Dean mengatur nafasnya. Bagian tubuh belakangnya sakit. Berbaring merintih.
Ayahnya menatapnya dari atas dengan pandangan dingin.
Dean sudah tahu Ayahnya tidak akan berbelas kasih. Apalagi dia sudah mengkonfrontasi tadi saat makan malam.
"Kamu di Aussie masih latihan, kan?" Tanya Ayahnya tajam.
Dean menarik rambutnya yang berpeluh ke belakang. Meludah pelindung gigi yang dikenakannya.
"Masih, tapi----"
"Pake 'tapi'". Ayahnya menggerutu "nggak konsisten."
Ya bagaimana dia mau konsisten? Boro-boro latihan. Dia harus sekolah, tugas, ikut makan malam dengan relasi Ibunya di Australia, dan dia juga punya kehidupan sosial dengan teman sekolahnya.
Dan terutama, judo bukanlah kegiatan favoritnya.
Ini kan, salah satu keinginan Ayahnya yang dipaksakan kepadanya selain menjadi penerus perusahaan.
Judo adalah olahraga yang digeluti sang Ayah sejak dulu. Pernah jadi atlet nasional. Lalu menganggap bahwa Dean harusnya pun ikut kesukaannya terhadap beladiri itu.
Apalagi, jika Dean berbuat salah, Ayahnya lebih suka menjadikan Dean sebagai teman sparing dalam latihan judo daripada hukuman fisik atau verbal.
Apanya yang teman latihan? Ini lebih mirip kekerasan terselubung, Dean selalu berpikir demikian. Tapi toh dia meladeni Ayahnya walau dalam sejarah latihan mereka, Dean berakhir dengan bantingan hiza guruma* atau uchi mata* dari Sang Ayah.
Ayah Dean lalu mengulurkan tangan, membantu Dean bangkit.
Keduanya lalu terdiam di ruangan olahraga keluarga yang tiga per empat nya dipakai sebagai dojo kecil pribadi. Ada beberapa sertifikat resmi lembaga judo negara dan piagam penghargaan tergantung serta panji lambang judo.
Dean mengibaskan kerah judogi---seragam judo--- yang memperlihatkan hampir seluruh dadanya. Menghilangkan gerah.
"Papa harap, omonganmu tadi nggak untuk membuat Mama Renata nggak nyaman." Ayahnya membuka suara, menyinggung nama Ibu tiri Dean---dan Ibu kandung Ruly.
Dean menggeleng "kenapa aku harus membuat Tante Renata nggak nyaman?"
"Karena membawa masalah Papa sama kamu seperti tadi, akan membuatnya salah tingkah." Jawab Ayahnya "Mama Renata menyayangimu kayak anaknya. Tapi dia juga menghormati Papa sebagai suami."
Dean tahu itu. Tidak perlu dijelaskan lagi. Tapi Dean benar-benar tidak bermaksud membuat Tante Renata salah tingkah atau menyerangnya dengan kata-kata.
Mengatakan bahwa dia ditakdirkan jadi penerus perusahaan Ayahnya adalah murni sebagai sinisme terhadap Ayahnya semata.
"Itu tadi cuma keceplosan." Ujar Dean akhirnya.
Tidak ada yang bersuara lagi hingga kemudian terdengar helaan nafas panjang dari Ayahnya.
"Kamu masih berhubungan sama gadis itu? Siapa namanya---Farah?"
Dean merasa seluruh tubuhnya jadi menegang. Membeku. Dia tidak menyangka Ayahnya akan menanyakan hal tersebut.
Dean menggeleng pelan.
"Kenapa?" Tanya Ayahnya "jaman internet gini kamu sama dia nggak ada komunikasi?"
"Ketika Papa ngirim aku ke Aussie, sudah tidak ada apapun di antara kami." Ujar Dean "dan lagipula Papa sendiri tahu, itu bukan perpisahan yang baik-baik."
Dean menatap Ayahnya. Rahang pria itu menegang. Tampak menahan sesuatu.
"Itu di luar kehendak kamu." Gumam Ayahnya "harusnya waktu itu Papa lebih bisa membela kamu dari tekanan keluarganya dan dari sekolah kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Helianthus
Teen Fiction© Copyright by Lust Lucifer, June 2019 CERITAKU, OTORITASKU, HAK PREROGATIFKU. -Young Adult/Teen Fiction. But contain 18+. So be wise. -Typo, tidak EYD. -Notice this: plagiarism itu sama dengan mencuri. Jangan jatuhkan martabatmu hanya demi buah kar...
