10. The Game has Started

78 18 4
                                        




~HAPPY READING~


Gadis itu mengerjapkan matanya membiasakan cahaya masuk, ia meringis sembari memegangi kepalanya yang terasa berat. "Aawww..." ringis Heejin yang baru tersadar dari pingsannya. Gadis itu langsung melihat sekelilingnya aneh. "K-kenapa gua di aula" ucapnya bingung.

Heejin masih memperhatikan sekelilingnya, ia melihat teman temannya yang masih terkapar di lantai aula tak sadarkan diri, gadis itu langsung berlari saat menemukan sosok yang ia cari yang masih terbaring di lantai. "Ji! Jisung! Bangun Ji!!" ucap Heejin panik sembari terus mengguncangkan tubuh Jisung berharap lelaki di hadapannya ini segera sadar.

Beruntung, Jisung langsung membuka matanya, kepalanya juga terasa berat sampai ia tak sanggup untuk mengangkat tubuhnya sendiri. Jisung langsung menatap Heejin yang terduduk di sampingnya. "J-jin, kita dimana?" ucapnya masih setengah sadar.

"Ji, kita di aula sekarang! A-aku gak tau kenapa kita bisa disini" ucap Heejin masih panik. "Yang lain juga belum sadar, kita harus bangunin mereka dulu Ji!" ucap Heejin berusaha untuk tenang, ia segera membantu Jisung untuk berdiri dan mereka berdua pun mencoba membangunkan yang lain.

Setelah berhasil menyadarkan yang lain, anak anak tersebut sama seperti Jisung dan Heejin nampak bingung dan tak sedikit dari mereka yang meringis karena kepalanya terasa sakit, ntah apa yang terjadi sebelumnya pada mereka.

"Kenapa kita bisa disini?!" ucap Sanha gelisah.

"Yang gua inget kita semua masih di kelas dan lampu tiba tiba mati, terus gua gak inget apa apa lagi" ucap Shuhua yang mulai ketakutan.

"G-gue takut, gue mau pulang" ucap Lia ketakutan sembari menggenggam tangan Yeji yang ada di sampingnya.

"Tenang dulu, biar gue coba buka pintu aula" ucap Felix langsung berjalan menuju pintu keluar, ia meraih gagang pintu, namun nihil pintu itu juga terkunci. "Shit! Ke kunci juga" jawab Felix frustasi, dan berhasil membuat sebagian dari mereka panik terutama para siswa perempuan.

"Semuanya denger gue! Jangan panik! Orang yang ngurung kita disini pasti punya alesan, gua yakin masih ada jalan buat keluar dari sini!" ucap Renjun berusaha menenangkan temannya.

Entah kenapa, Yeji jadi geram mendengar ucapan Renjun. "Lo yang harusnya denger gue! Dari awal lo yang ngotot kalo ini semua kerjaan orang iseng, sekarang lo masih bisa nyuruh kita jangan panik?! Gua gak tau ini perbuatan siapa, tapi gue yakin dia orang yang sama, yang ngirim surat kaleng dan pesan itu, sekarang liat kan hasil dari 'ke-gak pedulian' lo, yang selalu lo anggep remeh itu!!" ucap Yeji menatap tajam Renjun, emosinya kini memuncak.

Jinyoung yang berada di dekat Renjun langsung menghampiri Yeji. "Heh! Ini semua gak ada hubungannya sama Renjun, lo berharap dia bakal ngelakuin apa?? Cari tau pelakunya tanpa ada petunjuk apapun. Iyaaa?!!" ucap Jinyoung sembari menunjuk kasar Yeji.

Hyunjin yang berada dekat Yeji langsung menepis tangan Jinyoung. "Jangan kasar bro sama cewe!" ucap Hyunjin.

Yeji kembali menatap sinis Jinyoung. "Iya gue tau ini gak ada hubungannya sama Renjun, tapi kalo aja dari awal dia lebih peka sama masalah ini, mungkin kita bisa lapor ke sekolah atas ancaman pembunuhan. Sekarang, gak ada yang tau apa yang bakal terjadi kalo udah kayak gini. Anjing lo!" ucap Yeji frustasi sembari balik menunjuk Jinyoung.

Renjun yang mendengar semua ucapan Yeji kini benar benar tertunduk merasa bersalah. Apa mungkin ini semua salahnya? Hanya itu yang ada dipikirannya sekarang. "M-maaf" ucapnya pelan sembari masih tertunduk.

Jeno yang melihat itu langsung mengernyitkan dahinya. "Ini apa apaan sih malah berantem! Sekarang pikirin gimana caranya keluar dari sini, bukannya malah saling nyalahin!".

Class of Bullshit | 00LCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang