Bukan tentang dia yang hanya mencintai sepihak. Ini hanya tentang bagaimana rumitnya seorang Logaritma. Di saat Kyra merasa bahwa hanya dirinya saja yang berjuang, dan di saat sebuah tindakan tak memiliki arti sama sekali jika tidak di sama ratakan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🏀LOGARITMA 🏀
Dengan jantung yang berdebar, Keyra melangkah penuh keyakinan memebelah kerumunan siswa yang berlalu lalang di lorong sekolah. Pandangannya lurus ke depan berharap menemukan orang yang saat ini di carinya. Setelah semalaman penuh Keyra berpikir keras dan mengakumulasi setiap kemungkinan yang akan terjadi nantinya, Keyra mantap untuk memilih keluar dari zona nyaman. Lagi pula tidak serumit itu. Dia dan Logaritma tidak memiliki rekam jejak seperti masa lalu yang sulit. Mungkin.
“Ritma!” panggil keyra setengah berteriak. Mengejar Ritma dengan kaki pendeknya. Langsung saja ia menarik lengan pria itu sebelum Ritma tidak menyari keberadaannya.
Ritma melirik tangan Keyra yang melingkar di lengannya. “Apa?” tanyanya. Saat melihat langsung mata Keyra. Dan itu membuat jantung si pemilik mata hampir lompat keluar.
“Gue butuh ngomong sama lo.”
“Yaudah buruan cepet.”
“Yaa gak disini dong Ma.”
“Gue buru-buru mau ke kantin. Cacing di perut gue udah war. Kalau gak penting mending nanti aja deh.”
Kenapa Ritma teramat sangat menyebalkan? Keyra menghela nafas berat.
“Gue mau kita tetep lanjut.”
Ritma diam dan hanya melihat Keyra. Membuat gadis itu rasanya ingin pingsan dengan sejuta rasa penasaran.
“Yaudah ayo ikut gue.”
Tanpa dapat di perkirakan, Ritma menautkan jari-jari tangan mereka. Menarik keyra agar mengikuti langkahnya. Karena hari ini bertepatan dengan diesnatalis sekolah mereka, suasana seisi sekolah ramai dengan para siswa yang menanti acara lomba antar kelas serta kegiatan lainnya.
Alhasil Ritma membawa gadis itu kembali masuk ke dalam kelasnya. Hanya ada mereka berdua disana.
Keyra memilih tetap berdiri dan Ritma memilih duduk di bangku terdepan. Posisinya saat ini, keyra berdiri di depan Ritma dan di tengah-tengah mereka ada meja kayu yang memberi jarak.
“Lo mau ngomong apa?”
“Emmm.. soal kemaren,-“ Keyra menjeda ucapannya. “Gue setuju buat lanjut.”
Sudut alis Ritma terangkat. “Lanjut buat apa?”
“Buat nerusin hubungan kita.”
“Lo yakin?”
“Gue yakin.” Jawab Keyra mantap.
Ritma menampilkan smirk di wajah tampannya. Dia berdiri lalu mencodongkan tubuhnya kearah Keyra. Gadis itu spontan sedikit mundur.
“Syaratnya. Lo gak boleh memutuskan hubungan ini sepihak. Hanya gue yang boleh putusin lo.” Suara berat Ritma mengalun di antara sepi yang menyapa.