Terlahir sebagai anak tunggal yang kasih sayang kedua orang tua hanya tercurah padanya saja, Ayu harusnya bertumbuh menjadi anak tipikal manja nan cengeng. Namun, background keluarga yang dari keluarga serba pas-pasan, menjadikan Ayu tumbuh menjadi seperti sekarang.
Dulu, dulu sekali. Tak sekali dua kali Ayu mendapat cibiran merendahkan. Sekolah SMP bergengsi yang Ayu masuki atas beasiswa karena otak cerdasnya, tak menjadikan Ayu diterima oleh teman-temanya yang sebagian besar dari backgroud keluarga menengah. Menjadikan ia menekankan pada dirinya bahwa ia harus mampu berdiri atas kemampuanya bukan karena belas kasihan semata.
Ia buktikan sekarang. Dengan gigihnya Ayu yang belum ada basic marketing selalu belajar. Atas arahan pak Sapta Ayu belajar dan mempraktekan. Bahkan dulu saat masuk di D&C ini, Ronald pernah menyangsikan kualitas manajemen personalia D&C atas diterimanya Ayu menjadi karyawan D&C.
Harusnya standar sebuah perusahaan ekpor impor paling basic adalah menguasai bahasa Inggris, bukan hanya bisa. Namun, Ayu yang ditemui pertama kali oleh Ronald di D&C bahkan tak bisa memahami apa yang Ronald tanyakan padanya. Ia hanya tahu bahasa Inggris tentang pertanyaan basic anak TK. Seperti "what's your name?" Atau "where do you live?" Atau bahkan yang grammernya acak-acakan seperti "I very love you so much to." Padahal dalam dunia trading ekpor impor bahasa yang digunakan jauh dari bahasa sehari-hari anak tongkrongan. Bahkan kata seperti itu, Ayu tak menjumpai sekalipun selama empat tahun ia bekerja di D&C.
Saat itu, Ronald menanyai Ayu perihal basa-basi perkenalan dalam bahasa Inggris. Namun, alih-alih menjawab Ayu hanya tersenyum kikuk sambil berkata bahwa ia tak begitu mengerti bahasa Inggris. Ditambah lagi Ayu yang hanya lulusan Universitas Online, menurut Ronald tak layak untuk menjadi bagian dari D&C terutama bagian marketing yang berhubungan langsung dengan ekportir luar negri yang mana harus mempunyai wawasan luas minimal bisa berbicara bahasa Inggris dan bisa memahami kalimat dalam klausul-klausul perjanjian dagang antar negara.
Saat dulu Ayu beranjak dewasa, baru saja ia lulus dari SMA, ia langsung bekerja untuk menggantikan posisi ayahnya yang meninggal dunia secara tiba-tiba karena serangan jantung. Ia akui ia masih minim pengalaman kerja waktu itu. Karena sebelumnya Ayu tidak diperkenankan bekerja sekedar untuk membantu orang tua untuk memenuhi kebutuhanya sendiri oleh ayahnya meski itu hanya kerja sambilan.
"Kamu fokus belajar yang rajin saja, Yu. Biar bapak sama ibu yang pikirin semua kebutuhanmu. Nanti setelah SMA baru kamu akan mengenal dunia kerja." Salah satu petuah bapak waktu itu karena ayah Ayu sadar tak bisa menyekolahkan anaknya hingga jenjang di atas itu. Dan dengan belajar rajin ayah Ayu berharap bahwa akan ada hari esok yang lebih baik bagi putri semata wayangnya itu. Tanpa memikirkan bahwa dunia kerja sekarang lebih menekankan pada nepotisme semata. Ada yang berhasil karena memang pendidikanya. Namun, lebih banyak ada faktor yang 'membawa" terlebih dahulu, baru kemudian bisa mengeksplore kemampuan potensinya. Bukanya apa-apa, itu yang Ayu rasakan sendiri.
Dan benar saja. Tak berapa lama ia lulus SMA langsung bekerja di Rumah Sakit swasta tempat ayahnya bekerja.
Ayu bekerja selama enam tahun di rumah sakit itu sambil kuliah. Pendidikan kuliahnya ia mulai di tahun kedua ia bekerja di rumah sakit itu dan ditempuh selama lima tahun. Setelah selesai kuliah ia resign untuk mencari pekerjaan yang lebih baik dari segi gaji maupun posisi. Bukanya apa-apa, jujur ia enjoy bekerja di sana. Selain bisa membantu melayani orang sakit, juga kondisi pertemanan yang lebih dari sekedar kenal karena sudah selama itu di sana, sehingga ia anggap teman-temanya bagai keluarga kedua. Hanya saja ia tak cocok bekerja di shift malam. Sehabis shift malam biasanya seringnya ia masuk angin muntah-muntah yang menyebabkan ia betah di ranjang seharian.
Di rumah sakit itu juga ia bertemu dengan Tomy mendiang suaminya yang bekerja sebagai perawat di sana. Namun mereka menjalin hubungan setelah Ayu tak bekerja di sana. Mereka menjalin hubungan selama dua tahun sebelum memutuskan menikah. Sebenarnya awal menjalin hubungan, Tomy sudah mengatakan tentang keseriusanya. Namun, karena Tomy yang waktu itu masih menanggung biaya kuliah adiknya. Pernikahan itu ditunda sampai adik Tomy lulus kuliah.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEPARUH (TAMAT)
Short StoryHidup sebagai ibu satu anak yang merangkap sebagai salah satu staff di perusahaan Ekspor Impor, Ayu hanya berpegang pada satu sisi hidupnya saja. Karena separuh hidupnya yang lain telah pergi bersama kematian suami yang ia cintai. Satu hidupnya terb...
