"Sakit dalam perjuangan itu hanya sementara. Bisa jadi kamu rasakan dalam semenit, sejam, sehari, atau setahun. Namun, jika menyerah, rasa sakit itu akan terasa selamanya." - Lance Armstrong
***
Jaemin merasa sekujur tubuhnya remuk. Pukulan demi pukulan terus dilancarkan padanya. Tendangan kaki mereka yang menginjak-injaknya membuat tulangnya seakan lepas semua. Lengan kirinya sangat sakit. Ia berusaha keras melindungi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tak ingin orangtuanya tahu dan menjadi khawatir. Mereka baru berhenti ketika Jaemin sudah tak bergerak lagi. Nafas Jaemin terengah menahan sakit. Isi tasnya sudah berhamburan. Kacamatanya pecah entah diinjak oleh siapa.
Serim, Felix, dan Jeno melihatnya dengan wajah puas. Teman satu geng Serim juga melakukan hal yang sama. Serim tertarik pada kalung emas Jaemin yang menjuntai dari lehernya. Ia mendekati Jaemin dan meraih kalung itu tetapi tangan Jaemin bergegas menggenggamnya erat. Kalung berbentuk kunci itu menarik perhatian Jeno. Ia tertegun di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang. Kalungnya sendiri berliontin lingkaran dengan motif kunci di tengahnya, seperti gembok. Sebuah pikiran melintas di pikirannya.
"Jangan....ini peninggalan...orangtua kandungku,"lirih Jaemin yang hanya bisa didengar Serim. Kata-katanya membuat Serim tertawa remeh dan hendak merebut kalung itu. Tapi Jaemin mencegahnya dan menggenggam erat dengan sisa-sisa tenaganya.
"Serim, gue bisa kasih lo lebih daripada kalung murahan itu,"kata Jeno membuat Serim menoleh padanya. Ia mengangguk-angguk dan bergegas berdiri. Menepuk-nepuk bahu Jeno dan merangkulnya erat.
"Lo bener. Ayo kita pulang. Sore ini bener-bener menyenangkan,"kata Serim sembari meraih tasnya diikuti kawan-kawannya yang lain. Felix berhenti ketika melihat Jeno tak bergerak dari tempatnya.
"Lo nggak pulang?"tanya Felix membuat kawan-kawan yang lain ikut berhenti menatapnya.
"Ntar. Gue masih ada urusan sama dia,"kata Jeno membuat Serim mengangguk-angguk lagi dan menepuk bahunya.
"Oke. Take your time,"katanya sembari melangkah pergi dari sana. Jeno memastikan mereka tidak lagi terlihat sebelum mendekati Jaemin yang masih terkapar dengan posisi tengkurap di depannya. Matanya terpejam erat, sesekali meringis menahan sakit. Genggaman Jaemin pada kalungnya tadi sudah terlepas. Jeno mendekatinya, berjongkok di depannya dan mengeluarkan kalungnya sendiri.
Jeno melepas kalungnya lalu meraih kalung Jaemin. Tangannya bergetar hebat. Ia melakukan ini sesuai instingnya, entah kenapa. Ia masukkan kunci itu ke tengah motif kunci pada liontin miliknya. Bunyi klik yang menandakan keduanya cocok membuat Jeno tertegun. Kedua liontin kalung itu cocok. Dadanya berdebar kuat. Ia terjatuh lemas ke lantai beraspal itu. Ia bergegas melepas kembali kedua liontin itu dan memakai kalungnya kembali. Jaemin sama sekali tak menyadari apa yang dilakukan Jeno barusan. Ia terlalu sibuk mengontrol rasa sakit yang menghantamnya.
Jeno tak mengerti. Apa maksudnya semua ini? Kenapa kalungnya dan milik Jaemin berpasangan? Mengingat kata sang ibu kalung ini sangat berharga dan penting, Jeno tahu untuk inilah kalung ini ada. Ibunya bercerita bahwa kalungnya adalah kalung langka. Dibuat khusus dan hanya ada satu di dunia. Namun sang ibu tak menceritakan perihal kunci yang cocok dengan liontin yang dia pakai. Tapi siapa Jaemin sebenarnya? Terlintas dalam pikirannya bahwa ia dan Jaemin mungkin memiliki hubungan darah. Ia ambil beberapa helai rambut Jaemin tanpa disadari oleh si pemilik. Jeno bergegas berdiri dan berlari pergi dari sana, meninggalkan Jaemin yang nyaris sekarat di tempatnya.
***
Jaemin tidak tahu bagaimana caranya ia pada akhirnya berhasil berjalan sendiri sampai ke rumah. Ia membereskan barang-barangnya yang berhamburan dengan susah payah. Memungut pecahan kacamatanya dan memasukkannya dalam wadah khususnya, lalu bergegas pulang menuntun sepedanya dengan langkah tertatih. Orang-orang melihatnya dengan wajah bingung dan khawatir karena melihat seragamnya yang robek di sana sini. Belum lagi jalannya yang tampak sulit. Beberapa hendak membantunya, namun Jaemin menolak dengan alasan rumahnya sudah terlihat. Karena memang rumahnya berada di dekat situ.

KAMU SEDANG MEMBACA
Puzzle Piece [✓]
Fanfiction[COMPLETED] "Gue paling nggak suka sama tukang ngadu!" - Jeno "Aku udah maafin kamu jauh sebelum kamu minta maaf" - Jaemin Jaemin hanya seorang remaja 16 tahun yang berharap dapat bersekolah dengan nyaman. Ia anak baik yang tidak pernah macam-macam...