Sebelum mendonorkan jantungnya untuk Miya.Ratih sempat menulis 2 buah surat yang isinya benar benar mengejutkan, karena ternyata Ratih sudah menikah kan Miya dengan putra dari sahabat masa kecilnya.Namun Miya tidak mengetahui siapa pemuda itu?
Lalu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sepulang sekolah, Miya berjalan santai di koridor menuju parkiran, Namun ditengah jalan tak sengaja Miya di tabrak oleh seorang siswi berbadan gempal yang tengah berlari-lari dengan temannya.
Miya terhuyung ke belakang hampir saja tubuhnya menyentuh tanah. Untungnya ada seseorang yang dengan sigap menopang tubuhnya. Miya mendongak menatap siapa orang yang telah menolongnya.
Begitu mereka bertatapan mata Miya membulat kaget. Wow! Hanya satu kata yang terpikirkan dibenak miya.Tampan!Sebenarnya berapa jumlah pangeran disekolah ini? Mengapa begitu banyak cowok tampan bertebaran?
" Eh,sorry!" Ucap cowok itu.
" Maaf juga" Ujar Miya sembari menunduk malu.
" Lo nggak apa apa kan?" Tanya cowok itu yang ntah siapa namanya. Miya hanya menjawab dengan anggukan.
" Mm-makasih ya.." Ucap Miya. Cowok itu tersenyum,Senyum yang membuat siapapun merinding melihatnya.
"ngomong ngomong,kok gue baru lihat Lo ya disekolah ini? Lo anak baru?" Tanya cowok itu dengan tatapan heran,memperhatikan wajah Miya yang nampak asing.
" I-iya,gue anak baru" Ujar Miya sedikit terbata. Cowok itu mengangguk paham.
" Ok,kalo gitu kenalin gue Miko Adiwijaya. Lo panggil aja Miko!" Ujar cowok yang ternyata bernama Miko itu yang lagi-lagi disertai sunggingan senyum.Miya sedikit terkejut mendengar nama cowok di depannya ini. Oh,jadi ini yang namanya Miko? Batin Miya berujar.
" iya,gue Miya" Timpal Miya sembari tersenyum.
" Ya udah,gue duluan ya?" Pamit Miko beranjak pergi.Miya mengangguk.
" Iya hati-hati" Pesan Miya. Miko mengacungkan ibu jarinya tanpa menoleh. Miya tersenyum kecil.
🍂🍂🍁🍂🍂
Miya duduk termenung ditepi kasur. Cewek itu menghela nafas dalam. Matanya sedikit berkabut menandakan bahwa dia sedang sedih.
Saat ini Miya memang tengah merindukan ibunya. Miya merasa hidupnya benar-benar sepi, dan hampa. Dia tak punya siapa-siapa. Yang Miya tahu,dia hanya memiliki seorang suami yang ntah siapa dan dimana dia sekarang, Ntah suaminya itu menganggapnya atau tidak, Miya tidak tahu.
Yang jelas yang Miya rasakan saat ini adalah kebingungan? Bukankah dalam surat wasiat ibunya Suaminya itu juga bersekolah di SMA Pramuka Mahendra.Lalu kenapa mereka belum bertemu,Dan kenapa dia tidak menemuinya.
Miya kembali menghela nafas panjang. Lalu menjatuhkan tubuh di atas kasur. Air matanya mengalir. "Mama, Ayah,Miya rindu!" Ungkap Miya penuh pilu. Miya memeluk bingkai foto ibu dan ayahnya.