08. siapa?

21 2 0
                                        

Gadis berambut ikal sebahu mengeluarkan sebuah cermin dari ranselnya. Melihat pantulan wajahnya sendiri dari sana. Pucat, dia terlihat tidak sehat lalu mengambil sesuatu lagi dari dalam ranselnya. Sebuah liptint berwarna peach, langsung dipakainya agar dirinya tak terlihat pucat.

Drrtt..drrtt

Sesuatu bergetar dari sakunya, sebuah handphone keluaran terbaru dan pasti harganya yang juga mahal. Baru saja dibelinya kemarin secara online dari sebuah brand ternama.

089576xxxx
"Kenapa lo ga datang?"

Dia mengernyitkan dahinya apa maksud pesan itu, sampai satu pesan lagi masuk dan dia menyadarinya.

"Lo ga lupa jadwalnya kan?"

"sorry, kmrn sibuk"

Setelah balasan pesan itu dia menekan tombol block lalu memasukkan handphonenya ke saku roknya lagi. Tak habis pikir darimana pria itu tahu nomornya sedangkan Rara baru saja membeli ponsel dan mengganti dengan nomor baru.

Dia menghela nafas malas seraya melihat pemandangan jalanan Jakarta pagi ini yang mulai terlihat ramai.

***

Mobil alphard memasuki kawasan SMA Bhinabakti, murid-murid disana sudah tak heran lagi. Bukan sok hedon tapi memang kenyataan bahwa Naura Auristella, gadis itu selalu memakai alphard karena memang itulah yang paling normal diantara mobilnya yang lain salah satunya lamborghini.

"RARA-!"

Jeritan nyaring itu, tak asing lagi. Salsa dan Jo menghampirinya yang baru saja turun seraya merapikan kembali seragam sekolahnya.

"Gue ga tuli, gausah teriak berisik" ketus Rara dari mulutnya.

"Pagi-pagi udah kesel mulu lo, pms ya?" Salsa dengan banyak pertanyaan-pertanyaan tak berbobotnya.

Mereka bertiga berjalan bersama menuju kearah kelas yang harus menaiki beberapa anak tangga karena berada di lantai dua.

"MINGGIR AIR PANAS!" suara playboy kelas kakap alias Bryan menggema, dia dan teman-temannya termasuk Kenzie tampak terburu-buru entah apa alasannya.

Hingga bahu seseorang menyenggol Rara, kondisinya yang kurang sehat hari ini membuatnya terhuyung namun untung saja dengan sigap tangannya meraih peganggan tangga.

"Punya mata ga sih!" geramnya.

Orang itu Devan, pria paling pendiam diantara yang lain. Kenzie dan teman-temannya menghentikan langkah mereka setelah mendengar cercaan Rara.

"Sorry" jawab Devan.

"Lo kira sekolah kakek lo ya?!" mungkin benar perkiraan Salsa, sepertinya Rara kedatangan tamu bulanannya yang membuat dirinya dengan mudah terpancing emosi.

"Ck, repot banget ya jadi cewe?" Ken mulai bersuara.

"Lo gausah iku—"

"Why? lo cidera? oke tulis no rekening lo, biar gue ganti rugi" Kenzie memberikan kertas dan bolpoin milik Rara yang sempat berada padanya kemarin, seperti merasakan dejavu saat Rara menabrak dirinya.

Tak kunjung mendapat uluran tangan atau balasan dari lawa bicaranya, Kenzie melempar dua benda yang berada di tangannya itu.

"Lemot lo, gue sibuk" pria itu pergi meninggalkan kerumunan disana yang kemudian disusul oleh Zidan.

Melihat perilaku kaptennya yang tak ada sopan-sopannya sama sekali, Putra mengambil benda itu dan memberikannya kepada Salsa.

"Sorry ya Ken emang gitu"

HOPETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang