Chapter - 21

94 22 18
                                        

Nadara Rafeyfa Azzura Dirgantara ────────────────Imelda menarik napas sebelum memulai cerita, "Sepulang sekolah, aku jalan dulu sama Sean

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nadara Rafeyfa Azzura Dirgantara
────────────────
Imelda menarik napas sebelum memulai cerita, "Sepulang sekolah, aku jalan dulu sama Sean. Eh, umm ... bukan jalan sih, tepatnya. Niatnya kita mau cari bukti kalau Papaku itu gak salah. Bukannya harimau yang ketemu, eh, malah ada singa. Jadi ya udah, aku sama Sean langsung gas aja. Sama-sama ganas, 'kan?" jelasnya diakhiri sebuah kikikan halus.

"Woah, hebat! Cepat sekali kau menemukan bukti."

"Oh, iya dong. Semel gitu lho." Imelda mengibaskan rambutnya angkuh. Tapi justru aku tidak mengerti. Apa yang gadis ini bicarakan, ya?

"Semel?"

Dia mengangguk cepat. "Sean Imel HAHAHA."

Aku mendecih hingga membuatnya memberengut. Yang benar saja?! Semel adalah penggabungan Sean dan Imel? Cih, mengada-ada saja gadis satu ini. Imelda benar-benar tergila-gila akan sosok Sean si manusia kutub itu.

Ponselku bergetar yang mana menandakan sebuah pesan masuk tanpa diundang. "Tuh, udah aku kirim," ucap Imelda yang kubalas dengan anggukan mengerti.

"Hei, kau ingin menikmati pertunjukan menarik di rumahku?"

"Boleh??" mata Imelda begitu berbinar. Dia terlihat sangat antusias tatkala aku mengangguk memberikan jawaban 'ya'. Tak apa, anggap saja ini sebagai bentuk pembalasan atas tindakan kejam Zoya pada Imelda. Gadis itu, 'kan, temanku. Jadi aku harus membantunya.

oOo

"Ya, maaf. Zoya cuma gak mau kalau nanti bayi itu jadi penerus Dirgantara Group. Zoya gak punya pilihan selain dorong Mama buat gugurin kandungan itu. Pokoknya posisi Zoya gak boleh sampai terancam!"

"Tapi bakal bahaya kalau Dio sampai curiga. Bukan cuma kamu yang kena dampaknya, tapi Mama juga, Zoya!! Lain kali jangan ceroboh! Bicarakan dulu sama Mama."

"Pfffttt iya iya. Oh, ya, Ma. Habis ini rencana Mama apa?"

"Bunuh Dio. Bikin dia mati supaya kita bisa lebih cepat kaya. Tapi kali ini kita butuh bantuan James, Papamu. Kita gak bisa main kotor-kotoran gitu—" 

BRAK

Dipukulnya meja itu dengan tenaga ekstra. Mendengarkan voice note percakapan Laurent dan Zoya membuat daddy kalut akan amarah. Rahangnya mengeras, matanya memelotot tajam, dan sedikit menggeletukkan geraham. Rautnya yang menyeramkan terkesan begitu kontras dengan kedua wanita itu. Mereka menunduk dalam-dalam dengan badan bergetar menahan takut.

Evelyn mencengkeram lenganku. Dia ketakutan melihat murkanya daddy. Mungkin baginya pria itu seperti monster kelaparan yang kapan saja siap memangsa. Tak dapat dipungkiri, daddy memang berwatak keras namun juga seringkali lembut. Pria itu bisa menjelma menjadi apapun.

Best Part [ COMPLETED ] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang