Pada hari selanjutnya, hari setelah perjalanan luar kota Tay berakhir, kalender menunjukan hari senin. Tentu saja Tay yang telah bekerja habis-habisan pada beberapa hari sebelumnya memiliki waktu yang luang di pekan ini. Matanya baru terbuka saat jam sudah menunjuk angka 10, perut kosong bahkan hati pun ikut kosong diakibatkan merindukan sang kekasih. Maka dengan semangat kerinduan yang membara ini, tubuhnya segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Bersiap-siap alakadarnya lalu melajukan mobilnya ke gedung kantornya sendiri. Sesampainya di tujuan, dibukanya ponsel yang terlupakan sejak ia bangun. Menghubungi sang kekasih untuk makan siang bersama. Namun sepertinya Tuan Tay Tawan harus menelan pil pahit. New menolak ajakannya.
Tay: AYOOO makan siang bareng
New: heh dah bangun kamu
Tay: udah inii makanya laper ayo makan
New: Aduh maaf aku siang ini makan burger doang nih buru-buru mau meeting yang banyak hari ini. Kamu makan sendiri aja ya, makan yang bener tapi!
Tay: ya ampun aku disuruh makan bener sama orang yang makannya gak bener
New: ish malah dibalikin, dah ah sana aku mau meeting byee
Kemudian, Tay menyadari kebodohannya. Kenapa dia tidak mengajak New makan siang sebelum mandi .... kan sayang ....
Walau ajakan ditolak, namun tentu saja permintaan sang perut tak bisa ditolak. Ia pun menghubungi teman-temannya yang sekiranya berada di kantor untuk makan bersama. Hore, perut sudah terisi. Lalu selanjutnya apa? tentu saja sang pengangguran yang masih merindukan sang pujaan pun berniat untuk mengintip apa yang sedang dilakukan sang kekasih. "Buset meeting sama siapa tuh? bule ya?" , gumamnya setelah melihat ruangan kaca yang dipenuhi orang-orang yang sedang berdiskusi dengan kekasihnya. "Masih lama deh kayaknya", gumamnya lagi, sambil melangkahkan kaki menuju keluar gedung. "Jajan yang manis-manis untuk si manis", ucapnya dengan riang sambil menaiki mobilnya. Tay agaknya harus mengulur waktu untuk menemui kekasihnya, ia pun memutuskan untuk berkeliling kota sebentar memburu beberapa makanan lucu dan manis sebagai hantaran untuk kekasihnya.
Macaroon? 5 box, 1 box isi 12 buah.
Donat? 10 box, 1 box isi 6 buah.
Dessert box? 15 aja kalo kebanyakan susah bawanya.
Plus, air mineral botolan 5 kardus, karena hidup harus seimbang.
Setelah puas dengan buruannya Tay pun mengarahkan mobilnya kembali ke kantornya. Tentu saja Tay tidak sekuat itu. Ia harus meminta tolong pada dua orang satpam untuk membawa barang bawaannya. "Eh manis, udah selesai meetingnya?", sapa Tay kepada New yang sedang berdiri melongo di depan pintu ruangannya. "Kamu ngapain Tay?", tanya New masih dengan mata membulatnya. Tak menghiraukan pertanyaan New, ia melangkah dengan pasti memasuki ruangan New diikuti dua orang satpam di belakangnya. "Pak taro di sini aja ya, makasih, nanti kopinya ambil di tempat yang biasa ya, udah saya pesenin, makasih lagi Pak", ucapnya kepada dua orang satpam, yang kini telah pergi meninggalkan ruangan New.
Menyadari New yang masih terdiam di ambang pintu, Tay pun menarik tubuh kekasihnya ke dalam ruangan. Di tutupnya pintu, lalu ditariknya New ke dalam pelukannya, "kangen kamu banget huhuhuhu", yang dipeluk pun tersenyum hangat. "Iya aku juga kangen banget, kamu udah gak capek emang?", tanya yang dipeluk yang masih bertahan di posisinya. "Capek aku kalah sama mau ketemu kamu", ujar yang memeluk yang dibalas dengan dilepaskannya pelukannya oleh New. "Gombal banget males. Terus ini maksudnya apa ya bawa-bawa segala macem? kamu mau pulang kampung Tay?", tanya New. "Manis-manis untuk si manis ini judulnya. Kamu butuh gula untuk menyokong meeting kamu yang banyak itu, New. Sama bagi-bagi juga buat anak-anak lain, kan yang meeting bukan kamu doang", jelas Tay.
KAMU SEDANG MEMBACA
INURE - TAYNEW
FanfictionThe lightest #taynew fanfiction you'll ever read. in·ure en·ure (ĭn-yo͝or′) To habituate to something undesirable, especially by prolonged subjection; accustom #1 Taynew - 22/04/2021
