Haikal dan Perasaannya

7.9K 1K 202
                                        

"Hei,"

Xavier mendongak dari layar televisi, sedang memainkan game dari konsol terbaru "oh, lo Kal."

Xavier lalu bergeser, memberi Haikal ruang untuk duduk.

"Main?" Tawar Xavier. Haikal menggeleng.

Xavier lalu kembali berkutat dengan gamenya. Setelah beberapa menit, ia sudah menamatkan satu arc. Lalu ia istirahat.

Xavier menuju kulkas mini di kamarnya, melempar sekaleng soda ke arah Haikal yang menangkapnya dengan sigap.

"Mama gimana?" Tanya Xavier, menanyakan kondisi Ibu Haikal.

"Yah..." Haikal mengangkat bahu "udah dipindah ke ruang perawatan. Kata dokter udah boleh pulang kalau seminggu ke depan udah stabil."

"Syukurlah." Xavier lalu menyesap soda "siapa yang jaga?"

"Ada Bik Dinah sama Mbak Lastri." Haikal menyebut asisten rumah tangganya "kalau ada apa-apa, gue suruh telpon."

"Jangan sering kelayapan ah. Kasian Mama." Xavier menimpali.

Haikal menggeleng "rumah sakit selalu bikin gue stress. Selama Mama istirahat, mending gue cari udara segar."

Xavier tidak berkomentar lagi. Ia maklum. Dia juga merasa sesak di rumah sakit, pengalaman ketika Tete (Kakek) kesayangannya dulu sakit parah hingga meninggal. Ada traumanya sendiri.

"Ya tapi..." Xavier menambahkan "Mama kan cuma punya lo."

Tidak ada yang bersuara setelahnya. Haikal hanya terdiam memandang ke depan. Xavier memainkan kaleng soda sembari memandang hampa kulit tangannya yang berwarna mahogani.

"Anak-anak jadi kesini?" Tanya Haikal memecah kesunyian "gue mau tanya soal Farah."

"Hah? Oh iya." Xavier tersadar "Anu Kal, kayaknya ada yang perlu kita omongin---"

"Hei, what's up!" Tiba-tiba Ramadhan masuk menyapa mereka "Kal, udah lama lo?"

Ramadhan yang anak kelas sepuluh dan memang sering bermain dengan mereka langsung duduk di dekat Haikal sembari mengajak Haikal dan Xavier tos.

Haikal membalas tos Ramadhan, lalu ia melihat siapa saja yang ada di belakang Ramadhan; Yahya, Onan, Sandi dan Alif. Jonathan tidak ikut, sepertinya sibuk kepanitiaan.

Mereka menyapa Haikal dan Xavier, lalu mencari tempat dimanapun yang mereka rasa nyaman di kamar Xavier.

Setelah masing-masing berkutat dengan apapun yang ada di kamar Xavier---komik, game, komputer, camilan, bahkan hanya tidur-tiduran--- Haikal tampaknya tidak melupakan maksud tujuannya.

Xavier menggigit bibir. Tampak salah tingkah memandang teman-temannya dan Haikal.

"Gimana?" Tanya Haikal lagi "kalian udah minta maaf sama Farah?"

Semua gerakan kecuali Ramadhan yang berkutat dengan gamenya, terhenti. Suasana menjadi kaku seketika.

Haikal menyadari atmosfer yang berubah itu.

"Jadi?"

Tidak ada yang menjawab selama beberapa menit. Hanya suara musik latar game yang memenuhi ruangan.

"Hmm Kal, sebenarnya kita udah minta maaf." Alif memulai menjawab "tapi... Farah nggak mau."

"Nggak mau?" Haikal menyipitkan matanya.

"Kita udah datengin dia dan minta maaf. Tapi dia nggak mau. Ya kalau menurut gue itu hak dia sih." Xavier ikut menimpali. Ia menatap Onan, berharap anak itu tidak menambah runyam masalah.

HelianthusCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang