Tentang Hari Pertama

345 48 1
                                        

Usai prosesi pembuatan kesepakatan akan status keduanya, Tay dan New pun lekas kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing. Tentu saja Tay sempat berusaha untuk menemani New di apartemennya, dan tentu saja New menolak dengan keras. Alasannya: bosen liat muka Tay terus. Padahal sesungguhnya New masih belum terbiasa dengan status yang baru, apalagi ditambah wajahnya yang seringkali memanas saat tidak sengaja bertegur tatap dengan mata Tay. Tentu juga Tay menyadari gerak-gerik yang baru ini, baginya New yang gemar tersipu malu ini sangat manis di matanya. 

Maka selanjutnya Tay harus pasrah pulang dengan syarat ia akan kembali ke apartement New esok harinya. Bagi Tay, jarak waktu menuju pertemuan selanjutnya dengan New terasa sangat menyiksa. Tay yang biasanya hanya mandi kemudian tertidur, kini, di jumat malam usai seharian bekerja, ia memilih untuk membereskan rumahnya. Membersihkan kerak-kerak di kamar mandi, membersihkan debu di kaca jendela, hingga menggosok satu-satu koleksi jam tangannya. Ingat, ini masih malam hari. Tentu saja jika New dapat ia hubungi, ia akan menghabiskan berjam-jam mengobrol dengan si manis. Namun nampaknya New masih enggan berhubungan dengan Tay walau lewat ponsel, masih malu katanya. Tentu saja Tay pasrah. Toh besok ketemu, tenang saja. 

Sabtu pagi di hari selanjutnya, tentu saja seorang Tay Tawan semakin aneh. Bangun pagi di akhir pekan agaknya akan menjadi pilihan terakhir bagi Tay jika ia harus memilih. Tapi entah mengapa sejak pagi ia sudah bangun menyiapkan sarapannya sendiri, tak lupa secangkir kopi, dan lilin aromaterapi. Padahal perubahan dalam diri Tay hanya statusnya saja, tapi entah mengapa hidupnya seolah berubah menjadi lebih tertata, dan mewah. Baru satu hari pun ...

Setelah puas dengan sarapannya, coba tebak apa yang dilakukan Tay Tawan. Betul, tentu saja beliau sibuk mencari pakaian yang akan ia kenakan pada sore nanti. Padahal acara mereka nanti hanya acara biasa di apartement, tidak ada aturan berbusana apapun, wong biasanya Tay pakai kaos tak berlengan dan celana kolornya. Kenapa sekarang tiba-tiba menjadi modis?

Sementara itu di apartement yang satunya. Usai diantar oleh Tay, New segera membersihkan dirinya. Bukan, bukan mandi yang mandi pakai sabun itu. Ini mandi yang agak berlebihan. Menyingkirkan sel kulit mati, berendam dengan wewangian mahal yang biasanya hanya jadi pajangan, tentu saja maskeran tak luput dari kegiatannya malam itu. Bingung. Ini orang habis jadian atau habis mencakul sawah?

"Gue harus mandi sampe wangi biar tidurnya enak", kilahnya. Tapi sayang seribu sayang, sudah berbaring dengan sempurna selama dua jam namun matanya tak menutup jua. Agaknya kejadian tadi sore masih seringkali melintas di pikirannya dan membuat dadanya berdegup kencang, lagi. "Kalo kaya gini gimana tidurnya buset", untungnya setengah jam kemudian menyerah juga matanya akan kantuk. 

New terbangun di pagi hari dengan biasa saja. Tidak ada yang berbeda, tidak ada yang istimewa. Sampai dirinya teringat bahwa ia kini memiliki seorang kekasih. "Terbangun tanpa kejombloan", pongahnya. Maka kemudian ia memulai harinya dengan normal. Menyiapkan sarapan lalu membersihkan apartementnya yang memang tidak terlalu kotor. Tidak perlu cukup lama hingga ia akhirnya mengistirahatkan diri di sofa sambil menonton televisi yang menampilkan apa saja. Tidak terlalu menarik, tapi cukup untuk membuat paginya terasa menyenangkan. Sampai kemudian ia tersadar waktu sudah menunjukan pukul 3 sore. Sebentar lagi mungkin Tay akan segera datang ke tempatnya. Maka ia pun memutuskan untuk membersihkan badannya dan bersiap-siap menyambut sang tamu.

Tay datang saat New masih mematut dirinya di depan kaca. Saat terdengar pintu depan yang terbuka ia pun segera bergegas mendatangi tamunya. Senyumnya terukir begitu saja, dilihatnya seorang Tay Tawan yang kini pacarnya sedang berdiri di depannya. Hanya berdiri. Terlihat usaha berlebih yang dilakukan Tay dalam memilih pakaiannya. Gaya pakaian sehari-harinya namun cukup rapi dan warnanya yang senada. Kegiatan saling memandang itu pun terputus dengan suara New yang memecah keheningan, "gaya banget Pak, mau kemana?", godanya. "Mau ketemu pacar nih kangen seharian gak ada kabarnya", Tay tak ingin kalah. Lalu kemudian keduanya duduk di sofa di ruangan tersebut, tak lupa dengan tubuh mereka yang saling berdekatan nan saling menumpukan bobot tubuhnya kepada orang di sampingnya.

"Rasanya gak chatan seharian gimana?", ini New

"Ya gitu, agak kesel soalnya aku penasaran kamu makan apa pagi tadi", kalau ini Tay

"Oh jadi kamu cuma penasaran sama makanan aku?"

"Aku juga penasaran tidur kamu nyenyak gak"

"Terus?"

"ya pokoknya aku penasaran aja kamu ngapain seharian ini, kenapa sih nanya-nanya?"

"Soalnya aku gak chatan sama kamu kangen, takutnya aku doang yang kangen"

"YA KANGEN DONG SAYANG YAKALI"

"Kepaksa amat"

"YEUH kangen dong, kangen banget aku sama New Thitipoom"

"ok alay"

Kemudian obrolan mereka berlanjut membahas kegiatan mereka seharian ini.

Sore itu berjalan dengan cepat, keduanya kemudian memutuskan untuk makan malam. Lalu menonton beberapa film animasi hingga kantuk mulai menyerang keduanya.

"Ayo bobok", ini New

"Ayo, aku mandi lagi kali ya"

"Ya terserah ntar pake baju aku aja"

Saat Tay keluar dari kamar mandi, dilihatnya New sedang berbaring di tempat tidurnya dengan mata setengah terbuka. Agaknya sang kantuk sudah gencar menyerang, namun ia sedang berusaha bertahan. "Lho kok masih belum tidur?", tanya Tay. "Hooh, mau nungguin kamu dulu, ayo tidur bareng", jawab New diselingi menguap di tengah kalimatnya. Tentu saja senyum Tay mengembang dengan begitu saja, New nampak sangat menggemaskan sekarang. "Iya ayo tidur, nih aku baring. Terus ngapain?", tanya Tay penuh antisipasi. "Peluk lha apalagi, ayo peluk aku", jawab New sarat dengan ketidaksabaran. "YA AMPUN GEMES AMAT PACAR GUE, ayo sini", Tay pun segera menarik New ke dalam dekapannya. Lagi. Seperti malam-malam lain yang pernah mereka bagi bersama.

Tay terbangun lebih dulu pagi itu. Biasanya, yang bangun lebih dulu memiliki kewajiban tidak tertulis untuk mencari sarapan. Namun agaknya pagi itu, Tay memiliki rencana lain. Di lihatnya lamat-lamat wajah putih lelaki di depannya. 'Aduh gemes boleh cium gak sih dikit aja', ucapnya dalam hati. 'Aduh tapi harus izin dulu ya kan harus ada konsen', masih ucapan hatinya. 'ADUH GAK TAHAN ya udah deh cium dikit aja', mantapnya. Lalu kemudian Tay mengecup kecil hidung New. Tak lama, hanya sepersekian detik. Deg-degan mak gak mau lebih lama soalnya gak ada konsen katanya. Tentu saja seorang Tay Tawan habis melakukan hal tersebut auto heboh, membalikan badannya kanan kiri tak lupa menutup mulutnya yang ingin berteriak, yang kemudian membangunkan pangeran tidur di sampingnya, "ADUH APASIH HEBOH AMAT PAGI-PAGI???, semprot sang pangeran. Kasian apa salah beliau hingga tidurnya terganggu.

Tay Tawan yang akhirnya tersadar telah membangunkan New pun, semakin heboh, "NEW MAAF AKU TADI CIUM HIDUNG KAMU ABISNYA GEMES TAPI MAAF AKU GAK SEMPET MINTA IZIN KAMU SOALNYA KAMU MASIH TIDUR". New bingung,"YA GAK USAH TERIAK BISA DONG?, "bisa", cicit Tay.

"Untung udah siang kalo masih pagi udah gue getok lo Tay Tawan. Makasih ya kamu udah kepikiran harus izin dulu buat nyium aku, nah mulai sekarang aku kasih izin deh buat kamu cium aku kapan pun di mana pun, tapi ya agak mikir lha jangan pas di kantor juga. OK?"

"HIHHHH AYANG KAMU TUH BAIK BANGET HUEEE sini cium, morning kiss"

"Gak dulu", ujar New sambil berlalu ke kamar mandi. 'Lucu amat punya pacar', gumam New.

Why is life this good? Is it because I have you at my side?

- Morvasu, 2020

INURE - TAYNEWCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang