Part 1

218 49 30
                                        

Pada malam hari, Damian tengah berkumpul dalam markas. Sedang tidak membahas apa apa, hanya sibuk dengan handphonenya dan sesekali mengeluarkan suara.

"Btw Yeji, kenapa tadi lo gak langsung nembak?" Tuding Yeonjun seakan sengaja ingin menyalahkan Yeji.

"Khilaf" jawab Yeji seadanya.

"Mungkin itu salah satu orang yang pernah ngelecehin dia" saut Changbin yang tampak bergurau, namun ia melontarkan itu dengan wajah yang datar.

"Woahh Changbin!! Masuk akal juga sih" Yeonjun menopang dagunya seraya menatap langit langit.

Yeji tidak terima, pasalnya pernyataan mereka seperti sedang merendahkan harga dirinya "Jaga mulut kalian, lo semua kayak gak pernah di lecehin aja"

"Untungnya gua selamat dari rintangan begituan anjir" ucap Yeonjun yang mensyukuri kesehatan yang Tuhan berikan.

"Changbin mah pernah"

"Gua kagak ya anjir, tadi aja lo mohon mohon ke gua, sekarang tabiatnya muncul lagi" elak Changbin.

Changbin termasuk definisi orang yang formal hanya pada saat harus melaksanakan pekerjaannya. Diluar pekerjaan, ia akan menjadi seseorang yang sangat berbeda, dan pada saat itu juga sikap tanggung jawabnya runtuh.

"Hyunjin noh pernah, makanya jadi pendiem sekarang" tunjuk Yeonjun ke Hyunjin yang daritadi hanya menonton perdebatan yang dilakukan tiga orang sekelompoknya.

Memang benar. Pelecehan yang di lakukan oleh tante muda terhadap Hyunjin tentang kasus pengkhianatan narkotika yang gagal untuk di beli membuatnya trauma sampai sekarang.

Pada saat itu, Boss langsung yang turun tangan untuk menghadapi wanita keji sepertinya. Ia meminta Hyunjin untuk menerima ajakan beberapa orang berbadan besar untuk memasuki sebuah kamar di salah satu bar. Hyunjin sudah memberontak, namun beberapa orang berbadan besar itu dapat menahannya dan memberikan peluang yang besar untuk wanita yang disebut sebagai atasannya mendapatkan kendali besar seorang Hyunjin.

Pengalaman Hyunjin hanya sekali ketimbang Yeji, namun sukses membuatnya teringat seumur hidup.

Yeji berjalan menuju sofa dimana Hyunjin duduk dan merangkulkan tangannya ke bahu Hyunjin "Jangan gitu, lo gak bisa bayangin gimana jijik nya lo kalo di posisi kita" niat Yeji ingin menenangkan, tapi Hyunjin menepis tangannya dengan kasar.

Kemudian Mark datang dari arah dapur membawa beberapa potong semangka.

"Let's eat first guyssss" goda Mark dengan memegang nampan.

"Maniak semangka banget sih lo" titah Yeonjun.

Mark meletakkan nampannya diatas meja depan sofa "Daripada lo, maniak Soobin"

Sontak Yeonjun membulatkan matanya, "Diem lo bule kesasar!!"

"Mark gua mau Mark" pinta Changbin menadahkan tangannya.

"Take it by urself, u can use your foot" respon Mark, ia mengambil tiga potong semangka dan duduk di kursi malas.

"Tapi gua mager Mark"

"Kalo gitu gua juga mager" jawab Mark dengan enteng.

Diluar pekerjaan mereka memang memutuskan untuk berbicara dengan informal, rasanya seperti tidak nyaman memakai bahasa formal dengan sesama grupmu, apalagi ketika sedang tidak melaksanakan tugas.

Mengingat umur mereka yang juga tidak terlampau jauh, menjadi poin utama yang membuat mereka memiliki kebebasan di Damian.

"Hyunjin lo gak mau semangka?" Tanya Yeji, dan di hiraukan oleh Hyunjin.

My Ex is My EnemyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang