First Breakfast

80.9K 10.3K 617
                                    

Hari ini Perry dan Krista sibuk mendandani Bell. Itu karena Bell akan ikut sarapan bersama Kaizel dan kedua putranya untuk pertama kali. Dua pelayan berseragam maid tersebut ingin membuat para Devinter terkesan dengan penampilan Nona baru mereka.

"Nona kecil kelihatan cantik sekali dengan gaun merah ini!" Krista berseru bangga sambil memakaikan flat shoes merah yang begitu pas di kaki Bell. "Nona kita seperti bidadari kecil! Saya tidak sabar melihat Nona tumbuh dewasa."

Bell baru pertama kali mengenakan baju seindah ini. Bagian lengannya bulat seperti semangka. Roknya setinggi lutut dan mengembang dengan renda-renda rumit. Perry mengikat rambutnya menjadi dua dengan pita berwarna senada.

"Tuan Direktur sepertinya sangat peduli pada Nona," ungkap Perry tersenyum simpul.

"Tentu saja harus peduli!" Krista mengimbuhi. "Nona tahu, tidak? Jam 7 pagi adalah jadwal sarapan Tuan Direktur dan tuan-tuan muda. Tapi mulai hari ini Tuan memerintahkan sarapan diundur menjadi jam 9. Tuan tidak bilang alasannya, tapi kami tahu Tuan pasti menunggu Nona kecil bangun tidur karena ingin sarapan bersama Nona." Lagi-lagi Krista berteriak histeris. "Kyaaaa...pria pengertian adalah pujaan semua wanita!"

Seperti biasa, Perry segera menyenggol Krista dengan lengannya. "Bisa-bisanya kamu mengatakan hal itu di depan anak kecil. Berhentilah berkhayal dan ambilkan pita merah itu."

Krista mencibir. "Iya iya."

Semenjak tinggal di mansion ini Bell memang bangun lebih siang. Awalnya dia bangun saat matahari terbit tapi Perry dan Krista memaksanya untuk kembali tidur. Hari-hari berikutnya pun Bell dipaksa tidur lebih lama. Sebelum jam 8 dia tidak boleh bangun.

Mereka bilang anak kecil harus banyak tidur agar cepat besar. Padahal dulu Bell harus bangun pagi-pagi sekali. Ibunya bilang anak baik tidak boleh malas-malasan. Apa itu artinya sekarang Bell bukan anak baik? Sebenarnya mana yang benar?

Begitu persiapan selesai, Lewis Han datang untuk mengantar Bell ke ruang makan. "Nona kecil kita benar-benar seperti malaikat!" seru Lewis bangga begitu dia memasuki kamar.

Bell menunduk malu.

"Tuan Direktur dan yang lain sudah menunggu. Ijinkan saya mengantar Anda ke ruang makan, Nona kecil." Lewis membungkuk sopan dan Bell pun mengangguk.

Bell kira dirinya akan berjalan sendiri mengikuti Lewis, ternyata salah seorang penjaga yang biasanya berjaga di luar kamar menggendong Bell sambil diikuti Perry dan Krista di belakang. Namanya Edvin. Sebenarnya Edvin baru beberapa hari berjaga di luar kamar tempat Bell berada.

Setelah tragedi Bell tidur di bawah kolong meja, Kaizel mencambuk seluruh penjaga mansion yang bertugas pada malam itu dan memberi mereka skorsing selama satu bulan. Tentu saja Bell tidak tahu itu. Seandainya tahu, pasti dia akan sangat merasa bersalah.

Edvin punya badan kekar dan bekas luka memanjang yang melewati bibirnya. Tapi dia sangat ramah terhadap Bell. Bell hampir tidak pernah digendong seperti ini. Ternyata rasanya cukup nyaman meskipun memalukan.

Mereka berhenti di depan sepasang pintu besar dengan lambang binatang buas bertaring pedang di tengahnya. "Kita sudah sampai, Nona kecil. Nona akan masuk sekarang?" tanya Lewis bersiap membukakan pintu yang tampak berat itu.

Meskipun gugup, Bell tidak punya alasan untuk tidak masuk sehingga dia pun mengangguk. Pintu itu kemudian terbuka lebar. Di sana, Kaizel Arjen Devinter telah duduk di ujung meja makan. Di samping kanannya ada dua anak laki-laki yang salah satunya Bell kenal sebagai Tuan Muda Delein.

Begitu Edvin menurunkan Bell, gadis itu malah bersembunyi di belakang kaki Edvin. "Nona kecil, tidak apa-apa," hibur Edvin, merasa tidak nyaman karena kini tatapan elang Kaizel tengah mengincarnya.

Be My Daughter? (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang