecelakaan, Hemi tidak memiliki sandaran maupun tempat untuk pulang selain ke tempat di mana Taehy...
