Chapter 4 : Confused

688 78 3
                                    

Suasana kelas sangat hening. Leeteuk Seonsaengnim, guru matematika sekaligus wali kelas mereka, sedang mengajar di depan kelas. Sesekali beberapa murid pintar dan rajin, termasuk Jaemin, mengacungkan tangan untuk bertanya.

Hal ini berbeda dengan pemandangan kelas deretan paling belakang. Hyunjin tampak tertidur dengan lelapnya di bangku terujung. Jeno hanya menatap ke arah papan tulis, tanpa mencatat apapun, entah mendengarkan atau tidak. Haechan menguap sesekali. Ia termasuk barisan murid bertempat duduk belakang. Sesekali ia mencatat walaupun kadang berubah menjadi garis panjang karena tertidur tanpa sengaja. Yang penting sudah usaha, pikir Haechan begitu.

Bel istirahat berbunyi dengan nyaring. Seperti biasa Jaemin akan langsung melangkah keluar karena kelasnya akan langsung ramai. Istirahat pertama selalu Jaemin habiskan di perpustakaan. Entah membaca buku atau sekedar mendengarkan musik. Hyunjin meregangkan tubuhnya. Kebalikan sekali, saat pelajaran ia tertidur, saat istirahat malah terbangun. Namanya juga Hyunjin.

Felix memasuki kelas bersama dengan Chani. Hyunjin yang hendak menyapanya urung ketika melihat kawannya justru mendekati Jeno. Hyunjin mengernyit tak suka.

"Oi, lo kenal sama Serim?"tanya Felix pada Jeno

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Oi, lo kenal sama Serim?"tanya Felix pada Jeno. Jeno hanya mengangkat kedua alis, belum mengenal kedua orang yang tiba-tiba mendekatinya.

"Oh kenalin, gue Felix, ini Chani. Gue temennya Hyunjin juga,"kata Felix sembari mengarahkan dagunya pada Hyunjin yang wajahnya sudah ditekuk dua belas. Hyunjin khawatir Felix akan membawa Jeno pada circle mereka. Masalahnya kesan pertama Jeno pada Hyunjin benar-benar buruk. Hyunjin tak akan mungkin bisa menerima Jeno apabila anak itu masih bertindak seenaknya. Otomatis ia yang akan mengalah karena Hyunjin tidak bisa melarang temannya memilih siapa orang yang ingin mereka anggap teman. Jeno hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Felix.

"Serim ngajakin nongkrong ntar sore. Di markas dia. Ikut kan lo?"kali ini Chani yang bicara, setelah sempat diam sejak tadi.

"iya. Gue juga nggak ada acara apa-apa,"jawab Jeno.

"Sip kalo gitu. Hyunjin lo ikut kan?"teriak Felix sambil mengalihkan pandangan pada Hyunjin. Ia memang belum mengetahui konflik yang terjadi antara Hyunjin dan Jeno. Hyunjin melengos. Ia langsung bangkit dengan langkah yang malas.

"Nggak! Males gue,"katanya. Ia langsung melangkah lebar meninggalkan kelas, entah kemana.

"Kenapa dah, itu bocah,"gumam Felix heran. Tidak biasanya Hyunjin menolak ajakan nongkrongnya. Sedangkan Jeno yang mengetahui sebabnya adalah dirinya hanya memasang wajah datar. Tangannya mengepal erat. Entah mengapa Hyunjin selalu berhasil membuat emosinya naik.

***

Hyunjin memasuki perpustakaan sekolah, tempat yang sangat jarang ia kunjungi, bahkan nyaris tidak pernah. Matanya mengedar ke sekeliling mencari sosok tinggi kurus berkacamata yang selalu berada di perpustakaan saat istirahat pertama. Ia menemukannya di bangku ujung, bersama dengan Renjun yang tampak berceloteh membuat Jaemin tidak fokus pada bukunya. Beberapa siswa yang melihatnya mengernyitkan dahi. Melihat Hyunjin di perpustakaan adalah pemandangan super langka.

Puzzle Piece [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang