Ep. 11

338 59 84
                                        

• Confess •

"Siapapun tolong. Bantu aku bangun dari mimpi yang terasa begitu nyata ini"
- Jisoo Kim

Play mulmednya dibagian akhir ya, ditanda yang aku kasih nanti.

—Happy Reading—

Awalnya semua masih berjalan baik-baik saja. Ketika Jisoo dan Bundanya sampai dicafe ternyata teman-temannya sudah lebih dulu memesankan Jisoo makanan favoritnya. Baru beberapa menit berbincang, Bunda mendapat telefon yang mengharuskannya untuk pergi. Jisoo pun memilih tinggal bersama teman-temannya. Tapi siapa sangka pilihan itu membuatnya harus mengalami kejadian yang mengorek luka hatinya.

Pyurr!

Tanpa diduga seseorang menumpahkan dua gelas minuman berupa lemon tea dan jus alpukat sekaligus ketubuh Jisoo yang tengah asik mengobrol ria dengan teman-temannya.

"Ah dingin!" Jisoo reflek berdiri tapi seperkian detik berikutnya ia terhuyung kedepan akibat dorongan dibagian punggungnya. Jisoo meringis saat kedua lututnya menabrak sudut  meja dengan cukup keras. Jisoo roboh. Nayeon, Bona dan Hwasa terkejut bukan main. Ketiganya sontak berteriak  dan segera membantu Jisoo untuk berdiri.

"Rasakan itu! Bahkan ini belum seberapa dengan sakit hatiku setelah apa yang kau perbuat pada Oppa! Kenapa bukan kau saja yang mati?! Dasar pembawa sial!" Seketika ringisan Jisoo berhenti, ketika kata-kata itu tersaring indra pendengarnya.

"Berhenti! apa yang kau lakukan pada temanku hah!" Hwasa yang tentu saja tak terima temannya dipermalukan langsung maju bersama Nayeon dan mendorong wanita asing itu menjauh. Menyembunyikan Jisoo dibalik tubuh mereka.

Sementara itu Jisoo hanya bisa berdiri mematung dengan Bona yang memeluknya erat dari samping. Berteriak meminta handuk untuk sekedar menyeka tubuh Jisoo yang telah basah kuyup dan juga lengket.

Jisoo jelas dapat menebak siapa Oppa yang dimaksud. Seketika ia kembali merasa sesak, dadanya seolah diremat kuat dan fikirannya penuh dengan kilas balik tragedi malam itu. Telinganya seolah berdengung, bahkan teriakan-teriakan disekitarnya pun tidak ada artinya lagi.

Ya itu benar. seharusnya aku yang mati.

"Minggir. Ini tidak ada urusannya dengan kalian! Kami hanya ingin memberikan sedikit pelajaran pada perempuan sial itu! Hei kau jangan bersembunyi. Cepat kembalikan AgustD Oppa ku sekarang kembalikan!!!" Teriak wanita satunya.

"Wah wanita-wanita gila. Apa kalian menguntit teman kami sedari tadi sampai bisa tau ia ada disini?!" Melihat keterdiaman keduanya membuat Nayeon tersenyum miring "Jadi aku benar?! Wah aku merinding. Kalian itu lebih pantas disebut Sasaeng!"

"Ya! Siapa yang kau sebut sasaeng ha!" Tak terima dikatai, salah satu dari wanita itu menarik rambut Nayeon dengan keras. Hwasa yang melihat lantas berusaha melepaskan jambakan itu namun malangnya malah ikut dijambak oleh wanita satunya.

Dan begitulah awal mula keributan itu terjadi. Kebanyakan pengunjung yang ada disana malah merekam kejadian itu dengan ponsel masing-masing alih alih melerai aksi perjambakan itu. Sementara beberapa pegawai yang ingin melerai malah ikut terkena amukan saat mencoba masuk dalam arena perperangan tersebut.

Sampai akhirnya Jimin datang dan langsung memerintahkan 8 pegawai laki-lakinya untuk memegangi para betina buas itu.

"Sebenarnya ada apa ini? Tolong jangan buat keributan di sini." Tanya Jimin begitu merasa keadaan sudah sedikit kondusif.

𝐸𝓅𝒾𝓅𝒽𝒶𝓃𝓎Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang