Hai! minta bintangnya yaa, hehe. Love<3
***
Anna membuka pintu kamarnya, mengucap salam, lalu menutup pintu. Tangannya mencari-cari sakelar, setelah ketemu dan ditekan, kamarnya menjadi terang benderang. Sekarang sudah pukul setengah sembilan malam. Pentas teater tadi selesai sekitar pukul delapan. Lalu mereka berenam segera pergi ke area parkir, dan pulang.
Mereka tidak sempat bertemu dengan Janar dan kawan-kawannya. Tidak saat salat maghrib, juga tidak saat pulang. Entahlah, mereka ada dimana. Tetapi, hal itu membuat Anna bernapas lega. Karena masih merasa agak malu untuk bertemu Janar lagi, setelah ia dengan percaya dirinya menganggap Janar sebagai mas-mas panitia.
Emang malu-maluin banget lo, Na! Anna merutuk dalam hati sambil mengacak-acak rambut kusutnya.
"Udahlah, lupain. Wajar kali, disitu gelap. Nggak kelihatan apa-apa, Na. Jadi nggak papa, kalau lo salah. It's okay! Udah deh, sekarang mandi." Mencoba menenangkan dirinya sendiri, Anna bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Mungkin bagi orang lain mudah untuk melupakan. Tapi tidak untuk seorang Anada Carissa yang selalu overthinking dan tidak enakan kalau ia merasa telah melakukan kesalahan. Karena manusia berbeda-beda, pasti ada yang menganggap masalah itu adalah hal kecil, tapi ada juga yang seperti Anna, menganggap itu adalah suatu masalah yang harus segera diselesaikan.
***
Selesai melaksanakan salat isya, Anna mengambil smartphone-nya. Membuka instagram, lalu mengetikkan nama Janar di kolom pencarian following akun instagram Dira. Setelah menemukannya, jarinya men-scroll ke bawah, melihat foto-foto yang ada pada instagram Janar. Ada 25 postingan, berisi kegiatan dia dengan sekolahnya. Sepertinya dia suka bersepeda, karena ada beberapa fotonya yang menaiki sepeda, dan itu di tempat yang berbeda-beda.
Anna juga berpikir, bahwa Janar adalah tipe yang easy going, mudah akrab dengan orang lain. Dilihat dari jumlah followers Janar yang ada ribuan—bahkan bisa untuk swipe up, sepertinya dia juga menjadi idola di sekolahnya, deh. Jelaslah, ketua OSIS. Belum lagi dia anggota ekskul seni dan ikut Pramuka.
Sama dengan Anna, Dira, Salwa, Marsha, dan Linda, sih. Tapi tetap beda, karena tidak tau kenapa, tingkat ke-famous-an cowok dan cewek itu agak beda ya? Agak menyebalkan, tapi entahlah, intinya mereka sebenarnya sama-sama aktif di sekolah. Iya, kecuali Rossa. Gadis itu hanya mengikuti organisasi PMR, katanya itu sudah terasa berat baginya.
Lupakan hal itu, kembali ke Anna yang masih melihat profil Janar, ragu dengan hal yang akan dilakukannya. Tapi dia tadi sudah berpikir panjang dan membulatkan tekad untuk meminta maaf. Karena kalau tidak, pikiran Anna akan terus dihantui oleh hal itu. Jadi, ini harus dilakukan, supaya semua selesai.
Anna menyentuh kotak bertuliskan Message. Lalu, perlahan jarinya mulai mengetikkan kata demi kata. Dibaca, kemudian dihapus, menulis lagi, dihapus lagi, begitu terus. Setelah sepuluh menit baru ia menekan send. Sudah terkirim. Sekarang tinggal menunggu balasan.
Gadis dengan rambut hitam sepunggung itu, menghela napas. Sedikit lega, ia menaruh ponselnya di meja belajar. Kemudian menyibukkan diri menyiapkan buku pelajaran untuk besok. Namun, kegiatannya terhenti saat ia mendengar bunyi notifikasi dari smartphone-nya. Segera dibuka dan ia melihat adanya balasan dari Janar. Anna menggigit bibir bawahnya, ragu untuk membalas. Tapi pada akhirnya jari-jari itu mulai mengetikkan balasan juga.
anadacarissa
hai, janar. gw anna, temennya dira.
inget kan y?
KAMU SEDANG MEMBACA
venn
Novela JuvenilAnna bertemu dengan Janar di sebuah pentas teater. Saat berkenalan, Anna tidak pernah menyangka jika akan terus berhubungan dengan lelaki itu. Hingga rasa lain muncul dalam hatinya. Di sisi lain, ada Geo, teman sekelas Anna yang selalu mengganggunya...
