"Hanya tangan seorang teman yang dapat mencabut duri yang tertancap dihati" – School 2015
***
Jaemin tertidur hingga malam. Saat pulang sekolah tadi, ia hanya sempat berganti baju lalu langsung merebahkan diri ke kasurnya. Tubuhnya sangat lelah. Ia bahkan belum mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan besok pagi. Tiffany yang melihatnya tertidur pulas sama sekali tak tega membangunkannya.
Siwon yang baru pulang menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan sang putra. Biasanya Jaemin akan menempel pada ibunya ketika ia pulang bekerja. Tiffany yang tadinya berada di depan pintu kamar Jaemin mendekati sang suami.
"Kemana Jaemin?"tanya Siwon sembari melepas sepatunya. Tiffany membantu mengambil kaus kaki dan dasi Siwon untuk dibawa ke tempat pakaian kotor.
"Dia tidur sejak tadi saat aku pulang. Tumben sekali,"katanya sedikit khawatir. Jaemin biasanya selalu mengerjakan tugas sebelum makan malam. Sesulit dan sebanyak apapun tugasnya, entah bagaimana selalu ia selesaikan dengan cepat. Karena itu ketika pulang dan menemukan Jaemin di tempat tidurnya, Tiffany bergegas memeriksa Jaemin kalau-kalau putranya itu sakit. Namun suhu tubuh Jaemin yang normal dan nafasnya yang teratur membuat Tiffany menghela nafas lega.
"Aku bangunkan ya, dia harus makan malam dulu,"kata Siwon bergegas memasuki kamar Jaemin dan membangunkannya. Mengguncang tubuh Jaemin dengan lembut membuat Jaemin menggeliat pelan.
"Bangun dulu. Ayo makan,"ajak Siwon yang hanya dijawab anggukan kepala dari Jaemin. Ia segera bangkit dari tidurnya. Sedikit meringis ketika sisi kanan tubuhnya digerakkan secara tiba-tiba. Beruntung Siwon tidak menangkap ringisannya. Jaemin menuju ruang makan dan mulai makan bersama keluarganya. Mereka bercengkrama seperti biasa sampai sang ibu menyadari ada lebam di sisi wajah Jaemin.
"Kau terluka, Jaemin-ah?"katanya khawatir sembari mengelus wajah Jaemin yang tampak lebam. Sang ayah menghentikan makannya dan memusatkan perhatiannya pada Jaemin. Jaemin hanya tersenyum dan menggenggam tangan Tiffany.
"Jatuh dari sepeda, Eomma. Aku tidak hati-hati saat pulang tadi. Karena itu Hyunjin mengantarku pulang dan sepedanya kutinggal di sekolah,"alasan Jaemin yang langsung membuat Tiffany berdecak khawatir tapi langsung percaya begitu saja. Begitu pula Siwon. Sama sekali tak terlintas di pikiran mereka itu adalah bekas pukulan. Mereka tahu Jaemin anak baik-baik. Terlalu baik untuk memulai perkelahian dengan orang lain.
"Lain kali hati-hati ya,"nasihat Siwon dan Jaemin hanya mengangguk sambil tersenyum. Jaemin menghela nafas di tempatnya. Ia terpaksa membohongi kedua orang tuanya kali ini.
***
BYUR!
Jus jeruk itu tumpah begitu saja di atas buku paket Bahasa Inggris Jaemin yang terbuka di meja. Sebagian memercik pada seragam Jaemin. Ia terkejut bukan main. Begitu juga teman-temannya yang lain. Jeno membanting botol jus ke arah tubuh Jaemin dengan keras. Hyunjin langsung berdiri dari bangkunya.
"Gue paling nggak suka sama tukang ngadu!"sarkasnya sebelum pergi berlalu dari sana.
"Yak, Lee Jeno!"teriak Hyunjin marah namun tangannya segera ditahan Jaemin. Jaemin menggelengkan kepala, menyuruhnya untuk menyudahi agar tidak lagi terjadi perkelahian. Jaemin menghela nafas melihat buku dan mejanya yang basah kuyup. Beruntung tasnya masih sempat ia selamatkan.
Kim Minjeong, sekretaris kelas yang sering dibantu oleh Jaemin mengambil tissue dari tasnya. Beberapa siswi perempuan yang membawa tissue juga menyodorkannya pada Minjeong. Mereka membantu Jaemin membersihkan mejanya. Hyunjin mengambil buku Jaemin dan membawanya keluar. Katanya ingin ia jemur di balkon koridor.

KAMU SEDANG MEMBACA
Puzzle Piece [✓]
Fanfiction[COMPLETED] "Gue paling nggak suka sama tukang ngadu!" - Jeno "Aku udah maafin kamu jauh sebelum kamu minta maaf" - Jaemin Jaemin hanya seorang remaja 16 tahun yang berharap dapat bersekolah dengan nyaman. Ia anak baik yang tidak pernah macam-macam...