⚫Sandiwara Dusta

512 65 25
                                        

Happy Reading.
Eh stop!

Vote and comentnya mana cantik?
Hehe jang lupa ditekan ya 🐧

Vote and comentnya mana cantik?Hehe jang lupa ditekan ya 🐧

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

{N E R I U M ~ F I O R E L L A}

Sangat mengejutkan.

Aku benar-benar tak menyangka jika tamu yang dimaksud keluarga Angkara adalah Paman Nav. Aku tidak tahu dari mana mereka mengenal pria itu, hingga hubungan di antara mereka sudah seperti keluarga. Seakan-akan permainan ini memang sudah direncanakan.

"Ayo, Nav, nikmati semua hidangan ini."

"Fio, kamu juga makan yang banyak."

Tersenyum singkat. Uncle Alfian begitu ramah padaku. Omong-omong, baru sadar jika wajah Gandhi berubah dingin ketika Paman Nav tiba dan makan bersama di sini. Apa hanya perasaanku saja kalau mungkin Gandhi tak suka dengan Paman Nav?

"Tada! Puding susu segar telah siap. Ini aku dan Krystal loh, yang buat."
     
   Dari arah belakang. Aunti Tiara dan Aunti Krystal mendekat seraya memegang nampan berisi puding. Ternyata orang kaya tahu juga membuat puding. Kukira mereka hanya mengandalkan koki masak dan pelayan.

"Krys, kau perhatian juga. Pasti kau membuat ini karna aku 'kan."

"Puding ini kubuatkan untuk Gandhi. Jaga sikapmu, Nav," balas Aunti Krystal ketus. Judes juga ibunya Gandhi.

   Apa-apaan ekspresi menyebalkan Paman Nav itu. Dia sedang menggoda Aunti Krystal, ya, dasar pria itu memang suka sekali menggoda para wanita. Retta saja dia goda apalagi Aunti Krystal yang lebih fresh dari Retta.

Sudahlah, aku tak peduli. Lebih baik aku segera menghabiskan makananku ini.

"Kamu, mau?" Gandhi menyodorkan sesuap puding di hadapanku.

"Nggak."

"Manis loh, kayak kamu."

Dia ini lagi sandiwara, nyebelin banget. Maksudnya, aku disamain sama puding gitu? Heh! Gak level. Gombalannya receh. Garing macam kerupuk.

"Diam, lo bikin selera makan gue hilang," bisikku tepat di telinganya. Aku tak mau ada yang mendengar obrolan kami.

"Oh, ayolah, Fio, ini sandiwara tak bisakah kamu bersikap manis sama saya?"

Dikasih ginjal malah minta jantung. Bersyukur, aku udah mau tersenyum ramah, terus berpura-pura jadi calon istri yang kalem. Sekarang, dia malah memintaku untuk bersikap manis. Aku lebih suka membuat kepala seseorang bocor, bagiku itu hal termanis. So, aku muak untuk terus menjadi seorang putri anggun dari kerajaan anta-berantah.

 Nerium Fiorella.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang