BAB 4 [ALASAN DAN KEPUTUSAN]

71 6 2
                                        

🏀LOGARITMA 🏀

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🏀LOGARITMA 🏀

“Ritma, bisa ngobrol sebentar gak?” ujar keyra setengah berteriak, mencodongkan wajahnya kesamping agar Ritma bisa mendengarnya.

Saat ini, Logaritma dan Keyra sedang berada di atas motor perjalanan menuju rumah Keyra.  Ritma mengiyakan permintaan Keyra. Ia pun merubah jalur lajunya berbelok ke kanan. Seperti permintaan Keyra, Ritma memberhentikan motor Scoopy nya di sebuah taman kecil yang hampir dekat dengan rumah Keyra.

Keyra turun dan berjalan terlebih dahulu. Memilih duduk di bangku taman yang dekat dengan kolam kecil. Ritma berjalan di belakangnya. Dan ia duduk tidak terlalu jauh dari Keyra.

Tak ingin banyak membuang waktu, Keyra langsung pada inti pembicaraan yang sudah cukup matang menghantui pikirannya.

“Gue mau lo jujur Ma. Tujuan lo ngajak gue jadian apa? Gue janji gak akan marah.” Keyra memperlihatkan tatapan sayu penuh harapnya.

Ritma menatap wajah Keyra beberapa detik, memejamkan matanya, hingga kemudian menghela panjang nafasnya.

“Jadi, gue ngajak jadian elu itu cuman karena iseng.”

Keyra membelalakkan matanya tak percaya. Cuman iseng? Seketika darah Keyra seolah mendidih. Dia langsung berdiri dari duduknya dan siap memaki  Ritma.

“Eh!! Hidup gue itu jauh lebih dari berharga dari keisengan lo!!”

“Okey untuk itu gue salah. Tapi kenapa lu langsung setuju saat gue ajak pacaran.”

Keyra mengedipkan mata beberapa kali. Bingung harus berkometar apa.

“Yaa… karena…” Keyra menggaruk lehernya. Males banget jika harus jujur dia mulai sedikit menyukai Ritma.

Melihat mata Ritma yang terus memperhatikan dirinya, membuat Keyra tak berdaya. Wajah tanpa ekspresi Logaritma sangat meresahkan untuk kerja jantungnya saat ini.

“Lo boleh pikirin ini baik-baik. Setelah lo tau alasan gue, lo berhak mau lanjutin ini atau gak. Gue tunggu keputusan lo sampai besok. Yaudah gue mau cabut. Lo masih mau ikut gue atau gak?” Ritma berdiri menjulang tinggi di hadapan Keyra yang duduk menengadah melihatnya.

“Enggak. Gue bisa balik sendiri.” Tolak Keyra. Mana mungkin dia masih mau diantar oleh Ritma setelah penjelasan pria itu.

“Yaudah.” Kata Ritma cuek dan langsung pergi meninggalkan Keyra.

Raut wajah Keyra berubah masam. Panas dari terik matahari semakin membuat wajahnya memerah. Ia merasa seperti semua kekesalannya terhadap Logaritma semakin menumpuk dan harus egera di luapkan. Keyra mengambil ponsel dari tas ranselnya. Menghubungi sang kakak untuk menjemputnya.

Untuk sebuah perasaan yang kosong. Untuk rasa sepi yang masih bersemayam dalam diri. Dan untuk rasa sakit yang masih terus mengisi. Mungkin tidak jika Ritma menggambarkan perasaannya seperti itu. Laju motornya berhenti di depan rumah dengan pagar besi yang sudah karatan.

LOGARITMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang