PROLOG

206 50 14
                                        

BIASAKAN UNTUK VOTE SEBELUM BACA!

LOOKING FOR MY HUSBAND UPDATE SETIAP HARI YA.

                 ~TANDAI TYPO~

" Saya terima nikah dan kawinnya Miya Lucyana  binti almarhum Santoso dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar seratus juta rupiah di bayar tunai!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

" Saya terima nikah dan kawinnya Miya Lucyana  binti almarhum Santoso dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar seratus juta rupiah di bayar tunai!"

" Bagaimana para saksi?"
 
" SAH!!!... "
        
Bu Ratih tersenyum sembari menatap putrinya yang sudah 2 hari  terbaring tak sadarkan diri di Ranjang rumah sakit. Air mata beliau menetes. Meski begitu Bu Ratih merasa lega karena putrinya kini sudah ada yang menjaga.
        
" Terimakasih ya nak, Mama titip Miya sama kamu, Mama percaya kamu bisa menjaganya dengan baik, Mama sangat berharap sama kamu nak, kamu tahu sendiri mama tidak tahu sampai kapan mama bisa bertahan, Namun satu hal pasti, jika nanti terjadi sesuatu sama mama, tolong minta dokter untuk mengambil jantung mama buat Miya!" Ucap Bu Ratih  dengan sorot mata penuh harap.

Perlu di ketahui memang beginilah adanya nasib yang menimpa keluarga beliau, dari mulai suaminya yang bangkrut, aset disita untuk membayar hutang suaminya, dirinya yang di diagnosis terkena kanker stadium akhir, serta putrinya Miya yang juga memiliki penyakit jantung dan harus segera di lakukan transplantasi secepatnya.
         
"Insyaallah, Aku pasti jagain Miya. mama gak usah khawatir, dan mama juga harus yakin mama pasti bisa bertahan, dan Miya juga pasti akan sembuh, aku bakal berusaha buat cari donor jantung buat Miya secepatnya"

Bu Ratih mengangguk" Mama percaya sama kamu nak" ujar beliau mengelus pipi menantunya. perhatiannya kini beralih kepada Miya. Beliau mencium wajah putrinya itu berulang kali, dengan air mata terus bercucuran tanpa henti. Tiba-tiba darah mengalir dari hidung beliau setelah itu tubuhnya ambruk, dengungan keras terdengar di telinga beliau beserta rasa sakit tiada Tara melanda.

Namun, bibir beliau tersenyum, mungkin memang sudah waktunya.

" Ma! Mama kenapa? Mama harus bertahan!"

Bu Ratih menggenggam tangan menantunya yang kini tengah menopang tubuhnya.
        
"Mama pamit ya nak. Mama rasa ini memang sudah waktunya, mama sudah tidak sanggup nak, tolong jaga Miya, tolong sayangi dia, dia sudah tidak punya siapa- siapa lagi selain kamu suaminya"

" Insyaallah, aku pasti akan jaga Miya dengan baik"

" Satu hal lagi, to-long laksanakan wasiat Mama, dan berikan dua pucuk surat ini buat Miya" ujar beliau menyodorkan dua lembar amplop berisi surat, yang diam-diam sudah lama beliau siapkan mengingat dirinya tak tahu kapan sang pencipta akan memanggilnya.

Pemuda itu mengangguk sembari meneteskan air mata karena tak kuasa menyaksikan mertuanya yang sudah tidak berdaya di pangkuannya. Meski Miya tidak tahu, namun Bu Ratih baginya sudah seperti ibu kandungnya sendiri yang selalu menyemangati dan mendukungnya selama ini.

Bu Ratih tersenyum, setelah itu tiba-tiba tangan beliau langsung terkulai lemas, dokter pun langsung bergegas memeriksa keadaan beliau, namun takdir berkata lain, beliau telah meninggal dunia.

" Inalillahi wainnailaihi Rojiun.."

                   🍂🍂🍁🍂🍂

2 mingu kemudian.

           
Mata Miya perlahan terbuka. Netranya memperhatikan sekeliling ruangan yang nampak sangat asing baginya. Begitu melihat selang infus, monitor, dan juga selang oksigen di hidungnya, Miya sadar ia tengah berada di dalam kamar rumah sakit,Namun entah mengapa tak ada siapapun disana.Tak ada ibunya yang  senantiasa duduk menunggu di sampingnya seperti biasa. dalam hati Miya bertanya kemana ibunya pergi?
        
" Alhamdulillah,akhirnya kamu sadar juga Miya!" Ucap seorang dokter yang tiba-tiba masuk.
        
" Dokter Fauzi. Kenapa Saya disini dok?" Tanya Miya dengan suara yang masih sedikit serak, dan juga berat.
        
" Waktu itu kamu pingsan disekolah. ibumu yang membawamu kesini, setelah diperiksa ternyata penyakitmu semakin parah, yang mana mengharuskan untuk dilakukannya tindakan operasi sesegera mungkin.Meski sempat mengalami koma, saya sangat senang karena akhirnya kamu bisa kembali sadar!"Jelas dokter Fauzi dengan sorot bahagia.
        
"Memangnya sudah berapa lama saya disini dok?"
         
" Sekitar dua Minggu!" Jawab dokter Fauzi. Sementara Miya hanya mengangguk-angguk.
         
" Oh iya dok,mama saya mana?" Tanya Mia begitu sadar tak mendapati ibunya sedari tadi.
          
Dokter Fauzi nampak menghela nafas cukup dalam,Inilah pertanyaan yang tak ingin beliau dengar. Wajahnya kini berubah sendu. Dengan berat hati beliau mengulurkan dua buah surat ke tangan Miya.
          
" Ibumu sudah meninggal dua Minggu lalu, dan beliau menitipkan dua surat ini buat mu" Ucap dokter Fauzi lirih.

Deg! Bagai tersambar petir rasanya seperti mimpi buruk, ini jelas tidak mungkin ibunya sudah meninggal. Miya menerima surat itu dengan tangan bergetar, sementara matanya terus meneteskan airmata.Tanpa mengulur-ulur waktu Miya langsung membukanya.

Teruntuk putriku Miya

Maafkan mama yang tak bisa menepati janji untuk selalu berada di sampingmu, Mama tak bisa kehilangan mu, Mama tak rela kamu pergi lebih dulu,Mama Takan membiarkanmu mati. apalagi akhir-akhir ini mama merasa hidup mama sudah tidak lama lagi, jadi mama sudah meminta dokter untuk mengambil jantung mama buatmu jika nanti terjadi sesuatu pada mama.

Dengan kamu membaca surat ini. Itu berarti mama sudah tidak ada lagi di dunia ini. Mama minta maaf.

Meski begitu,kamu tidak perlu hawatir dengan hidupmu kelak nak.Karena mama sudah menikahkan kamu dengan putra sahabat mama. Dia yang akan menjaga dan memenuhi kebutuhanmu mulai sekarang

Setelah kamu sembuh nanti. Kamu harus bersekolah di SMA Pramuka Mahendra suamimu yang memintamu untuk pindah kesana.Karena dia juga bersekolah disana. Mama sudah mengurus semuanya

Jangan sedih ya nak.Karena mama juga bisa merasakannya. Karena sekarang jantung mama sudah menyatu dalam hidupmu. Setiap detak jantungmu adakah detak jantung mama, Mama akan selalu ada di sampingmu. Berjanjilah untuk terus bahagia dan selalu semangat menjalani kehidupanmu demi mama

Love you sayang

Tertanda.

Ratih.H.S

           
Miya meremas surat itu. Hatinya hancur,Air matanya mengalir seketika tanpa bisa Miya kontrol.
           
" Tidaaak!!!  Mama!!!" Pekik Miya  keras. Miya memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa sesak.
          
"Kenapa ma? Kenapa semua ini harus terjadi!" Miya terus menyalahkan dirinya sendiri.  Mengapa di detik-detik terakhir mamanya dia malah jatuh pingsan dan tidak bisa menemaninya.

Dokter Fauzi yang menyaksikan hal itu hanya bisa menenangkan Miya, dengan cara memeluk, serta mengelus pundak gadis itu, Miya terus menangis,begitu juga dengan dokter Fauzi yang ikut menitikan air mata.

                      🍂🍂🍁🍂🍂

Kalo kalian suka sama cerita ini tolong vote 🌟 ya.... Jangan lupa komentarnya....

Oh ya guys...cerita ini tuh cuma fiktif belaka asli hasil pemikiran ku nggak ada unsur buat menyinggung atau mempermalukan seseorang ya guys ya...

Dan cerita ini aku apdet di wattpad aja nggak ada di situs lain... Plis...NO PLAGIAT!!! DOSA!!!!

Looking For my husband [ ON GOING ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang