Ketika Mereka Membicarakan Masa Lalu

6.3K 991 133
                                        

"Awas Mas!!!"

"Awang!!"

"Bundaaaa!! Ayaaaah!!"

Awang membuka matanya. Tidak ada ekspresi apapun. Ketakutan pun tidak. Namun keringat dingin membasahi wajahnya.

Entah sejak kapan Awang tidak bisa mengontrol pikirannya. Sering kali ia tanpa sadar teringat lagi momen-momen itu.

Gelap yang sama. Sekelebatan yang sama. Teriakan dan suara tabrakan yang sama.
Ia ada dalam kecelakaan itu. Tapi hanya dia yang selamat dan hidup.

Ia ingat Ayahnya yang sudah tidak sadarkan diri di kemudi, terhimpit kursi dan mesin depan yang ringsek. Belakangan Awang tahu Ayahnya sempat bertahan hidup walau hanya beberapa hari.

Justru Ibunya yang setengah sadar waktu itu. Memeluk Awang sembari mengkisikan pemintaan maaf berulang-ulang. Setengah tubuh Ibunya terjepit dan walaupun Awang tahu apa yang terjadi dengan tubuh Ibunya, Awang enggan mengingat.

Suara gemetar Ibunya yang meminta maaf seperti gaung. Lalu berhenti karena gelegak aneh.

Selanjutnya Awang tidak mendengar suara apapun lagi. Hanya denging aneh dan wajah Ibunya yang memudar.

Dulu Awang mengingatnya layaknya mimpi buruk yang siap membunuh. Menghantui layaknya arwah penuh dendam. Namun ketika ia tumbuh dewasa, ia bisa mengontrol dan menyimpan kenangan itu di pikirannya.

Namun ada saat dimana kenangan itu bisa bebas menjarah pikirannya lagi. Awang sudah tidak sengeri dulu ketika mengingatnya. Tapi tetap saja membuat jengah, tidak membuatnya berdamai dengan masa lalu. 

Kenangan itu bagai musuh bebuyutan yang kadang menyapa untuk membuat ulah.

Saat-saat dimana kenangan itu muncul selalu berkaitan dengan Farah.

Farah yang untuk pertama kalinya melihatnya dengan penuh kebencian, Farah yang pernah kabur dari rumah, Farah yang menjadi anti sosial.

Lalu sekarang?

Astaga. Awang tahu ia menyukai kakak angkatnya---rasa suka yang jelas bukan karena perasaan platonik persaudaraan. Sudah lama ia sadar bahwa ia menyimpan perasaan lebih. Tapi Awang sadar tempatnya. Ia sadar diri.

Di Keluarga Bhanurasmi dia adalah orang asing yang kebetulan berkerabat. Kebetulan Nenek menyukainya daripada cucu perempuannya. Ia sudah dirawat sedemikian hingga oleh Om Arya---Ayah Farah. 

Tidak mungkin dia dengan lancang mengambil anak perempuan satu-satunya.

Awang merasa sangat nyaman berada di keluarga Bhanurasmi, melebihi keluarga aslinya. Bahkan ketika akhirnya Tantenya yang bernama Sandrina---yang bekerja sebagai analis finansial--- membawanya ke Amerika setelah hampir dua tahun di keluarga Bhanurasmi, Awang melakukan berbagai cara agar dipulangkan kembali.

Awang berbuat ulah di sekolah barunya, James Meadow School. Ia malas belajar dan menolak memakai bahasa Inggris. Ia mencuri uang Tantenya, sering kabur dan berkelahi. 

Beberapa kali Tantenya membawanya konseling. Tapi Awang tidak berubah.

Puncaknya adalah Awang membiarkan pihak sekolah 'mengetahui' riwayat pencarian situs di komputer sekolah yang baru saja dia pakai. Awang mengunjungi situs pencarian senjata api. Amerika sangat sensitif dengan itu. Pihak sekolah kalang kabut dan memanggil Tantenya ke sekolah.

Tante Sandrina tidak habis pikir bahwa ponakannya itu bisa berbuat di luar nalar, melebihi anak seusianya.

Tante Sandrina mengambil tindakan cepat sebelum dinas sosial negara bagian ikut campur. Belum genap enam bulan di Amerika, Awang kembali ke keluarga Bhanurasmi. 

HelianthusCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang