BAB 8 : BERLOMBA

39 10 10
                                        

happy reading, hihi.

***

Hari ini adalah hari perlombaan Paskibra tingkat kota. Ada dua tim yang mewakili SMA Danurdara. Tim putra dengan nama Arjuna dan tim putri dengan nama Kartini. Anna tentu masuk dalam Tim Kartini.

Setelah pensi—hampir 2 minggu yang lalu—Anna tidak bertanya tentang alasan Janar yang tiba-tiba pergi hari itu. Laki-laki itu juga tidak menjelaskan sesuatu padanya. Dan, Anna sendiri merasa bahwa ia tidak memiliki hak untuk menginterogasi Janar.

Memang dia siapa? Kan, hanya teman.

Namun, Janar berjanji akan menonton Anna lomba hari ini. Gadis itu sekarang sedang menunggu antrian make up. Duduk sendiri di depan ruang tunggu timnya, teman-temannya yang lain masih sibuk sendiri—entah sibuk apa—di dalam.

Lamunan Anna dikejutkan dengan kedatangan sahabat-sahabatnya dan juga teman sekelasnya. Mereka beramai-ramai datang untuk mendukung Tim Paskibra dari sekolahnya, dan khususnya untuk seorang Anada Carissa.

"Wah! Kalian datang semua?" seru Anna bahagia. Dari tadi dia sudah bosan, karena teman-teman timnya yang lain heboh sendiri di dalam, dan Anna bosan di dalam ruangan—kelas sih, sebenarnya, karena lomba ini diadakan di SMA lain, jadilah kelas-kelasnya disulap menjadi ruangan tim tiap sekolah.

"Iyaa, dong! Kita kan, mau dukung lo, Na." Marsha ikut berteriak heboh.

Anna bertepuk tangan senang, lalu tiba-tiba mengernyit dan mencebikkan bibirnya. "Hmmm, terharu gue. Makasih banyak yaa. Love banget, deh!" ucapnya sambil tersenyum kemudian membentuk tanda hati dengan tangannya.

"Aduh! Gue dicintai sama Anna, nggak kuat hati gue nerima cinta lo, Na!" Bobby, salah satu teman sekelas Anna yang berbadan besar, dengan sok dramatis, memegang dadanya.

Hal itu membuat teman-temannya berseru, lantas Ragil menyahut, "Iyalah, nggak kuat, badan lo udah segede utang negara, Bob." Semua tertawa mendengar ucapan Ragil.

Setelah mengucapkan kata dukungan dan doa untuk Anna, mereka berpencar pergi. Ada yang membeli makan atau minum, ada yang hanya ingin berkeliling, ada yang menonton lomba sekolah lain, ada juga yang berniat mencari gebetan. Memang kelasnya memiliki berbagai macam jenis manusia.

Anna izin masuk—untuk make up—kepada beberapa teman-temannya yang masih ada didepan ruangan, ah, ternyata ada Geo disana. Tapi, yang membuat Anna heran, kenapa laki-laki itu tidak pergi bersama Ragil? Tumben.

***

Anna sudah siap, sekarang tinggal menunggu giliran lomba. Tim Kartini bernomor urut 17 dari 30 tim yang ikut berlomba hari ini. Dan sekarang sudah urutan ke-13. Sisa waktu ini digunakan Anna dan kelima sahabatnya untuk berfoto-foto sebelum lomba dimulai.

Gadis dengan seragam merahnya itu keluar untuk berfoto. Tapi, dari tadi Anna belum melihat keberadaan Janar. Ia melihat sekeliling dan nihil. Belum ada pesan juga dari Janar. Terakhir kali, hanya pesan ucapan semangat dan selamat malam. Anna juga gengsi untuk bertanya terlebih dahulu. Jadi, dia mencoba untuk tidak terlalu memikirkan Janar, mungkin laki-laki itu ada keperluan mendadak yang membuatnya tidak bisa datang. Iya, mungkin begitu.

Anna melihat Geo berjalan ke arahnya, dengan pandangan yang—ia juga tidak tau, apa arti pandangan itu. Yang jelas terlihat sedikit mengintimidasi, membuat Anna mundur satu langkah.

"Semangat, nih." Geo meraih tangan Anna lalu menaruh tiga permen milkita dengan rasa yang berbeda-beda. "Janji gue waktu pensi kemarin. Yang harusnya gue kasih saat itu juga, tapi gue lihat lo sibuk banget, sama acara tur dadakan."

vennTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang